Wednesday, February 15, 2017

Di Simpang Siur Selayang

Simpang siur Selayang
Menyusuri hariku, sayang
Ada kelekatu di tebing lampu jalan
Menampar aku, hidup selamanya, bukan
Pilih malam atau siang
Aku senang
Berlama-lama di jalanan

Menyendiri di lampu merah Selayang
Sayang,
Begitu lama merahnya seperti merahnya wajahku melihat dia
Dia buta
Dia buta
Aku luka

Selangit-langit dan sebukit-bukit Selayang mentertawakan aku, girang
Masih seorang
Masih benderang
Tidak lama lagi mungkin terpadam palam

Di simpang siur Selayang,
Rindu ku terbang
Agar tertuntas semua rantai yang malang.

Sunday, February 12, 2017

Sebotol Rasa Ini

Telah ku kumpulkan rasa dalam satu tabung kaca
Yang ku tampalkan nama kamu,
Dengan tulisan simpul-simpul
Seperti asa yang merangkul
Tiap tangkai dan kunci hati
Agar tidak jatuh ke dasar peti.

Warnanya terang-terang kilat
Dari jauh kan bisa kau lihat
Bak wajahku yang bersinar
Melihat kamu duniaku berputar
Keberadaan diri kian sasar
Sudah!
Angau ku menyambar.

Telah lama tak ku temui tampang kamu
Tinggal bayangmu di tiap sudut mataku

Hari kekasih kian hampiri
Tapi kasih, di manakah kita berdiri?

Botol kaca ini hampir pecah mengingatkan kamu,
Hatiku makin parah dilambung tawa waktu.

Tuesday, February 7, 2017

Bandana Biru

Sehelai bandana biru
Yang tertinggal di pinggir batu

Seperti aku
Yang hilang di persada waktumu

Masa lalu yang pergi
Menerjuni masa seperti air
Yang terus terus mengikir
Waktu dan segala ingat
Tawa dan senyummu yang pernah hangat

Aku seperti batu
Yang tak terlupakan
Yang sering ditinggalkan
Arus dingin tak berkesudahan

Engkau air, deras semilir
Aku batu, keras terpinggir

Kubiar segala kisah terapung-apung di cebur-cebur detik
Dan kadang memori yang terpetik
Mengundang tangis yang menitik

Kerana kau dan aku
Cuma bandana biru yang robek
Di pinggir batu air terjun yang tinggal.

Monday, February 6, 2017

Kanching Falls

Air yang terjun di dada batu
Dingin mencengkam
Pilu, rayu
Segala jerit hiruk pikuk sendu yang menusuk-
Tenggelam

Aku menuruni kebatuanmu, dengan seutas tali berhayun
Dilimpahi deru yang berkurun
Luka dan biru menjadi makjun-
Hatiku yang biasa murung

Kulayangkan gentar-takut tinggi ku pergi, diawangkan nota suara teratas
Nafasku lepas
Jatuh ke dalam air yang tidak buas
Mencuri pandangku segera
Mengembalikan aku, sirna

Entah ke mana pegi keluh kisah dunia fana semalam
Dibasuhkan rintik hujan dan alun-alun sungai
Aku telah pun sampai
Ke suatu hujung tak berwajah,
Diruntun damai.