Friday, December 15, 2017

Pergi

Aku dan segala kehodohanku
Tidak berharap tertampal di mana-mana sudut muka bumi nyata
Cukup sekadar di cakap-cakap
Atau ilusi alam maya.

Aku dan segala kehodohanku
Biarkan sirna.

Monday, December 11, 2017

Iring

Tiada kudratku untuk berlama-lama di jalanan, melayan kesepian.
Jika sepi anggarnya harta,
Maka akulah yang paling kaya-
Dilanda cucuran air mata.

Bah datang mengelus untaian minda-minda yang menelusup
Hilang selalu, hilang terlalu
Dipuji tandu yang meliuk,
Aku malu.

Ke mana kan ku usung sunyi, ke mana.

Thursday, December 7, 2017

Meramal Tebing

Deru hatiku deru
Maju derapku maju

Bintik-bintik bintang
Rintik-rintik tenang
Biarkanlah
Yang ada, rasa
Melangit kupulang semua
Sisa-sisa canda
Tegur sapa landa

Adakah engkau akan tinggal di sini denganku?

Ketawa.

Wednesday, November 22, 2017

Satu.

Kerana aku lebih sering mengantuk daripada benar-benar sedar. Kerana aku lebih kerap letih daripada sasa. Kerana aku...ingin meraikan keseribusatuan rasa yang tercantumkulum.

Di sini aku wujudkan, #puisikantuk.

Seperti biasanya, dariku untukku dan cuma berlegar di semesta seorang aku saja.

#1

Ada suara-suara dalam bahasa negeri matahari terbit
Bercicip terus, sulit
Aku ingin meneruskan cita-cita mata
Dan harap segala nusa
Aku ingin rebah,
Di sepenuh hangat pelukanmu
Namun rantaian bakal jadi hari esok
Enggan melepaskan aku.

Mimpi,
Tunggu dulu.

Beradu belum temu,
Langkahku sendu kearahmu.

Akan kumatikan segala kumat-kamit dunia, sebentar lagi cuma.

Bukit Mahkota,
2349H 221117

Thursday, November 16, 2017

Satu Dina

Aku sudah membeli senaskhah buku nota yang paling sempurna untukku coretkan kisah-kisah sendu dan tangis kita, diri.

Helaian orennya kelihatan begitu ampuh dan mantap sekali. Kata penjualnya, amoi comel manis manja kelahiran Ipoh itu, halamannya takkan ditembusi hatta dek dakwat marker permanent sekalipun. Aku keliru apakah aku tertarik dengan fakta mungkin ia juga kalis peluru dan airmata, atau senyum bermadu amoi Ipoh mali, atau coretan kakak Emoqwin di muka hadapannya. Harganya yang lima belas ringgit itu terasa sungguh berbaloi dengan kualiti dan rupanya yang acah-acah hipster itu. Duit berganti tangan, buku kini kubeban.

Beban untuk cita-cita satu puisi, satu hari.

Tapi sehingga kini, satu hari sudah kelihatan seperti "suatu hari nanti."

Betapa pendustanya engkau, hati, bila engkau gelarkan dirimu pemuisi, tapi kata kau jauhi,

Kata kau jauhi.

Menangis mengongoi buku nota berlaman jingga di dalam dashboard kereta, siapa yang tahu?

Satu dina, satu puisi.


*dina - hari dalam bahasa Kannada

Tuesday, November 14, 2017

Takziah-(2)

Dan celakalah insan yang masanya terbuang tanpa mengingati Tuhan yang menganugerahkan setiap titis nafas, dan keringatnya yang terlepas,

...sia-sia, sia-sia

Untuk apa bercerita muluk, sayang. Langkahmu perlahan, hatimu rentan.
Langkahmu perlahan, hatimu rentan.
Langkahmu perlahan, hatimu...

Ingatlah Dia, Tuhan.

Dia akan membasuh jiwamu yang rusuh dengan segenap tangis berselusuh.
Rapuh, tiadanya ampuh
Engkau meniti tiap-tiap pecah kaca tanpa tawa yang beritma-
Perit,
Perit,

Sakit!

Tuhan, aku berdosa. Aku inginkan manusia.

Lupanya aku padaMu yang akan senantiasa ada, walau aku dipersia, walau aku dinista.

Hanya Engkau, Tuhan.

Takziah diriku, semoga tertemukan...horizon sebuah ampun.

Friday, November 10, 2017

Takziah

Kadang-kadang aku bertanyakan pada bintang,
Mengapa dia datang
Bikin malamku terang
Malahan asa kian benderang

Tiba-tiba bintang pergi
Dalam kesayupan, berbisik kembali-
Bintang tidaklah abadi, bisa jua ia mati.

Papan Kait

Setiap urat benang yang kukait adalah simpul-simpul hidup-
Luka, tawa, kecewa, dendam sukma
Membikin lagu dan prosa di atas kanvas putih yang kini berbagai warna cerita
Kisah-gelisah kita dan dia

Keseringkali aku menoleh dan berkalih lagi-
Bertambah tona jahit yang termateri
Pinta diuji, ditatapi
Bersedih usah, tenanglah
Jika koyaknya ia, terangkatlah
Segala kenang-kenang, takkan bisa lapang ruang engkau yang senantiasa bingit
Diusik warna dan kata jelira, sempit diasak bisik suasana...

Marilah beradu dulu, pinggirkan durja.

Tuesday, October 17, 2017

Murung

Aku telah lama hilang, aku telah lama hilang
Aku telah lama hilang dan tenggelam
Dibayangi sibuk yang mencengkam
Sirna, sirna
Jalan lurus kian sirna

Ke mana arah ku tuju, ke mana
Ku tompang gagahku di atas nama
Pergi, pergi kataku padanya
Pinta hati ditemani
Aku tak kuasa

Cinta yang terhampar habis kulempar
Tenggorokan sempit terhimpit hampa
Yang berduri kian ditelan
Kononnya mapan
Tak terhancur di keretakan

"Sejauh mana kau ingat, sejauh mana?"

Duhai kamu,
Terima kasih.

Wednesday, September 27, 2017

Kelana Buai

Berkelana di buaian
Pergi, kembali
Pergi, dan kembali

Kembara di buaian tidak mengejutkan, tetap mengujakan
Ditiup bayu dingin
Besar kecil besar kecil pandangan

Terderai ketawa termeterai
Meski di takuk sama
Masih tersua gembira raya.

Tuesday, September 26, 2017

Lohong

Tangis yang tidak kedengaran adalah gema raung runtun
Menuruni gelap dasarnya hati
Menjauh, menjauh
Aura sunyi bikin orang menjauh

Ada mata-mata tajam tersenyum simpul sekali
Menghirup secangkir kopi, bibirnya berdetis bisa
Memanglah patut, hilang berpaut
Kah!
Hilang tak bersuara

Kolam kesedihan berdesis sendiri
Bertambah lagi titis tangis hati
Pulau sebuahnya perempuan berdiri
Menadah tangan
Rahmatnya Tuhan

Terasakan tak bersampaian, tapi cuma dia yang terlupa mengucapkan syukran.

Sunday, September 24, 2017

Kapsul Beza

Beza adalah sebuah kapsul yang seringkali ditilik nilai
Dihantar-hantar ke sana sini melerai jiwa mematah masa
Masa berkalung pelaminan cinta diranap punahnya
Menodakan titik-titik melankoli
Ditunggangi manusiawi tak berjiwa tinggi

Beza marah, tidak peduli
Katanya tidak adil ku disakiti
Pandanglah aku sepenuh cinta
Murni hati melihat indahnya

Tiada padamu, unjuknya
Tiada padamu jua, unjuknya
Takkah kau gembira
Akan nikmatnya kenal?

Beza berlapang dada
Tetap disalah-salah hati yang berdarah
Dalam amarah, ia menyerah

Ada bait-bait syurga hati suci
Memanggilnya, mengajakkan menari.

Friday, September 15, 2017

Singkap

Katupkan matamu dan biarkan gelap
Hamparkan amanmu dan temukan harap
Sepi
Sepi
Sepi

Cicip udara serasa masin
Angin, dunia lain
Hidangmu rangkap, belum bersantap
Tenang kan hinggap

Selaut rasa teramat biasa
Selam ke dalamnya

Luka berwajah baharu, tersenyum sipu

Buka mata
Nadimu laju.

Sunday, September 10, 2017

Mari

Mari aku karangkan seraut sajak buatmu.

Telahanku pada malam gelap, adalah titis-titis jiwa
Kosong dan kelam, tepu tak ternampakkan
Ada suara di hujung jalan, menggerakkan langkah yang sekiannya lemah
Maju
Maju
Maju ke arahku

Raut wajahmu belum kutahu
Suaramu lunak asyik membisik, mahu ku tebak
Siapa gerangan di hujung talian

Singkapkan tabir duka malam dengan halilintar pertama
Menyelinap ke matamu di permulaan subuh
Magis sekali, sentak berkali
Di kejauhan, kudengarkan tabuh

Bertala-tala, menyala-nyala
Apakah ini titik pemula?

Mari, sambutkan sajakku ini
Dengan katamu pula, yang mengalun seri.

Mari?

Kenangan Larut di Pelosok Matamu

Sepasang mata yang kuyu.
Kadang-kala membeliak pabila hairan, tidak puas hati, atau membentak.
Begitu lembut ketika terpana, dalam angan atau tertawa sejenak.

Sepasang matamu adalah sebuah kolam perang yang dalam, merlik dan indah, kilau dan gemalai.

Aku seringkali karam di dalamnya.

Lebih lagi kala kita yang sama-sama tidak suka memandang wajah yang lain kala bicara, terlihat terus mata ke mata.

Sudah lama aku tidak ternampakkan sepasangnya kolam-kolam itu,

Sehinggalah hari ini, aku tak sengaja tertatap foto kamu.

Senyum kerana kamera menujumu.

Mata lembut, kolam baldu.

Menuntunku meruntun,
Aku ingin bangun dan melihat mata itu setiap pagi.

Tapi takkan pernah bisa lagi.

Thursday, September 7, 2017

Lukisan

Meraut pensel karbon di pinggir kebun mata
Menconteng kelabu masa; masa yang hitam
Ada garis kandel tertitip di jendela
Mengapa paksa

Ada sebuah titip di kepagian yang angau
Katanya bigau;
Ditinggal semalaman dikatupi debu
Nafasnya laju

Luru kemari, luruh sehari
Tinta di tenda, layar di langit
Alam begitu sempit,
Kaget

Tinting-tinting awan bersayap lagaknya
Keriut bertanda, sayapkan angkuhnya
Bertamu dulu di pondok kita
Nyalakan pelita
Di hatimu.

Tak Patut

Hei, hei
Engkau mesti teliti.

Hei, hei
Bukan begitu, tapi begini.

Hei, hei
Langkahmu bisu
Senyummu sumbing
Tingkahmu marah
Caramu salah

Hei, hei
Jadilah aku, jadilah aku
Jeda sepicing, pandang ke mari

Wajahmu sumbang
Tingkahmu marah

Jangan kau celah

Hei, hei.

Kecamuk Hari-Hari Yang Bosan

Pergi pagi; kerja.
Pulang malam; rumah.

Pergi, pergi lagi.
Pulang, pulang lagi.
Sesekali menyinggah.

Sepanjang jalan fikiran selalu menekan,
Jiwa selalu berkecamuk.
Hidup yang dicambuk sibuk,
Terasa terlalu mengetuk.

Jaga, kantuk.
Apa makna yang menusuk?

Pergi, pergi lagi.
Pulang, pulang lagi.

Sejuta lagu bermain di pemain.
Selakar memoir berpusing di puing-puing kenang.
Hati,
Siapa yang kau pandang?

Pergi, pergi lagi.

Thursday, August 31, 2017

Buat Sayang

Puisi cinta ini aku ungkapkan untuk dia yang belumpun lagi mampir, di wajah Merdeka tahun ini.

Sayang,
Aku baru saja mendengarkan sajak Kekasih karya Usman Awang
Terus aku menerawang
Dalam dunia di mana bintang timur bisa dititip menjadi kerongsang
Melawan kasih yang matang.

Sayang,
Di manakah engkau berada?
Adakah di belakangku kala aku mendengar puisi tadi
Atau di ingatanmu seorang aku, yang kau harapkan akan kembali menuliskan puisi cinta untukmu
Puisi ini untukmu
Puisi ini untukmu
Puisi ini malahan untukmu, berlilit doa pilu dari denting hati kosong yang semakin tipis disalutbeku salju.

Sayang, takbir Aidiladha berkumandang
Ingin aku membetulkan keluk songkok dan letak cekak musangmu
Sebelum engkau berlalu ke pintu Kekasih
Mensyukuri hati masih penuh cinta
Untukku dan untuk-Nya

Puisi ini mungkin menjadi yang paling indah atau yang paling jelek
Dikarang kala belum mengenalimu
Emosi meruntun, aku tenggelam
Memanggilmu sayang, sayang, sayang
Entah tiada atau ada di talian

Sore ini, aku masih punya rasa sayang
Kasih yang teramat dalam
Aku bentangkan lara di tikar kerinduan
Sampai kau datang, memerdekakan aku dari sepi,
Sayang.

Malam Aidiladha yang belum merdeka.
Bukit Mahkota
310817

60

Selamat ulang tahun, Negaraku.

Beberapa tika aku melungu mendengar
Kata-kata lontaran watanmu
Membilang neka warna merdeka
Dengan definisi serba-serbi
Layakkah engkau dipuji, atau dicerca, atau diharap hati?

Tanahmu agam, sekian lama menyergam
Emosi, cita dan airmata
Engkau baru saja bertatih, bukan
Belum pulih tempang dijajah semalam

Engkau merdeka, ya pasti merdeka
Namun sorak-sorai belum membasuh dosa
Anak-anak budiman yang belum punya bangga
Sebenar-benar bangga,
Berdiri mengalun lagu pancaragam tanda kemuliaan bangsa.

Aku masih percaya padamu, Negaraku.

Bangkitlah dengan sebelah kaki, atau satu lagi
Kita akan sama-sama rintis,
Mata-mata benci kita tepis,
Masa depan yang semakin jernih, kuaminkan di setiap ingat-ingatan manis.

Selamat Ulang Tahun, Negaraku.

Wednesday, August 30, 2017

Tapak Sembahan Antik

Melorek kenang di setiap segi jubinan hijaumu
Melantun ceritera silam
Setiap takbir berpalu-palu
Setiap tahmid berpadu-padu

Menara berpundakmu selalu setia
Mengalun azan di lima ketika

Masih dikunjung masih dikagum
Lambang nama Tuhan sekian lama diagung.

Masjid Kg Kling, Melaka
1347, 300817

Tuesday, August 29, 2017

Langkah-langkah

Mengunci biara lara, sepi
Berkelintung gema kaki di kubah rintih
Berbalam-balam cahaya melawan tingkah langkah
Bocah dilayan seperti hama
Laba-laba tersisa, tak dihabisi santap
Mengapa harus lelap
Segala untai dan rasa yang belum terintai senyap
Gelap, seisi buanaku gelap
Belum adamu belum tampilku
Berdiri di bidai melangit merantai
Ketik-ketik listrik aksara tertepis lentik
Misalku, tangisku


Sebaris hambar terbiar seperti patutnya ia
Terbiasa beriya-iya,
Untuk apa dinantinya denting gading putih
Jerih, perih



Laksamana belum bertingkah, bunganya sumbang
Pintas dan pantun dibilang-bilang
Kenapa tidak sekarang
Setahunannya fikir takkan berakhir
Gempur saja

Hambur segala mundir
Gebang segala lampir
Biar mati
Biar hampir.

Monday, August 28, 2017

Kelekatu Jingga

Kelekatu jingga
Mengelabui mata
Rona petang yang serasa memeluk
Hangat seluruh kebuk

Membising ganggu pulas
Takhtaku pusing culas

Ah, hari semakin kuning
Dan laut semakin pening

Masih ada sisa sebelum senja

Kelekatu jingga belum keluar berpesta.

Saturday, August 26, 2017

Pengunci

Pengunci
Kau punya kuasa
Pinta aiskrim atau mangga
Punya semua
Punya angkara

Apa menari di fikirmu
Imajinasi atau benci
Cinta atau kuku besi

Lihat apa kau perlaku padaku

Bukakan gari ini

Bebaskan hari ini

Suntikkan
Picagari

Lerai, lari.


Usai Teater Kurung
Minut Init, Damansara
260817

A Tribute

There was a time in my life when I was 26, and I don't have a life goal.

(I still don't. My only real hope (I feel too unworthy to call it a goal) is to die as a good muslim.)

I just finished my uni years, and I am back in Malaysia where my peeps had already built their careers and have kids and bought a house and whatnot.

I don't even know how to drive.

And a job seems so far, because of the stupid delayed placement. And it's funny when people thought medical graduates couldn't do any other shit other than doctoring, and I had a hard time looking for part-time jobs, though at last I do nailed two.

My college friends are all scattered all over Malaysia. The ones near to me are also too busy to hangout.

There was 2 things that I never gave up.
1) My blog and my blah-blahs
2) My twitter account and my blah-blahs

It seemed to me that I got a lot to pour out.

There's this 2 guys I knew first from their blog, and then on Twitter. They're friends when they were in lower secondary. They're still tight with each other. They are awesome writers and bloggers. They appreciate words, arts, vocabulary, grammar, and looking at the world to find its meaning. They are total nerds. And they are awesome.

Their names are Najahul Akhyar, and Syed Badruz-Zaman.

One thing led to another and suddenly we arranged a meet up.

And suddenly we were Golongan Pelik Saling Mengampu. This weird trio.

We wrote stuff, and criticizing each other's. We went to museums and wrote more stuff. We alerted each other when there's writing competition (which I never really joined but yeah) or any other events. We went to book fests, we anticipated BBW. We went for karaokes. Soon enough I felt like they're my truest best friends, and I can tell them anything and everything and I mean it. I do tell them anything and everything.

If anything, they kept me sane.

Looking back, my life would be so different if they're not around. I could live my double life as a kindy teacher cum TV episodes translator while struggling to pass my driving license and waiting for my unholy housemanship call, alone. I could fall into depression and misery with no other person to talk to other than my siblings (who have absolutely no interest in me or my boring life) or my mom (whose life goal is to manage the family and always ends up confiding her problems to me instead of the other way round.) It was a hard time for me. A really hard one.

And these guys. I feel like I owed them my life.

There are some people, whom I felt like I owe them my life. Like the person who got me through my first posting in housemanship. And the two people who talked me out of the idea of suicide when I already had the knife in my hand, that time when I broke up with that guy.

Of some uncertain reasons, these people also happened to not talking to me anymore these days. Like yeah maybe here and there but not like we used to.

If these people got into anything and need anything, anything at all, at whatever price,

I'll be there.

And these two peliks, I also happened to be not so connected with them anymore. Life progressed. I am now a year in my housemanship, hustlin' day in day out, driving my own Myvi, got into an accident the other day.

And just like how unceremonious we had got together, we just part ways.

Slowly, but surely.

And it makes me sad. It makes me depressed on my hungover days like today, when I'm tired of yesterday's ED call and is virtually free and have no one to talk to.

As this is the most recent parting I had, it cuts me real bad. And at this age and situation, I don't have the time or energy to self-recover, quick.

I found myself singing alone loudly just to fill the space.

I found myself driving my poor fragile Myvi at 150kmph just to see if I got into another accident or not.

I found myself crying after prayers, wishing that I have a friend.

I found myself staring at my mother's plant, wondering why it wilted so fast.

I found myself so lack of passion.

I found myself losing myself.

I am not blaming them. I just missed them.

And being the adult that I am now, I know that I should let them led life, and if it means more without me around, they should go on without me. And be happy.

It still feels like losing some part of myself.

And I hope I am okay, and could be happy again, too.

I am in peace with them. And if time and God permits, I would like to have one whole day for coffee and all our conversations.

I miss you guys, and this is a tribute to Syed and Naja.

Be happy.

Monday, August 14, 2017

Candy

Malam, yang mengapungkan segala mungkin
Aku tersenyum sendiri
Mengenangkan senyummu di hari itu

Seperti ada satu kuasa sakti
Membangunku dari kantuk
Memapanku kala lelah

Aku sangka telah lepas aku dari segala rasa
Namun
Yang manis akan selamanya gula

Sehingga kau pergi, sesungguh-sungguhnya.

Olok-olok

Ada titian yang mengolok kembang bunga di kepagian hari
Katanya untuk apa, menyembah limpah mentari
Dimamah-tinggal, panas malamnya
Tak kekal jua, binasa malarnya

Titian terlupa ia yang kekal, diinjak-injak selalu
Demi mengagumi warna-warni bebunga

Bunga diam, kerana yang indah selalunya diam
Dan yang mengolok itu keras, sepertinya titian
Yang tidak tahu lebih baiknya tidak diinjak
Daripada kekalnya mengeluh di kehidupan seluruh

Olokannya menjadi satu paradigma tak berbalas
Terapung-apung di ruang hirau
Menampung nilai yang berkilau.

Friday, August 11, 2017

Kita

"Kau pergi sana dengan siapa?"
"Diri sendiri."

"Kau tengok wayang itu hari dengan siapa?"
"Diri sendiri."

"Macam mana kau boleh ingat jalan? Kau bukan baru pandai drive ke?"
"Aku kena selamatkan diri sendiri."

Diriku,
Kita senantiasa ada kita.

Move

I want to live properly, and fully.

I feel like these days, I'm doing things half-heartedly, if not heartlessly. I do things cz it needs to get done, and I just happen to be there. I feel unfortunate, I feel unimpressed, I constantly get comments that I don't do my work properly like it's supposed to be done. Like there was something wrong with me. Something is off, something is not right. And I fell for it. I started to believe that I'm really stupid and incompetent, and slow and unreliable.  Working long hours, spending so much time on charting. I blame it on time, I blame it on age, I blame it on the geniuses minds that I was not born with.

I need to take a deep breath, and rethink.

I need to count my blessings.

I need to stop cursing all the things under the sun.

I need to say things that only need to be said.

I need to stop hurting the ones I love.

I need to expand my heart, and grow a lil vine of care.

I need to stop being so childish.

I need to stop believing that I can't do things, and learn. And have the will to learn.

I need to wake up, and get up.

Now.

Tuesday, August 8, 2017

Overwhelmed

Today is the second day in a row, where I face death.
Yesterday I did CPR for the first time throughout my housemanship. Yeah, my anti-jonahness is really running out in this dept. (Malaysian medicos lingo: Being Jonah means u have bad luck. Like an omen. Lol. I know I shouldn't actually laugh but doctors have a really dry sense of humour, so to speak.) The uncle was in and out through it all. He couldn't maintain his pulse without our CPR. After 30 mins, we call it quits. And let the uncle rest in peace. And my left eye muscle is twitching outta lethargy.

Today morning, it was my first time in charge of the coronary care unit. Filled with unstable, very ill, tend to collapse at any time patients. 8 beds in all. And this one uncle just screamed when he saw me.
"Doktor!! Tolong saya doktor!!!"
I attended to him, steths flailing around my neck. He felt breathless, he said. Kept shouting and not even trying to breathe. Checked his lungs, reduced air entry. But his lungs already shown cancer signs, so it's expected. I asked him to calm down, breathe in and stop trying to speak. His breathing normalizes for mere seconds. Then he shouted again.
The nurse outside hinting me to come out of his room. Then she told me he's been liddat since admission. We tried to increase his oxygenation, but he refused to wear the face mask. "Doktor jangan tunjuk muka, dia memang nak ada orang dengan dia sepanjang masa." I felt a tad bit bad for him, cz I would've feel the same if I'm at his place. In the afternoon, while our team are actually discussing with his family whether to give active resuscitation should he fell into collapse or not, he actually collapsed.
"Doktor, patient unresponsive!"
My MO hit my arm, "Dik u pegi dulu cpr, i setelkan family!" I jumped from my seat into the patient's room. The male nurse was on the patient, trying. I looked into the patient's eye.
"Dah tak ada tu bang. Fixed dilated."
"Takpe dr family belum bagi kata putus."
Glassy eyes staring at me like a pair of doom filled beads. My MO came in rushing. "Sudah. Mereka kata NAR."

The male nurse looked at me. "Tadi dia sempat mengucap."

Both times, the same thought crossed my mind. How will I end mine? Will I have the ability to remember God? Will He allow me to end with His name on my dire lips?

I am so out of touch with my spirits lately. I am soulless casket, filled to the brim with misery.

It took 2 deaths to shook me.
And bring me to Allah.

Oh Lord, Master of this meager world, Master of me,

End me with Your name.

Thursday, July 27, 2017

Pelarian

Aku memerdekakan engkau dari persahabatan yang kian tempang-
Kata engkau
Sedang aku terasa malang
Dirudum sangka yang entah-entah
Kata akhir kita adalah sebuah bisu yang terempang-
Merungkai tangis yang selalu mengejutkan aku di tengah malam
Bingkai-bingkai yang rapuh
Yang ku warnakan gangsa, perlahan
Mengapa harus rentan

Sejiwa jarang tertemukan
Sekata malap-malap di persiaran
Orang bilang kita aneh sekali
Gembira aku diselimuti
Direntap habis aku tak bangkit mandiri

Magis berbalas tiada
Di kejauhan ada satu jeda
Diam, pedih
Sampai bila

Senyum aku lihat kau bahagia
Terasa ingin senyummu menguntum sama.

Wednesday, July 5, 2017

Emas Melilit

Tidak betah selalu
Berada di luar garisan
Putus syukur
Tirai terhancur

Mana pergi tali temali
Yang mengalunkan luka
Ruang ini sepi sekali
Tiada langit cemburu pakai

Melatah di pintu durja, jangan
Sering dilaungkan yang bukan-bukan
Bukan salahmu terlihat selalu
Hati membatu tuduh melulu

Dalam kayangan tersemayam tinggi
Aksara ini
Melilit kepala puisi
Dengan permata paling kilaunya
Meracun sukma membuta angsana

Sungkur
Belum ditemu kita noktah teraju.

Saturday, July 1, 2017

Hei, Engkau

Membeza-beza asbab dan santun
Bukanlah kita

Belumlah tertera semula
Jahitan tulang belut di hati

Apakah akan terlalu lagi
Atau selamanya sepi

Kawan
Ingat-ingatku padamu
Selamanya tinggi

Janganlah engkau bersalah sangka padaku

Takkan aku meminta lebih
Dari jiwa yang perih
Selain setitis redhamu.

Secebis Hormat Di Muka Pintu

Ungkit dan pamit
Silih berganti
Kehabisan bicara ditelan
Pahit

Tiadakah simpatimu sekelumit

Cuma secebis pinta
Untuk disanggulkan cinta
Di pemula hidup selama-lama

Baharu,
Yang tertinggal kan kelu.

Maaf,
Ini bukan persinggahanku.

Wednesday, June 21, 2017

Kembali Fitri

Kepada,

Rumah yang ditinggalkan,
Jalan-jalan yang terkosongkan,
Haluan yang tak bertujuan,
Dendam yang teredakan,
Cinta yang tak disampaikan,
Dan hubungan separuh jalan-

Selamat Hari Raya.
Semoga kita kembali fitri.


Bukit Mahkota,
Hari-hari akhir Ramadan yang jarang ditangisi 

Thursday, June 8, 2017

Kereta Api Tidur

Dimabukkan kantuk yang menyelimuti
Terjaga digoncang borborigmi
Ah, puasa sudah berakhir, hari ini

Rumah bukan tujuan tenang, tapi pelarian
Menumpangkan asa dan ego yang terambing-umbang
Sosial melintang pukang
Kawan dibilang-bilang-
Tiada yang menang

Menempik jiwa di kalbu yang pernah basah, suatu tika
Rindu sedar dan harap di hujung celaka
Perlukah parah sebelum ada
Segala laba terpinggir para-para syukur,
Dihurung alpa yang dungu

Ke mana arah tuju kereta api ini
Ke Seremban kah,
Atau ke bangkit mu

Taman Wahyu-Bangi
Remadan 14.

Monday, June 5, 2017

Lapangan Terbang di Pinggir Jalan

Ia pernah menjadi kemegahan
Disebut-sebut, lambang mewah
Ada cita-cita
Ada maruah

Di kiri kanannya anak-anak kecil melungu
Jari telunjuknya mengikut pesawat ke angkasa biru
Mahu terbang!
Mahu jadi konglomerat yang ke udara selalu

Bunyi bisingnya mengujakan
Hampir tiap yang menatap
Tak sengaja senyumnya tersingkap
Benar
Negaraku punya lapangan terbang
Tidak di bawah tempurung kami bersarang

Kini semua sawang-sawang yang bergantungan menempelak lapangan sepi
Dahulu,
Engkau begitu dan begini
Kini cuma menjadi memori
Bingit-bingitan di pinggir lebuhraya,
Suatu kenang yang terheret modenisasi.

Lapangan, aku pernah berdiri di persadamu
Lapangmu sekarang malahan kosong seperti hatiku.

Monday, May 29, 2017

Panas

Untuk apa mengejar mesra dan kasih murni
Jika jiwa masih kabut kelabu
Langit masih menaung
Laut masih bergaung

Belum habis seisi kaurenung
Untung
Mungkin cuma sepelaung

Betapa tinggi kau nyatakan sesal
Pada rintik yang kau ambalkan
Tiap cita di penghujung dangkal
Tiba di sini
Masih belum terjangkau

Hijau selalu menyambut
Dan rembang sering menyanyi
Tinggal ditiliki lagi
Zarah-zarah syukur yang terapung



Sunday, May 21, 2017

Kita

Air mata tengah malam
Fikir-fikir yang terjerut
Tak dikambus bayu denting satu pagi

Hati yang semakin bungkam
Tentang sayang yang terpaut
Membunuh hembus sebelum mati

Engkau
Aku

Persada ini sepi.

Untuk NAI
Sahabat yang kurai dalam pateri hari

Kepergian

Di usia ini, aku telah menyaksikan begitu banyak kepergian.
Yang aku pinta, yang aku tangisi, yang aku terpinga dan yang bikin aku rasa berdosa.

Siang tadi, aku membicarakan tentang kita dengan entah siapa-siapa. Ujarku aku tak akan pergi, kerana aku sayang. Kerana aku lelah meratapi kepergian.

Tapi kau tetap pergi.

Dan aku bukan pemaaf. Lebih lagi pula, bukanlah aku peminta maaf.

Insan yang paling tidak aku maafkan adalah diriku sendiri.

Selalu, yang paling kusayang adalah yang tidak kusebut. Yang hatinya berlalu tanpa sempat kurebut.

Selamat hari jadi, sahabat suatu tika. Dan selamat pergi, sahabat setahun ini.

Setiap marahmu adalah setiap tumpahku.

Dan malam terus bersambung mengutuk aku dalam sepi.

Saturday, May 20, 2017

Gerabak Dewasa

Sedari remaja kita
Berdua-dua mendengar lagu kegemaran
Teruja dengan dakwat kilat-kilat
Aku sangka kita takkan pernah menua hingga
Kau angkatkan sebelah tangan kepadaku, meminta tunggu
Sambil keningmu terangkat risau
Menilik skrin telefon pintarmu
Meladeni segala kerjayamu

Dan waktu itu aku terpinga
Adakah aku tertinggal gerabak dewasa?

Monday, May 15, 2017

Beberapa Perihal Tentang Laut

1. Laut adalah pendengar paling murni.

Ia tidak pernah bertanyakan soalan jelek seperti siapa, apa, dari mananya dia, sekadar untuk membuang-buang waktu, mengisi sunyi dengan bising. Ia tidak takutkan sepi. Terlampau tinggi darjatnya dari itu. Maka ia terus-terusan mendengar, dan mendengar, meski bebelan ulang-ulang atau tangisan malu-malu, ia tetap mendengar.


2. Laut, punyai ego di kakinya.

Lapis-lapisnya terlalu dalam untuk manusia-manusia angkuh yang bodoh.
Ada satu lapis yang mengandung rezeki,
Ada satu lapis lagi yang menampung segala indah.
Ada satu lapis pula, menimbun amarah, dilenyapkan semua yang cuba-cuba iri.
Cuba-cuba menunjuk diri yang tidak seberapa, tanpa sempat mereka bertempik "Ah!" sekalipun.
Masih belum lapuk kisah Laut dan Firaun.


3. Tidak ada 'diri' untuk dirinya.

Dibelah, diraup, dipakai, dibuang.
Laut adalah penerima paling ulung- dan juga pemberi.
Tidak ada istilah habis dalam tali arus air yang berdesis.

Bukankah aku Laut? ujarnya dalam pekik sepi.


14.05.17
0729H
menuju jeti

13.05.17 2220H



Ini bukan air magik
Dari samudera paling molek
Dituai kala bulan mengambang
Sekali terpandang terasa sayang

Ini air pengandung cerita
Suka sang ikan berenang gembira
Cekal terumbu dipukul selalu
Ombak tak tahu meminta maaf
Semua ditelan tak tertuding khilaf

Ini bukan air ajaib
Sekali diminum membuang aib
Banyak sekali menumpah aksara
Dek terpana keanggunan senja

Ini bukan
Ini bukan
Ini cumalah secebis lautan

Di dalam botol terasa asin
Di tengah biru terasa asing.


2220H
Perairan Kapas



13.05.17 2215H

Bulan terlalu terang untuk jiwa yang kelam
Fikir terus dirasuk cakap-cakap yang menusuk
Dalam doaku yang terhuyung-hayang
Aku meminta
1. Sotong
2. Kuat
3. Kebal
4. Tebal (wajah)
5. Kental (isi hati)
sepanjang malam.

Desir-desir air dan deruman bunyi enjin kurasa mengejek
Aku yang meratapi segala nasibku pada laut, separa celik.

13.05.17
2215H

Untuk Kamu, Yang Sering Berbaju Merah

Buat sahabat sahaya, Syed Badruz-Zaman

Lautan Kapas mematerikan satu tahunnya kita
Lautan ini, tidak pernah bisu
Tidak sekali ia berdesus-
Perempuan,
Engkau bukan lagi yang dulu.

Dan kita tidak lagi sama seperti
samudera Mei tahun lalu
Ombak-buihnya telah lama pecah
Dihirup gelora yang senantiasa lincah.

Ketidaksamaan bukanlah hukuman,
apalagi sandiwara yang menghibur.
Kongsi-kongsi cerita kita mungkin semakin kurang sering
Disambut segala sudah tahu yang mengiring-
Tapi, 
Cerita dan magis muka depan dan depan
Masih ada wajah engkau yang aku harapkan.

Aku berasa sungguh beruntung bertemu yang berbaju merah sepertimu.

Mudah dicari,
Tak pernah disusup hilang dan iri.

13.05.17
1827H
Perairan Kapas


Terima kasih, sahabat.


13.05.17 1811H

Laluan mencari diri memecah hangat, seiring mentari yang menyengat.

Biar isi dunia di sini, biar
Kembara aku adalah di dalam aku
Diselaputi bidai laut yang bisu
Meski ditongkah bilah kapal yang tajam berlalu

Buih-buih pecah adalah air mata
Sang laut, diiringi ombak yang setia
memukulnya ke sana dan ke sini
Namun tidak pernah kan tinggal di sisi

Aku serahkan diriku pada samudera
Panas, tetapi beku
Selaku aku, meratapi nasib dalam renung di ufuk bot kayu.

Di sini aku tinggalkan segala pangkal nama di pinggir jeti
Mengintai senyummu kala engkau melagukan
Bait-bait yang kemudian akan kau putar-banding pula denganku

Semakin deras air ini,
Semakin deras pula kata memekik
Dalam jiwaku yang lama terhimpit.

13.05.17
1811H
Pinggiran Kapas dan bot oren.


13.05.17 - Dalam perjalanan ke Jeti Merang

Aku ke Marang bukan membuang nasibku yang malang
Aku bahkan mencari diriku yang hilang
Aku mahu disaksikan bintang-bintang
Dan melihat malam yang benderang
Yang penghidupannya selalu kulayar di akhir-akhir ini

Lagu-lagu Afgan melayukan rasa resahku
Menggantikannya dengan rasa dan asa

Tiga belas Mei, jiwaku terbang.


13.05.17 1407H

Satu jam ke lautan
Kupegang rasa rentan
Segala amarah yang lama tersimpan
Mencurah-curah tak terbuangkan

Mengapa lautan menjadi persada
Semua insan membuang derita
Pasti tidak dipintanya, pasti tidak,
Pasti tidak akan
Ditunggunya bersama awan-awan mendung yang kian hitam

Hati lautan itu luas, kata manusia
Bisa menyimpan dan menelan apa saja
Mendengarkannya, lautan marah
Di sisi langit yang merah, ia merekah

"Manusia, memang suka mengandaikan yang ada-ada!" tempiknya.
Berceburan buih-buih gempita
Ditelan deru ombaknya sendiri

Manusia pulang berasa senang
Lautan tinggal terasa malang.

13.05.15
1407H



Wednesday, May 10, 2017

9 Mei 2017

Tarikh 9 Mei tak pernah memaknakan apa-apa dalam diari kehidupan seorang aku.

Tapi tarikh itu tahun ini, iaitu tarikh semalam, telah mengejutkan suatu daya fikir yang telah lama longlai tak dijumpai, apatah pula diguna pakai.

Tarikh 9 Mei, seorang aku yang tidak mempunyai kenderaan (aku baru saja mengalami kemalangan minggu lalu,) bertekad untuk menggunakan khidmat Uber setelah hari yang amat melelahkan di tempat kerja, untuk mengambil pula tren komuter di Stesen Taman Wahyu, untuk pulang ke rumah. Esoknya (hari ini), aku akan bekerja syif malam.

Orang bilang, hospital itu tempat penyelamat. Hospital itu rumah yang paling punya jiwa, dan tempat di mana doa-doa paling tulus diterbangkan ke udara. Para penyelamat, adalah pasukan yang terdiri dari barisan doktor, jururawat, pembantu makmal, pembantu perubatan, pembersih-pembersih kawasan, dan lain-lain yang mungkin, otak lelahku ini lupa menyebut. Tapi,

Tiada yang mempersoalkan, adakah terselamat jiwa-jiwa sang penyelamat?

Sudah tentu jawapannya, lima puluh peratus ya, lima puluh peratus tidak.
Kebanyakannya tergantung di kawasan kelabu. Berguntaian dengan irama tak endah dan sekadar menghabiskan kerja, sekadar melepas batuk di tangga, bila akan pulang dan habis kes-kes ini dan eh, ada pesakit mengucapkan terima kasih. Arena kelabu yang tersisip rapi di bawah pangkat dan nama. Terusir terus diselaputi senyum-senyum yang kadang kala ikhlas, kadang kala palsu, kadang kala kelat menahan malu.

Tanggal 9 Mei 2017, setelah aku habis syif pagi yang aku habisi 10 jam bertapa di dalam dewan bedah, menghabisi kes-kes Caesarean yang tak berpenghujung lagi bertali arus, sambil talinya terbelit di tenggorokan rakan kerjaku yang datang ke syif malamnya disambut 5 kes baharu yang berbaki. Marah benar dia padaku. Katanya aku Jonah terlampau. (Jonah: (dalam slang bahasa hospital Malaysia terkini): bernasib malang) Aku terpaksa pergi meninggalkannya kerana aku juga punya hal yang perlu aku selesaikan sebelum pulang. Aku terpaksa membayar wang ganti kepada dewan bersalin kerana kecuaianku dalam mengira alatan delivery set kelmarin, sebilah gunting hilang walaupun setelah aku kira, cukup sepuluh alatan. Namun kerana tiada saksi semasa aku mengira, maka kiraan aku tak boleh diguna pakai. Terpaksalah aku bergegas setelah syif aku habis untuk membayar di dewan bersalin.

Aturcara 1: Aku memesan pemandu Uber untuk ke Taman Wahyu.

Ini kali pertama aku memesan khidmat Uber. Aku pernah cuba memesannya tahun lalu, namun waktu itu khidmat Uber cuma boleh dibayar menggunakan kad kredit. Sekarang, sudah menerima tunai. Setelah aku pesan, katanya dalam masa 7 minit pemanduku akan sampai. Sudah! Mana sempat nak bersiap! Mencicit aku pulang ke kuarters mengambil barang-barang untuk dibawa pulang. Telefon pintarku menunjukkan persentej 5 peratus bateri. Aku gapai powerbank dan bergegas ke kereta. Sambil meminta maaf, aku sambungkan wayar kepada telefon. Tiada bunyi tanda telefon dicas. Aku kerling skrin powerbank: 0%. Tak lama kemudian, telefonku pun mati.

Baiklah.

Aku tarik nafas dalam-dalam dan mengeluh. Ada susu Dutchlady yang aku beli sebentar tadi di Hospimart. Aku cucukkan straw seolah marah dan minum sekali sedut. Ada ketul-ketul susu basi yang masuk ke dalam mulutku, Aku telan, dan aku letakkan semula susu ke dalam plastik. Tak elok buat-buat muntah dalam kereta orang. Bau susu basi melekat di jemari tangan kananku. Aku tahan.

Pemanduku namanya Encik RONA, entah nama betul atau nama samaran. Banyak betul soalannya. Tanya aku kerja apa, jabatan mana, pakai telefon jenama apa, kenapa tidak pakai saja iPhone dan berceloteh soal pegawai kerajaan menadah kole di hadapan TV setiap kali bulan 10 menunggu bonus dari kerajaan. Sempat pula dia memberi nasihat untuk meletakkan gear di L kalau memandu kala banjir. Katanya kalau letakkan di gear D, ekzos akan menyedut air masuk ke dalam enjin, Entah benar atau bukan, aku iyakan saja. Aku bukannya mahir perihal kereta. Sampai di stesen KTM, tambang aku rm7. Aku hulurkan rm10 dan memintanya menyimpan saja baki. Dia tetap berkeras memulangkan rm3 aku dan berkata, "gaji masuk lambat lagi." Aku tergelak kecil dan ucapkan terima kasih.

Aturcara 2: mengambil tren komuter ke stesen Bangi.

Kad Touch and Go aku tertinggal di rumah. Aku pergi ke kaunter, dan membeli tiket ke Bangi. Tambangnya rm6.80. Aku dihulurkan token, seperti rupa token LRT rapidKL. Eh? Ujarku tak sengaja. Abang kaunter tersenyum saja, entah apa yang difikirkannya. Wah, sudah lama benar aku tak naik KTM. Tiket berganti token pun aku tidak tahu. Laju aku menuju platform satu, kata abang kaunter untuk ke Bangi tak perlu bertukar tren. Lega hati rasanya.

Aku korek beg tanganku yang serupa poket Doraemon, macam-macam ada di dalamnya. Ah! Ada Kindle aku yang entah berapa lama tak kusentuh. Ada bateri 2%. Sempat aku baca satu bab dari buku Markus Zusak, The Book Thief, sebelum habis pula baterinya. Tempat dudukku di dalam tren bersebelahan dengan cermin kabut yang tak nampak ke luar. Aku bergantung saja pada pengumuman stesen dalam tren. Rasanya aku tertidur dari stesen Kampung Baru, terjaga sebentar di Midvalley, dan tertidur lagi sebelum terjaga semula di Serdang ekoran bunyi bersin orang di belakangku. Kemudian aku cuma tidur-tidur ayam saja sampailah ke Bangi.

Sampai di stesen Bangi, aku meminta izin pada makcik kedai makan di situ untuk menumpang palam untuk mengecas telefonku. Aku pasangkan sekadar untuk menelefon ummi, dan aku cabutkan saja. Aku pesan mi goreng pedas dari makcik kedai, dan air mineral sekadar untuk membasuh rasa susu basi di tekakku yang memualkan.

Di sebelah kedai makan, ada kedai membaiki kasut. Ada beberapa mesin dengan besi berupa kaki di pinggir kedai itu. Aku perhatikan saja, tak tahu fungsinya. Aku perhatikan juga pakcik tukang kasut menjahit tapak kasut Nike warna ungu, penuh hati-hati. Jarumnya besar, dan lebar. Betullah sesuai dengan kasut, takkan mahu pakai jarum yang aku gunakan di hospital buat menjahit kulit pula.

Setelah ummi sampai, aku masuk ke kereta untuk pulang ke rumah.

Dan hari itu aku rasa sungguh manusiawi, tanpa terikat jerutan teknologi.




Tuesday, May 2, 2017

Penampakan Egois

Aku ketemu seorang yang asing
Yang berkata, sungguh banyak yang kau sembunyikan
Engkau terima, dan engkau telan
Sedikit cuma yang engkau luahkan

Lingkaran mataku longlai memecah
Butir-butir air yang telah lama terempang
Ditahan bara yang menyimpang

Benar,
Aku pengulum cerita

Tak sangka ada insan lain yang ternampakkan semua.

Saturday, April 29, 2017

Budak Kecik

Kerincing-kerincing kaki
Terkedek-kedek menari

Si cilik, kau mencuit hati.

(Tak sempat kuambil gambar curi.)

Yang rambutnya gulung-gulung itu seperti ombak malu-malu,
Pinta disayang-sayang selalu.

Saturday, March 25, 2017

Asa-asa

Terpadam asa mahu berpuisi
Segala kata habis kucemburui

Eh
Aku berpuisi lagi.

Thursday, March 9, 2017

Sendiri

Menelangkupi realiti sunyi-
Aura-aura berani.

Di keseorangan aku menongkah dingin subuh untuk mencari secebis hari
Tersenyum manis penuh palsu menanti segelas kopi
Alangkah indah, indah, jika dikongsi?

Dalam tertawa hiburku seorang diri
Melihat si kecil menghayun tangan bondanya-
Terjepuk ingat doa ibuku
Mahukan aku berhenti mengelamun
Biar disapa yang sayang di setiap bangun

Ah
Kesendirian bukan pilih-pilih hati
Tak layak dibenci
Tak rentan dibendung

Selagi asaku masih menampung
Akan kutelusuri hari-hari, biar murung
Biar awan tetap bersiaga, mendung.

Wednesday, February 15, 2017

Di Simpang Siur Selayang

Simpang siur Selayang
Menyusuri hariku, sayang
Ada kelekatu di tebing lampu jalan
Menampar aku, hidup selamanya, bukan
Pilih malam atau siang
Aku senang
Berlama-lama di jalanan

Menyendiri di lampu merah Selayang
Sayang,
Begitu lama merahnya seperti merahnya wajahku melihat dia
Dia buta
Dia buta
Aku luka

Selangit-langit dan sebukit-bukit Selayang mentertawakan aku, girang
Masih seorang
Masih benderang
Tidak lama lagi mungkin terpadam palam

Di simpang siur Selayang,
Rindu ku terbang
Agar tertuntas semua rantai yang malang.

Sunday, February 12, 2017

Sebotol Rasa Ini

Telah ku kumpulkan rasa dalam satu tabung kaca
Yang ku tampalkan nama kamu,
Dengan tulisan simpul-simpul
Seperti asa yang merangkul
Tiap tangkai dan kunci hati
Agar tidak jatuh ke dasar peti.

Warnanya terang-terang kilat
Dari jauh kan bisa kau lihat
Bak wajahku yang bersinar
Melihat kamu duniaku berputar
Keberadaan diri kian sasar
Sudah!
Angau ku menyambar.

Telah lama tak ku temui tampang kamu
Tinggal bayangmu di tiap sudut mataku

Hari kekasih kian hampiri
Tapi kasih, di manakah kita berdiri?

Botol kaca ini hampir pecah mengingatkan kamu,
Hatiku makin parah dilambung tawa waktu.

Tuesday, February 7, 2017

Bandana Biru

Sehelai bandana biru
Yang tertinggal di pinggir batu

Seperti aku
Yang hilang di persada waktumu

Masa lalu yang pergi
Menerjuni masa seperti air
Yang terus terus mengikir
Waktu dan segala ingat
Tawa dan senyummu yang pernah hangat

Aku seperti batu
Yang tak terlupakan
Yang sering ditinggalkan
Arus dingin tak berkesudahan

Engkau air, deras semilir
Aku batu, keras terpinggir

Kubiar segala kisah terapung-apung di cebur-cebur detik
Dan kadang memori yang terpetik
Mengundang tangis yang menitik

Kerana kau dan aku
Cuma bandana biru yang robek
Di pinggir batu air terjun yang tinggal.

Monday, February 6, 2017

Kanching Falls

Air yang terjun di dada batu
Dingin mencengkam
Pilu, rayu
Segala jerit hiruk pikuk sendu yang menusuk-
Tenggelam

Aku menuruni kebatuanmu, dengan seutas tali berhayun
Dilimpahi deru yang berkurun
Luka dan biru menjadi makjun-
Hatiku yang biasa murung

Kulayangkan gentar-takut tinggi ku pergi, diawangkan nota suara teratas
Nafasku lepas
Jatuh ke dalam air yang tidak buas
Mencuri pandangku segera
Mengembalikan aku, sirna

Entah ke mana pegi keluh kisah dunia fana semalam
Dibasuhkan rintik hujan dan alun-alun sungai
Aku telah pun sampai
Ke suatu hujung tak berwajah,
Diruntun damai.

Saturday, January 21, 2017

Main Sorok-Sorok

Seperti anak kecil berlari.

Terkekek-kekek mencari tempat sembunyi. Di sudut yang kakinya kenampakan, ada cahaya dalam hatinya, fikir tak ditemukan.

Begitu nyata, begitu mata.

Bila dijumpakan, berderai-derai tawanya memeterai,
Waktu permainan yang tamatnya tak bersampai.

Kini kakinya masih kelihatan, memanjang keluar, di balik langsir senteng di hadapan rumah.

Tapi kali ini, dia pinta ditemukan.
Dia berdoa sekerasnya, agar jangan ditinggalkan.

Debu-debu pintu landas di belakangnya semakin menebal. Dan keluh hatinya semakin sebal.

Tuesday, January 17, 2017

Marah


Marahkan langit, mendung semalar
Marahkan jiwa, mendung terkulum
Kelam ini semakin ranum
Kandung
Hilang terpecah kalbu merundung

Lari dalam pusing-pusing entah apa
Letih saja
Tidak kian pudar dipanah haba

Mestikah aku tetap berdiri dalam lohong hitam ini
Sedang zarah diriku semakin ditarah
Agenda tak habis yang menaik parah

Liuk

Di bibir kantuk kakiku menari
Di pipi mabuk hatiku sunyi

Tawa-tawa cerita
Hilai suka duka
Di suatu pinggiran hati
Engkau ku ingat peri

Apakah ini hukuman
Untuk yang tak terluahkan
Mencari senyum di mata yang lain
Menampar kenang di sudut selain

Masih derai ketawa yang kamu
Yang ku kenang kenang selalu
Meski dudukku di sebelah yang ada
Syukurnya memerca
Kamu tiada jelma

Mungkiri sepi, aku biasa
Yakini pergi, aku terluka.

Thursday, January 12, 2017

Rant

It's hard not being the dominant one.
It's hard to be unpretty and uncool.
It's hard to be the blur one amongst the bright minds.
It's hard to grow old alone, and your so-called friends make fun of your age.
It's hard to let a friend go, and admit you can't talk to them like before anymore.
It's hard to be under scrutiny and pushing yourself for deadlines.
It's hard to be the firstborn.
It's hard to be the junior.
It's hard to still stand on your own feet and stay strong.
It's hard to keep the tears in.
It's hard to be, me.

Saturday, January 7, 2017

Dia

"Kau suka dia?"
"Mana ada."

Begitu lancar aku menipu.
Orang mungkin tertipu,
Mungkin lama-lama,
Hati aku pun akan tertipu sama.

Bohong.
Aku memang suka dia.
Tapi aku tak sanggup lagi terluka.

Tuesday, January 3, 2017

Hujan 3 Januari

Pernahkah kau memerhati titis-titis hujan yang bertempiasan di bingkai jendela?

Terpercik, lalu ia menyusur mengikut keluk-keluk kaca, dan memecah mengikut arah yang tak terduga.

Bunyinya jika kau diam dan dengarkan, cukup menenangkan.

Pernahkah kau memerhati, emosi-emosi yang bertempiasan di wajah-wajah kita?

Bunyinya jika kau diam dan dengarkan,

Pasti kau bertambah siuman.

- Hujan lagi hari ini,
Tiga Januari,
Selayangku Sayang.

Monday, January 2, 2017

Hujan 2 Januari

Hujan, 2 Januari
Tuntas, lekas menuruni
Melaruti
Desah hati dan kaki ingin berlari

Hujan, 2 Januari
Memegal hariku iri
Pada badan cergas dan asa yang pantas
Pada cinta yang tunjang dan lara yang terbalas
Sedang aku
Berpeluk lutut di hujung bucu
Cadarku belacu, dipagari pin peniti memaut kertas

Hujan, 2 Januari
Adalah doa bonda
Yang tak ingin aku pergi, bebas dan lepas
Mengaup angkasa luas
Tinggal dulu,
Tinggal dulu,
Ada masih tersisa rindu di hujung balah yang semakin menipis lelas

Aku bertinggung di bucu pintu tarik ini
Memandang bunga-bunga yang sedang mensyukuri
Alam yang basah
Langit yang murah
Dan pemangsa perobek warna bertempiaran lelah
Syukur yang terlalu jauh di kekeringan kulit hati
Dimakan benci, iri
dan letih yang tak sudah-sudah

Pintu doa terbuka, luasnya
Kau pinta ingat
Kau pinta rahmat
Hujan 2 Januari mendekat
Kau pejamkan mata, erat-erat
Di sela bulu mata, terjepit tangis
Anak ini belum puas memanja diri

Hujan 2 Januari memeluk hati.

Sunday, January 1, 2017

Two Zero One Six In A Glance

I have mixed feelings for this year. In fact, I think I have a truckload of feelings hitting me this year. Or maybe I, like so many mid-20s ladies out there, are just plain hormonal. So here goes...

Two Thousand Sixteen Through Keon's Lenses

January - I'm working at the Al-Fatih preschool at my neighborhood, it's been a month. Kids started to recognise me. I also get to meet Syed and Naja for the first time. I wrote Tanglung Pemula, with big hopes that this year will turn super duper awesome. I finally found my people. This is it. Bring it on!

February - Still working at the kindy, surprised myself that I could actually stay working for more than 1 month. Got the freelance translating job at SDI Media. At last, something that I love doing!

March - I went for the SPA Interview at the SPA Office near Masjid Negara. It went fine despite my nervousness.

April - Life goes on as per usual. Werk, werk, werk

May - I went out again with Syed and Naja, museum hopping, PBAKL (met Lutfi Ishak! OMG) and watched AADC 2. Felt so old watching it. Went catching calamaris at Marang, Terengganu. Met Zaidi, Naja and Syed's friend back in Kuala Kelawang, who is a HO at Selayang Hospital. Also went to a poetry performance which was acah-acah hipster as heck at Minut Init, Damansara with Syed.

June - Ramadhan month. Went to a reunion cum breaking fast sesh wif my highschoolmates. Felt so out of place when these people are either talking about kids, or their careers. I have neither. (My job at the tadika doesn't count, LOL.) Funny month also to see the kindy kids trying hard to fast for the first time...so many dramas. So cute.

July - Raya! Got one week off from work for Raya holidays, something that I know I'll never ever get when I started housemanship. Got my place to do HO-ship in Hospital Selayang, as there were no vacancies in Serdang and Putrajaya as I hoped. Well, all for the better. Said goodbye to the kindy and my students...ah so touched.

August - Went to PTM and started housemanship. Man it was tough. I'm gonna say it again- Man, it was tough! Started off with Surgical department. I guess it is better than the others, I supposed...

September - Barely surviving, still no payslip. Hanging on nevertheless.

October - Hello, birthday month! Got my first payslip by the end of this month. So much for a birthday present!

November - Early this month, got my first car. A Perodua Myvi Advanced in black and blue.  Just passed my driving test last month, my mom doesn't trust me driving. But I drove anyway. (actually after persuasion from Zaidi and Naja, lol)

December - Finished my first posting to my great surprise and entered O&G. I hate starting in a new environment. The verbals are still real in this department. Got a strict mentor, now cracking my head on how I could ever get 10 deliveries in 3 weeks.

And that's how you end 2016!

There are some downturns like how I didn't actually managed to send a manuscript of my collective poems to any publishers yet, I didn't complete my Goodreads reading challenge this year, and I'm still single as heck to my mom's disappointment LOL. Anyway, I'm hoping that 2017 will bring new things and brought out the better me. InshaAllah.

As usual, if I died in 2017, I hope I will die in His redha and blessings.

Hello, 2017.
Assalamualaykum.