Apakah semesta dan bunga tahu akannya-
Kerinduan sebatang pohon
Pada kuntuman aneka warna, aneka citra
Saban musim kembang
Tiga musim dihitung-hitung
Musim hangat, semi, dan dingin menggigit
Semakin sempit terasa di hujung-hujung dahan yang gersang
Semakin hampir letusnya
Meski tiada warna di beku yang menderu
Akhirnya musim kembang pun tiba, bersama unggas dan cahaya-cahaya
Dan warna-warna bunga pun terus-terusan tumbuh bagai berdansa
Dan hijau-hijau luhur pepohon menguntaikan syukurnya
Terbukti kasih Tuhan masih bergema di kali kesekiannya
Namun, tak semua kekal, malahan rapuh
Lalu pohon pun akur pada bayu musim semi
Dan bunga-bunga kebanggaannya layu, dan diterbangkan pergi
Mengisi ruang tanah yang masih basah
Menangisi pemergian pemuda-pemudi penggerak kemanisan jiwa
Terbang-terbang karkasnya, hapus semua ingat dan seri
Pohon pun menangis dan berdendam di musim dingin, sedingin hatinya yang kini suram dan mati
Sedihnya berceracak di dedahan gelap
Kesayuan yang kadang-kadang kelihatan indah, di gelimpangan angin yang senantiasa marah
Meski mengandung letusan yang bakal membakar habis setiap seranahnya
Di setiap-setiap bunga yang jatuh,
dan kuntum yang pergi,
Bergenang lagi gerimis embun sepi si pohon menanti.