Aku dan segala kehodohanku
Tidak berharap tertampal di mana-mana sudut muka bumi nyata
Cukup sekadar di cakap-cakap
Atau ilusi alam maya.
Aku dan segala kehodohanku
Biarkan sirna.
Aku dan segala kehodohanku
Tidak berharap tertampal di mana-mana sudut muka bumi nyata
Cukup sekadar di cakap-cakap
Atau ilusi alam maya.
Aku dan segala kehodohanku
Biarkan sirna.
Tiada kudratku untuk berlama-lama di jalanan, melayan kesepian.
Jika sepi anggarnya harta,
Maka akulah yang paling kaya-
Dilanda cucuran air mata.
Bah datang mengelus untaian minda-minda yang menelusup
Hilang selalu, hilang terlalu
Dipuji tandu yang meliuk,
Aku malu.
Ke mana kan ku usung sunyi, ke mana.
Deru hatiku deru
Maju derapku maju
Bintik-bintik bintang
Rintik-rintik tenang
Biarkanlah
Yang ada, rasa
Melangit kupulang semua
Sisa-sisa canda
Tegur sapa landa
Adakah engkau akan tinggal di sini denganku?
Ketawa.
Kerana aku lebih sering mengantuk daripada benar-benar sedar. Kerana aku lebih kerap letih daripada sasa. Kerana aku...ingin meraikan keseribusatuan rasa yang tercantumkulum.
Di sini aku wujudkan, #puisikantuk.
Seperti biasanya, dariku untukku dan cuma berlegar di semesta seorang aku saja.
#1
Ada suara-suara dalam bahasa negeri matahari terbit
Bercicip terus, sulit
Aku ingin meneruskan cita-cita mata
Dan harap segala nusa
Aku ingin rebah,
Di sepenuh hangat pelukanmu
Namun rantaian bakal jadi hari esok
Enggan melepaskan aku.
Mimpi,
Tunggu dulu.
Beradu belum temu,
Langkahku sendu kearahmu.
Akan kumatikan segala kumat-kamit dunia, sebentar lagi cuma.
Bukit Mahkota,
2349H 221117
Aku sudah membeli senaskhah buku nota yang paling sempurna untukku coretkan kisah-kisah sendu dan tangis kita, diri.
Helaian orennya kelihatan begitu ampuh dan mantap sekali. Kata penjualnya, amoi comel manis manja kelahiran Ipoh itu, halamannya takkan ditembusi hatta dek dakwat marker permanent sekalipun. Aku keliru apakah aku tertarik dengan fakta mungkin ia juga kalis peluru dan airmata, atau senyum bermadu amoi Ipoh mali, atau coretan kakak Emoqwin di muka hadapannya. Harganya yang lima belas ringgit itu terasa sungguh berbaloi dengan kualiti dan rupanya yang acah-acah hipster itu. Duit berganti tangan, buku kini kubeban.
Beban untuk cita-cita satu puisi, satu hari.
Tapi sehingga kini, satu hari sudah kelihatan seperti "suatu hari nanti."
Betapa pendustanya engkau, hati, bila engkau gelarkan dirimu pemuisi, tapi kata kau jauhi,
Kata kau jauhi.
Menangis mengongoi buku nota berlaman jingga di dalam dashboard kereta, siapa yang tahu?
Satu dina, satu puisi.
*dina - hari dalam bahasa Kannada
Dan celakalah insan yang masanya terbuang tanpa mengingati Tuhan yang menganugerahkan setiap titis nafas, dan keringatnya yang terlepas,
...sia-sia, sia-sia
Untuk apa bercerita muluk, sayang. Langkahmu perlahan, hatimu rentan.
Langkahmu perlahan, hatimu rentan.
Langkahmu perlahan, hatimu...
Ingatlah Dia, Tuhan.
Dia akan membasuh jiwamu yang rusuh dengan segenap tangis berselusuh.
Rapuh, tiadanya ampuh
Engkau meniti tiap-tiap pecah kaca tanpa tawa yang beritma-
Perit,
Perit,
Sakit!
Tuhan, aku berdosa. Aku inginkan manusia.
Lupanya aku padaMu yang akan senantiasa ada, walau aku dipersia, walau aku dinista.
Hanya Engkau, Tuhan.
Takziah diriku, semoga tertemukan...horizon sebuah ampun.
Kadang-kadang aku bertanyakan pada bintang,
Mengapa dia datang
Bikin malamku terang
Malahan asa kian benderang
Tiba-tiba bintang pergi
Dalam kesayupan, berbisik kembali-
Bintang tidaklah abadi, bisa jua ia mati.
Setiap urat benang yang kukait adalah simpul-simpul hidup-
Luka, tawa, kecewa, dendam sukma
Membikin lagu dan prosa di atas kanvas putih yang kini berbagai warna cerita
Kisah-gelisah kita dan dia
Keseringkali aku menoleh dan berkalih lagi-
Bertambah tona jahit yang termateri
Pinta diuji, ditatapi
Bersedih usah, tenanglah
Jika koyaknya ia, terangkatlah
Segala kenang-kenang, takkan bisa lapang ruang engkau yang senantiasa bingit
Diusik warna dan kata jelira, sempit diasak bisik suasana...
Marilah beradu dulu, pinggirkan durja.
Aku telah lama hilang, aku telah lama hilang
Aku telah lama hilang dan tenggelam
Dibayangi sibuk yang mencengkam
Sirna, sirna
Jalan lurus kian sirna
Ke mana arah ku tuju, ke mana
Ku tompang gagahku di atas nama
Pergi, pergi kataku padanya
Pinta hati ditemani
Aku tak kuasa
Cinta yang terhampar habis kulempar
Tenggorokan sempit terhimpit hampa
Yang berduri kian ditelan
Kononnya mapan
Tak terhancur di keretakan
"Sejauh mana kau ingat, sejauh mana?"
Duhai kamu,
Terima kasih.
Berkelana di buaian
Pergi, kembali
Pergi, dan kembali
Kembara di buaian tidak mengejutkan, tetap mengujakan
Ditiup bayu dingin
Besar kecil besar kecil pandangan
Terderai ketawa termeterai
Meski di takuk sama
Masih tersua gembira raya.
Tangis yang tidak kedengaran adalah gema raung runtun
Menuruni gelap dasarnya hati
Menjauh, menjauh
Aura sunyi bikin orang menjauh
Ada mata-mata tajam tersenyum simpul sekali
Menghirup secangkir kopi, bibirnya berdetis bisa
Memanglah patut, hilang berpaut
Kah!
Hilang tak bersuara
Kolam kesedihan berdesis sendiri
Bertambah lagi titis tangis hati
Pulau sebuahnya perempuan berdiri
Menadah tangan
Rahmatnya Tuhan
Terasakan tak bersampaian, tapi cuma dia yang terlupa mengucapkan syukran.
Beza adalah sebuah kapsul yang seringkali ditilik nilai
Dihantar-hantar ke sana sini melerai jiwa mematah masa
Masa berkalung pelaminan cinta diranap punahnya
Menodakan titik-titik melankoli
Ditunggangi manusiawi tak berjiwa tinggi
Beza marah, tidak peduli
Katanya tidak adil ku disakiti
Pandanglah aku sepenuh cinta
Murni hati melihat indahnya
Tiada padamu, unjuknya
Tiada padamu jua, unjuknya
Takkah kau gembira
Akan nikmatnya kenal?
Beza berlapang dada
Tetap disalah-salah hati yang berdarah
Dalam amarah, ia menyerah
Ada bait-bait syurga hati suci
Memanggilnya, mengajakkan menari.
Katupkan matamu dan biarkan gelap
Hamparkan amanmu dan temukan harap
Sepi
Sepi
Sepi
Cicip udara serasa masin
Angin, dunia lain
Hidangmu rangkap, belum bersantap
Tenang kan hinggap
Selaut rasa teramat biasa
Selam ke dalamnya
Luka berwajah baharu, tersenyum sipu
Buka mata
Nadimu laju.
Mari aku karangkan seraut sajak buatmu.
Telahanku pada malam gelap, adalah titis-titis jiwa
Kosong dan kelam, tepu tak ternampakkan
Ada suara di hujung jalan, menggerakkan langkah yang sekiannya lemah
Maju
Maju
Maju ke arahku
Raut wajahmu belum kutahu
Suaramu lunak asyik membisik, mahu ku tebak
Siapa gerangan di hujung talian
Singkapkan tabir duka malam dengan halilintar pertama
Menyelinap ke matamu di permulaan subuh
Magis sekali, sentak berkali
Di kejauhan, kudengarkan tabuh
Bertala-tala, menyala-nyala
Apakah ini titik pemula?
Mari, sambutkan sajakku ini
Dengan katamu pula, yang mengalun seri.
Mari?
Sepasang mata yang kuyu.
Kadang-kala membeliak pabila hairan, tidak puas hati, atau membentak.
Begitu lembut ketika terpana, dalam angan atau tertawa sejenak.
Sepasang matamu adalah sebuah kolam perang yang dalam, merlik dan indah, kilau dan gemalai.
Aku seringkali karam di dalamnya.
Lebih lagi kala kita yang sama-sama tidak suka memandang wajah yang lain kala bicara, terlihat terus mata ke mata.
Sudah lama aku tidak ternampakkan sepasangnya kolam-kolam itu,
Sehinggalah hari ini, aku tak sengaja tertatap foto kamu.
Senyum kerana kamera menujumu.
Mata lembut, kolam baldu.
Menuntunku meruntun,
Aku ingin bangun dan melihat mata itu setiap pagi.
Tapi takkan pernah bisa lagi.
Meraut pensel karbon di pinggir kebun mata
Menconteng kelabu masa; masa yang hitam
Ada garis kandel tertitip di jendela
Mengapa paksa
Ada sebuah titip di kepagian yang angau
Katanya bigau;
Ditinggal semalaman dikatupi debu
Nafasnya laju
Luru kemari, luruh sehari
Tinta di tenda, layar di langit
Alam begitu sempit,
Kaget
Tinting-tinting awan bersayap lagaknya
Keriut bertanda, sayapkan angkuhnya
Bertamu dulu di pondok kita
Nyalakan pelita
Di hatimu.
Hei, hei
Engkau mesti teliti.
Hei, hei
Bukan begitu, tapi begini.
Hei, hei
Langkahmu bisu
Senyummu sumbing
Tingkahmu marah
Caramu salah
Hei, hei
Jadilah aku, jadilah aku
Jeda sepicing, pandang ke mari
Wajahmu sumbang
Tingkahmu marah
Jangan kau celah
Hei, hei.
Pergi pagi; kerja.
Pulang malam; rumah.
Pergi, pergi lagi.
Pulang, pulang lagi.
Sesekali menyinggah.
Sepanjang jalan fikiran selalu menekan,
Jiwa selalu berkecamuk.
Hidup yang dicambuk sibuk,
Terasa terlalu mengetuk.
Jaga, kantuk.
Apa makna yang menusuk?
Pergi, pergi lagi.
Pulang, pulang lagi.
Sejuta lagu bermain di pemain.
Selakar memoir berpusing di puing-puing kenang.
Hati,
Siapa yang kau pandang?
Pergi, pergi lagi.
Puisi cinta ini aku ungkapkan untuk dia yang belumpun lagi mampir, di wajah Merdeka tahun ini.
Sayang,
Aku baru saja mendengarkan sajak Kekasih karya Usman Awang
Terus aku menerawang
Dalam dunia di mana bintang timur bisa dititip menjadi kerongsang
Melawan kasih yang matang.
Sayang,
Di manakah engkau berada?
Adakah di belakangku kala aku mendengar puisi tadi
Atau di ingatanmu seorang aku, yang kau harapkan akan kembali menuliskan puisi cinta untukmu
Puisi ini untukmu
Puisi ini untukmu
Puisi ini malahan untukmu, berlilit doa pilu dari denting hati kosong yang semakin tipis disalutbeku salju.
Sayang, takbir Aidiladha berkumandang
Ingin aku membetulkan keluk songkok dan letak cekak musangmu
Sebelum engkau berlalu ke pintu Kekasih
Mensyukuri hati masih penuh cinta
Untukku dan untuk-Nya
Puisi ini mungkin menjadi yang paling indah atau yang paling jelek
Dikarang kala belum mengenalimu
Emosi meruntun, aku tenggelam
Memanggilmu sayang, sayang, sayang
Entah tiada atau ada di talian
Sore ini, aku masih punya rasa sayang
Kasih yang teramat dalam
Aku bentangkan lara di tikar kerinduan
Sampai kau datang, memerdekakan aku dari sepi,
Sayang.
Malam Aidiladha yang belum merdeka.
Bukit Mahkota
310817
Selamat ulang tahun, Negaraku.
Beberapa tika aku melungu mendengar
Kata-kata lontaran watanmu
Membilang neka warna merdeka
Dengan definisi serba-serbi
Layakkah engkau dipuji, atau dicerca, atau diharap hati?
Tanahmu agam, sekian lama menyergam
Emosi, cita dan airmata
Engkau baru saja bertatih, bukan
Belum pulih tempang dijajah semalam
Engkau merdeka, ya pasti merdeka
Namun sorak-sorai belum membasuh dosa
Anak-anak budiman yang belum punya bangga
Sebenar-benar bangga,
Berdiri mengalun lagu pancaragam tanda kemuliaan bangsa.
Aku masih percaya padamu, Negaraku.
Bangkitlah dengan sebelah kaki, atau satu lagi
Kita akan sama-sama rintis,
Mata-mata benci kita tepis,
Masa depan yang semakin jernih, kuaminkan di setiap ingat-ingatan manis.
Selamat Ulang Tahun, Negaraku.
Melorek kenang di setiap segi jubinan hijaumu
Melantun ceritera silam
Setiap takbir berpalu-palu
Setiap tahmid berpadu-padu
Menara berpundakmu selalu setia
Mengalun azan di lima ketika
Masih dikunjung masih dikagum
Lambang nama Tuhan sekian lama diagung.
Masjid Kg Kling, Melaka
1347, 300817
Mengunci biara lara, sepi
Berkelintung gema kaki di kubah rintih
Berbalam-balam cahaya melawan tingkah langkah
Bocah dilayan seperti hama
Laba-laba tersisa, tak dihabisi santap
Mengapa harus lelap
Segala untai dan rasa yang belum terintai senyap
Gelap, seisi buanaku gelap
Belum adamu belum tampilku
Berdiri di bidai melangit merantai
Ketik-ketik listrik aksara tertepis lentik
Misalku, tangisku
Sebaris hambar terbiar seperti patutnya ia
Terbiasa beriya-iya,
Untuk apa dinantinya denting gading putih
Jerih, perih
Laksamana belum bertingkah, bunganya sumbang
Pintas dan pantun dibilang-bilang
Kenapa tidak sekarang
Setahunannya fikir takkan berakhir
Gempur saja
Hambur segala mundir
Gebang segala lampir
Biar mati
Biar hampir.
Kelekatu jingga
Mengelabui mata
Rona petang yang serasa memeluk
Hangat seluruh kebuk
Membising ganggu pulas
Takhtaku pusing culas
Ah, hari semakin kuning
Dan laut semakin pening
Masih ada sisa sebelum senja
Kelekatu jingga belum keluar berpesta.
Pengunci
Kau punya kuasa
Pinta aiskrim atau mangga
Punya semua
Punya angkara
Apa menari di fikirmu
Imajinasi atau benci
Cinta atau kuku besi
Lihat apa kau perlaku padaku
Bukakan gari ini
Bebaskan hari ini
Suntikkan
Picagari
Lerai, lari.
Usai Teater Kurung
Minut Init, Damansara
260817
There was a time in my life when I was 26, and I don't have a life goal.
(I still don't. My only real hope (I feel too unworthy to call it a goal) is to die as a good muslim.)
I just finished my uni years, and I am back in Malaysia where my peeps had already built their careers and have kids and bought a house and whatnot.
I don't even know how to drive.
And a job seems so far, because of the stupid delayed placement. And it's funny when people thought medical graduates couldn't do any other shit other than doctoring, and I had a hard time looking for part-time jobs, though at last I do nailed two.
My college friends are all scattered all over Malaysia. The ones near to me are also too busy to hangout.
There was 2 things that I never gave up.
1) My blog and my blah-blahs
2) My twitter account and my blah-blahs
It seemed to me that I got a lot to pour out.
There's this 2 guys I knew first from their blog, and then on Twitter. They're friends when they were in lower secondary. They're still tight with each other. They are awesome writers and bloggers. They appreciate words, arts, vocabulary, grammar, and looking at the world to find its meaning. They are total nerds. And they are awesome.
Their names are Najahul Akhyar, and Syed Badruz-Zaman.
One thing led to another and suddenly we arranged a meet up.
And suddenly we were Golongan Pelik Saling Mengampu. This weird trio.
We wrote stuff, and criticizing each other's. We went to museums and wrote more stuff. We alerted each other when there's writing competition (which I never really joined but yeah) or any other events. We went to book fests, we anticipated BBW. We went for karaokes. Soon enough I felt like they're my truest best friends, and I can tell them anything and everything and I mean it. I do tell them anything and everything.
If anything, they kept me sane.
Looking back, my life would be so different if they're not around. I could live my double life as a kindy teacher cum TV episodes translator while struggling to pass my driving license and waiting for my unholy housemanship call, alone. I could fall into depression and misery with no other person to talk to other than my siblings (who have absolutely no interest in me or my boring life) or my mom (whose life goal is to manage the family and always ends up confiding her problems to me instead of the other way round.) It was a hard time for me. A really hard one.
And these guys. I feel like I owed them my life.
There are some people, whom I felt like I owe them my life. Like the person who got me through my first posting in housemanship. And the two people who talked me out of the idea of suicide when I already had the knife in my hand, that time when I broke up with that guy.
Of some uncertain reasons, these people also happened to not talking to me anymore these days. Like yeah maybe here and there but not like we used to.
If these people got into anything and need anything, anything at all, at whatever price,
I'll be there.
And these two peliks, I also happened to be not so connected with them anymore. Life progressed. I am now a year in my housemanship, hustlin' day in day out, driving my own Myvi, got into an accident the other day.
And just like how unceremonious we had got together, we just part ways.
Slowly, but surely.
And it makes me sad. It makes me depressed on my hungover days like today, when I'm tired of yesterday's ED call and is virtually free and have no one to talk to.
As this is the most recent parting I had, it cuts me real bad. And at this age and situation, I don't have the time or energy to self-recover, quick.
I found myself singing alone loudly just to fill the space.
I found myself driving my poor fragile Myvi at 150kmph just to see if I got into another accident or not.
I found myself crying after prayers, wishing that I have a friend.
I found myself staring at my mother's plant, wondering why it wilted so fast.
I found myself so lack of passion.
I found myself losing myself.
I am not blaming them. I just missed them.
And being the adult that I am now, I know that I should let them led life, and if it means more without me around, they should go on without me. And be happy.
It still feels like losing some part of myself.
And I hope I am okay, and could be happy again, too.
I am in peace with them. And if time and God permits, I would like to have one whole day for coffee and all our conversations.
I miss you guys, and this is a tribute to Syed and Naja.
Be happy.
Malam, yang mengapungkan segala mungkin
Aku tersenyum sendiri
Mengenangkan senyummu di hari itu
Seperti ada satu kuasa sakti
Membangunku dari kantuk
Memapanku kala lelah
Aku sangka telah lepas aku dari segala rasa
Namun
Yang manis akan selamanya gula
Sehingga kau pergi, sesungguh-sungguhnya.
Ada titian yang mengolok kembang bunga di kepagian hari
Katanya untuk apa, menyembah limpah mentari
Dimamah-tinggal, panas malamnya
Tak kekal jua, binasa malarnya
Titian terlupa ia yang kekal, diinjak-injak selalu
Demi mengagumi warna-warni bebunga
Bunga diam, kerana yang indah selalunya diam
Dan yang mengolok itu keras, sepertinya titian
Yang tidak tahu lebih baiknya tidak diinjak
Daripada kekalnya mengeluh di kehidupan seluruh
Olokannya menjadi satu paradigma tak berbalas
Terapung-apung di ruang hirau
Menampung nilai yang berkilau.
"Kau pergi sana dengan siapa?"
"Diri sendiri."
"Kau tengok wayang itu hari dengan siapa?"
"Diri sendiri."
"Macam mana kau boleh ingat jalan? Kau bukan baru pandai drive ke?"
"Aku kena selamatkan diri sendiri."
Diriku,
Kita senantiasa ada kita.
I want to live properly, and fully.
I feel like these days, I'm doing things half-heartedly, if not heartlessly. I do things cz it needs to get done, and I just happen to be there. I feel unfortunate, I feel unimpressed, I constantly get comments that I don't do my work properly like it's supposed to be done. Like there was something wrong with me. Something is off, something is not right. And I fell for it. I started to believe that I'm really stupid and incompetent, and slow and unreliable. Working long hours, spending so much time on charting. I blame it on time, I blame it on age, I blame it on the geniuses minds that I was not born with.
I need to take a deep breath, and rethink.
I need to count my blessings.
I need to stop cursing all the things under the sun.
I need to say things that only need to be said.
I need to stop hurting the ones I love.
I need to expand my heart, and grow a lil vine of care.
I need to stop being so childish.
I need to stop believing that I can't do things, and learn. And have the will to learn.
I need to wake up, and get up.
Now.
Today is the second day in a row, where I face death.
Yesterday I did CPR for the first time throughout my housemanship. Yeah, my anti-jonahness is really running out in this dept. (Malaysian medicos lingo: Being Jonah means u have bad luck. Like an omen. Lol. I know I shouldn't actually laugh but doctors have a really dry sense of humour, so to speak.) The uncle was in and out through it all. He couldn't maintain his pulse without our CPR. After 30 mins, we call it quits. And let the uncle rest in peace. And my left eye muscle is twitching outta lethargy.
Today morning, it was my first time in charge of the coronary care unit. Filled with unstable, very ill, tend to collapse at any time patients. 8 beds in all. And this one uncle just screamed when he saw me.
"Doktor!! Tolong saya doktor!!!"
I attended to him, steths flailing around my neck. He felt breathless, he said. Kept shouting and not even trying to breathe. Checked his lungs, reduced air entry. But his lungs already shown cancer signs, so it's expected. I asked him to calm down, breathe in and stop trying to speak. His breathing normalizes for mere seconds. Then he shouted again.
The nurse outside hinting me to come out of his room. Then she told me he's been liddat since admission. We tried to increase his oxygenation, but he refused to wear the face mask. "Doktor jangan tunjuk muka, dia memang nak ada orang dengan dia sepanjang masa." I felt a tad bit bad for him, cz I would've feel the same if I'm at his place. In the afternoon, while our team are actually discussing with his family whether to give active resuscitation should he fell into collapse or not, he actually collapsed.
"Doktor, patient unresponsive!"
My MO hit my arm, "Dik u pegi dulu cpr, i setelkan family!" I jumped from my seat into the patient's room. The male nurse was on the patient, trying. I looked into the patient's eye.
"Dah tak ada tu bang. Fixed dilated."
"Takpe dr family belum bagi kata putus."
Glassy eyes staring at me like a pair of doom filled beads. My MO came in rushing. "Sudah. Mereka kata NAR."
The male nurse looked at me. "Tadi dia sempat mengucap."
Both times, the same thought crossed my mind. How will I end mine? Will I have the ability to remember God? Will He allow me to end with His name on my dire lips?
I am so out of touch with my spirits lately. I am soulless casket, filled to the brim with misery.
It took 2 deaths to shook me.
And bring me to Allah.
Oh Lord, Master of this meager world, Master of me,
End me with Your name.
Aku memerdekakan engkau dari persahabatan yang kian tempang-
Kata engkau
Sedang aku terasa malang
Dirudum sangka yang entah-entah
Kata akhir kita adalah sebuah bisu yang terempang-
Merungkai tangis yang selalu mengejutkan aku di tengah malam
Bingkai-bingkai yang rapuh
Yang ku warnakan gangsa, perlahan
Mengapa harus rentan
Sejiwa jarang tertemukan
Sekata malap-malap di persiaran
Orang bilang kita aneh sekali
Gembira aku diselimuti
Direntap habis aku tak bangkit mandiri
Magis berbalas tiada
Di kejauhan ada satu jeda
Diam, pedih
Sampai bila
Senyum aku lihat kau bahagia
Terasa ingin senyummu menguntum sama.
Tidak betah selalu
Berada di luar garisan
Putus syukur
Tirai terhancur
Mana pergi tali temali
Yang mengalunkan luka
Ruang ini sepi sekali
Tiada langit cemburu pakai
Melatah di pintu durja, jangan
Sering dilaungkan yang bukan-bukan
Bukan salahmu terlihat selalu
Hati membatu tuduh melulu
Dalam kayangan tersemayam tinggi
Aksara ini
Melilit kepala puisi
Dengan permata paling kilaunya
Meracun sukma membuta angsana
Sungkur
Belum ditemu kita noktah teraju.
Membeza-beza asbab dan santun
Bukanlah kita
Belumlah tertera semula
Jahitan tulang belut di hati
Apakah akan terlalu lagi
Atau selamanya sepi
Kawan
Ingat-ingatku padamu
Selamanya tinggi
Janganlah engkau bersalah sangka padaku
Takkan aku meminta lebih
Dari jiwa yang perih
Selain setitis redhamu.
Ungkit dan pamit
Silih berganti
Kehabisan bicara ditelan
Pahit
Tiadakah simpatimu sekelumit
Cuma secebis pinta
Untuk disanggulkan cinta
Di pemula hidup selama-lama
Baharu,
Yang tertinggal kan kelu.
Maaf,
Ini bukan persinggahanku.
Dimabukkan kantuk yang menyelimuti
Terjaga digoncang borborigmi
Ah, puasa sudah berakhir, hari ini
Rumah bukan tujuan tenang, tapi pelarian
Menumpangkan asa dan ego yang terambing-umbang
Sosial melintang pukang
Kawan dibilang-bilang-
Tiada yang menang
Menempik jiwa di kalbu yang pernah basah, suatu tika
Rindu sedar dan harap di hujung celaka
Perlukah parah sebelum ada
Segala laba terpinggir para-para syukur,
Dihurung alpa yang dungu
Ke mana arah tuju kereta api ini
Ke Seremban kah,
Atau ke bangkit mu
Taman Wahyu-Bangi
Remadan 14.
Ia pernah menjadi kemegahan
Disebut-sebut, lambang mewah
Ada cita-cita
Ada maruah
Di kiri kanannya anak-anak kecil melungu
Jari telunjuknya mengikut pesawat ke angkasa biru
Mahu terbang!
Mahu jadi konglomerat yang ke udara selalu
Bunyi bisingnya mengujakan
Hampir tiap yang menatap
Tak sengaja senyumnya tersingkap
Benar
Negaraku punya lapangan terbang
Tidak di bawah tempurung kami bersarang
Kini semua sawang-sawang yang bergantungan menempelak lapangan sepi
Dahulu,
Engkau begitu dan begini
Kini cuma menjadi memori
Bingit-bingitan di pinggir lebuhraya,
Suatu kenang yang terheret modenisasi.
Lapangan, aku pernah berdiri di persadamu
Lapangmu sekarang malahan kosong seperti hatiku.
Untuk apa mengejar mesra dan kasih murni
Jika jiwa masih kabut kelabu
Langit masih menaung
Laut masih bergaung
Belum habis seisi kaurenung
Untung
Mungkin cuma sepelaung
Betapa tinggi kau nyatakan sesal
Pada rintik yang kau ambalkan
Tiap cita di penghujung dangkal
Tiba di sini
Masih belum terjangkau
Hijau selalu menyambut
Dan rembang sering menyanyi
Tinggal ditiliki lagi
Zarah-zarah syukur yang terapung
Air mata tengah malam
Fikir-fikir yang terjerut
Tak dikambus bayu denting satu pagi
Hati yang semakin bungkam
Tentang sayang yang terpaut
Membunuh hembus sebelum mati
Engkau
Aku
Persada ini sepi.
Untuk NAI
Sahabat yang kurai dalam pateri hari
Di usia ini, aku telah menyaksikan begitu banyak kepergian.
Yang aku pinta, yang aku tangisi, yang aku terpinga dan yang bikin aku rasa berdosa.
Siang tadi, aku membicarakan tentang kita dengan entah siapa-siapa. Ujarku aku tak akan pergi, kerana aku sayang. Kerana aku lelah meratapi kepergian.
Tapi kau tetap pergi.
Dan aku bukan pemaaf. Lebih lagi pula, bukanlah aku peminta maaf.
Insan yang paling tidak aku maafkan adalah diriku sendiri.
Selalu, yang paling kusayang adalah yang tidak kusebut. Yang hatinya berlalu tanpa sempat kurebut.
Selamat hari jadi, sahabat suatu tika. Dan selamat pergi, sahabat setahun ini.
Setiap marahmu adalah setiap tumpahku.
Dan malam terus bersambung mengutuk aku dalam sepi.
Sedari remaja kita
Berdua-dua mendengar lagu kegemaran
Teruja dengan dakwat kilat-kilat
Aku sangka kita takkan pernah menua hingga
Kau angkatkan sebelah tangan kepadaku, meminta tunggu
Sambil keningmu terangkat risau
Menilik skrin telefon pintarmu
Meladeni segala kerjayamu
Dan waktu itu aku terpinga
Adakah aku tertinggal gerabak dewasa?
Aku ketemu seorang yang asing
Yang berkata, sungguh banyak yang kau sembunyikan
Engkau terima, dan engkau telan
Sedikit cuma yang engkau luahkan
Lingkaran mataku longlai memecah
Butir-butir air yang telah lama terempang
Ditahan bara yang menyimpang
Benar,
Aku pengulum cerita
Tak sangka ada insan lain yang ternampakkan semua.
Kerincing-kerincing kaki
Terkedek-kedek menari
Si cilik, kau mencuit hati.
(Tak sempat kuambil gambar curi.)
Yang rambutnya gulung-gulung itu seperti ombak malu-malu,
Pinta disayang-sayang selalu.
Menelangkupi realiti sunyi-
Aura-aura berani.
Di keseorangan aku menongkah dingin subuh untuk mencari secebis hari
Tersenyum manis penuh palsu menanti segelas kopi
Alangkah indah, indah, jika dikongsi?
Dalam tertawa hiburku seorang diri
Melihat si kecil menghayun tangan bondanya-
Terjepuk ingat doa ibuku
Mahukan aku berhenti mengelamun
Biar disapa yang sayang di setiap bangun
Ah
Kesendirian bukan pilih-pilih hati
Tak layak dibenci
Tak rentan dibendung
Selagi asaku masih menampung
Akan kutelusuri hari-hari, biar murung
Biar awan tetap bersiaga, mendung.
Simpang siur Selayang
Menyusuri hariku, sayang
Ada kelekatu di tebing lampu jalan
Menampar aku, hidup selamanya, bukan
Pilih malam atau siang
Aku senang
Berlama-lama di jalanan
Menyendiri di lampu merah Selayang
Sayang,
Begitu lama merahnya seperti merahnya wajahku melihat dia
Dia buta
Dia buta
Aku luka
Selangit-langit dan sebukit-bukit Selayang mentertawakan aku, girang
Masih seorang
Masih benderang
Tidak lama lagi mungkin terpadam palam
Di simpang siur Selayang,
Rindu ku terbang
Agar tertuntas semua rantai yang malang.
Telah ku kumpulkan rasa dalam satu tabung kaca
Yang ku tampalkan nama kamu,
Dengan tulisan simpul-simpul
Seperti asa yang merangkul
Tiap tangkai dan kunci hati
Agar tidak jatuh ke dasar peti.
Warnanya terang-terang kilat
Dari jauh kan bisa kau lihat
Bak wajahku yang bersinar
Melihat kamu duniaku berputar
Keberadaan diri kian sasar
Sudah!
Angau ku menyambar.
Telah lama tak ku temui tampang kamu
Tinggal bayangmu di tiap sudut mataku
Hari kekasih kian hampiri
Tapi kasih, di manakah kita berdiri?
Botol kaca ini hampir pecah mengingatkan kamu,
Hatiku makin parah dilambung tawa waktu.
Sehelai bandana biru
Yang tertinggal di pinggir batu
Seperti aku
Yang hilang di persada waktumu
Masa lalu yang pergi
Menerjuni masa seperti air
Yang terus terus mengikir
Waktu dan segala ingat
Tawa dan senyummu yang pernah hangat
Aku seperti batu
Yang tak terlupakan
Yang sering ditinggalkan
Arus dingin tak berkesudahan
Engkau air, deras semilir
Aku batu, keras terpinggir
Kubiar segala kisah terapung-apung di cebur-cebur detik
Dan kadang memori yang terpetik
Mengundang tangis yang menitik
Kerana kau dan aku
Cuma bandana biru yang robek
Di pinggir batu air terjun yang tinggal.
Air yang terjun di dada batu
Dingin mencengkam
Pilu, rayu
Segala jerit hiruk pikuk sendu yang menusuk-
Tenggelam
Aku menuruni kebatuanmu, dengan seutas tali berhayun
Dilimpahi deru yang berkurun
Luka dan biru menjadi makjun-
Hatiku yang biasa murung
Kulayangkan gentar-takut tinggi ku pergi, diawangkan nota suara teratas
Nafasku lepas
Jatuh ke dalam air yang tidak buas
Mencuri pandangku segera
Mengembalikan aku, sirna
Entah ke mana pegi keluh kisah dunia fana semalam
Dibasuhkan rintik hujan dan alun-alun sungai
Aku telah pun sampai
Ke suatu hujung tak berwajah,
Diruntun damai.
Seperti anak kecil berlari.
Terkekek-kekek mencari tempat sembunyi. Di sudut yang kakinya kenampakan, ada cahaya dalam hatinya, fikir tak ditemukan.
Begitu nyata, begitu mata.
Bila dijumpakan, berderai-derai tawanya memeterai,
Waktu permainan yang tamatnya tak bersampai.
Kini kakinya masih kelihatan, memanjang keluar, di balik langsir senteng di hadapan rumah.
Tapi kali ini, dia pinta ditemukan.
Dia berdoa sekerasnya, agar jangan ditinggalkan.
Debu-debu pintu landas di belakangnya semakin menebal. Dan keluh hatinya semakin sebal.
Marahkan langit, mendung semalar
Marahkan jiwa, mendung terkulum
Kelam ini semakin ranum
Kandung
Hilang terpecah kalbu merundung
Lari dalam pusing-pusing entah apa
Letih saja
Tidak kian pudar dipanah haba
Mestikah aku tetap berdiri dalam lohong hitam ini
Sedang zarah diriku semakin ditarah
Agenda tak habis yang menaik parah
Di bibir kantuk kakiku menari
Di pipi mabuk hatiku sunyi
Tawa-tawa cerita
Hilai suka duka
Di suatu pinggiran hati
Engkau ku ingat peri
Apakah ini hukuman
Untuk yang tak terluahkan
Mencari senyum di mata yang lain
Menampar kenang di sudut selain
Masih derai ketawa yang kamu
Yang ku kenang kenang selalu
Meski dudukku di sebelah yang ada
Syukurnya memerca
Kamu tiada jelma
Mungkiri sepi, aku biasa
Yakini pergi, aku terluka.
It's hard not being the dominant one.
It's hard to be unpretty and uncool.
It's hard to be the blur one amongst the bright minds.
It's hard to grow old alone, and your so-called friends make fun of your age.
It's hard to let a friend go, and admit you can't talk to them like before anymore.
It's hard to be under scrutiny and pushing yourself for deadlines.
It's hard to be the firstborn.
It's hard to be the junior.
It's hard to still stand on your own feet and stay strong.
It's hard to keep the tears in.
It's hard to be, me.
"Kau suka dia?"
"Mana ada."
Begitu lancar aku menipu.
Orang mungkin tertipu,
Mungkin lama-lama,
Hati aku pun akan tertipu sama.
Bohong.
Aku memang suka dia.
Tapi aku tak sanggup lagi terluka.
Pernahkah kau memerhati titis-titis hujan yang bertempiasan di bingkai jendela?
Terpercik, lalu ia menyusur mengikut keluk-keluk kaca, dan memecah mengikut arah yang tak terduga.
Bunyinya jika kau diam dan dengarkan, cukup menenangkan.
Pernahkah kau memerhati, emosi-emosi yang bertempiasan di wajah-wajah kita?
Bunyinya jika kau diam dan dengarkan,
Pasti kau bertambah siuman.
- Hujan lagi hari ini,
Tiga Januari,
Selayangku Sayang.