Tuesday, May 31, 2016

Away.

Sebaiknya kamu mati saja, rasa
Sebaiknya kamu berkubur saja, asa
Menunggakkan kita,
Aku sudah tak kuasa.

Sedari dulu aku tak percaya
Kita akan melalui jalan, sejauh ini bekasnya kita
Tapi rupanya aku pemberat
Ladung besi bersiur ke barat
Engkau, aku kasihan engkau
Kenapa aku kau tak pernah tinggalkan
Setelah berkali kau, aku susahkan

Maafku pinta dari kau, kawan
Aku tidak tahu apa erti kita
Dari ayat sebaris dua
Terasa runtuh seluruh semesta.

Hatiku patah, semestinya
Tapi aku telah biasa
Aku malahan terpaksa biasa.

Biarkan aku pergi.
Maafkanku, sekali lagi.

(dan benarkanku kembali setelah dua hari setelah habis aku berperang emosi sendiri.)

Ah perempuan memang selalu paradoks
Dan juga ironi.
Aku benci.

Ubatnya Rajuk

Jika ditanya si anak kecil;
Apa ubatnya rajuk?
Jawabnya, lekas,
Datang, peluk dan pujuk.

Jika ditanya si dewasa rupa;
Apa ubatnya rajuk?
Jawabnya, pergi,
Jangan sesekali kau sibuk,
Jika kau soalkan lagi,
Mungkin kau laparkan amuk!

Si dewasa rupa berdiam sendiri
Dalam raganya tersisa tangis anak kecil,
Mahunya masih-
Rajuk, dipeluk pujuk.

Rama-rama Jiwa

Sepasang sayap rama-rama
Terkurung di rerusuk dia
Mengepak
Mengepak
Mencari pintu-pintu kuak
Kadang bunyinya terterpa
Jika engkau mendekat terlalu
Lekas-lekas dia berlalu
Menyembunyi rama-rama
Biar bisu

Sepasang sayap rama-rama kian baldu
Berat membatu
Tampangnya disayup bayu
Dia, ingin menjadi konkrit
Katanya, biar sayapnya terjepit
Asal saja
Asal saja diterima orang, tak perlu terkenyit

Tiba suatu tika rama-rama mengamuk
Entah apa yang merasuk
Pecahkan konkrit ini! Ini bukan dirimu
Pecahkan kebatuan ini! Ini bukan nyawamu
Rama-rama jadi raksasa
Melawan raksa
Patah rerusuk dia ditebas sesayap sasa
Dia pun runtuh
Jatuh
Terasa mati, terasa rusuh
Rama-rama! Teriaknya,
Mengapa aku kau bunuh?

Rama-rama sakti terbang tinggi, menghilai pesan
Hai insan
Engkau tak ketahuan
Engkau intan
Usah kurungkan perasaan
Usung ke mana kebatuan
Biarkan saja engkau pecah- Biarkan!
Asal engkau lebih kemanusiaan.

Dia tidak lagi menjadi batu.
Dia tidak lagi menjadi bisu.
Pandang terterpa pada pecahan rusuk itu,
Mengenang rama-rama-
Hatinya disentuh salju syahdu.

Monday, May 30, 2016

Doa Kala Asma

Di keseparuhan helaku
Ku nilai putih dan biru
Tinggi dan rendah
Jelek dan indah
Kasih dan marah
Mahu dan serakah

Ironinya kamu
Nafas hampir ketemu sudah
Baru terjebak melafaz sumpah
Insaf dan kisah
Ah
Tuhan kan Maha Suci
Kau lupa, Dia juga yang cipta benci

Masih, terselamat-selamat
Sedang ampus ini
Mengajarkan rahmat
Bila kau 'kan mengucap taubat?

Sunday, May 29, 2016

Genderang Hati

Genderang kamu berbunyi lagi
Ombohnya berkeriut-ribut
Melabuh keras pemandu sunyi
Pergi
Ke mana saja mencari diri
Di sini aku, bakti
Membuang waktumu yang sepi

Keluh kau tentang desingnya layang-layang membising
Bagi aku sudah cukup lanting
Tertanam seperti anting-anting intan
Di lubuk hatimu yang dalam
Segala benci dan dendam
Kau lumat dan baling, biar asing

Lalu bersyukurkah kau, si pemandu sunyi,
Sekarang aku terus berbunyi, mengisi
Hari-harimu yang entah ke mana pergi
Tetap aku telusuri
Meski ombohku berkeriut caci
Biar engkau bahagia, sendiri.

Laksa Asam Ummi

Jalur-jalur putih berkilau
Rencah merah, hijau dan kundang
Disulam pekat tenggiri memecah
Deria rasa, dan syahdunya jiwa
Ku ulang, dan ku ulang
Dari detik mula hingga sekarang
Tanda cinta, tanda sayang
Dalam, secukup anekanya kau karang

Bonda,
Laksamu ku kenang.

Sebelah Mata

Meratapi hari-hari sepi sambil kupetik kuntum-kuntum bunga-
Oh, aksara
Lagukan derita dan lara
Menangisi diri yang saban masa
Terpandang sebelah mata
Oleh dia

Lalu aku menyalahkan dendam
Mengagumi kau dalam diam
Menjerut nafas sehari-hari, dalam
Aku tenggelam
Di tenggorokan pipih nafas berlalu
Melaung kata padamu, ku kelu

Setiapnya kuntum yang lerai ku kutip, elok
Buat menyapu hari yang kelam
Esok pasti datang
Bintang, engkau bintang
Jauh tapi terang
Tak tercapai, tapi tetap kusayang.

Saturday, May 28, 2016

Kegilaan Apakah Ini

Di persada egois
Aku bebas
Lepas
Lolos dari jerutan citra
Ritma yang berulang sama
Runut-runut yang meruncing
Tingkapan mata yang memicing
Aku terhanyut sama, pusing
Biarkan engkau, engkau dan dia
Segala empati ku biar, jadi puing

Tak ingin aku lihat kau merintih lolong
Tapi
Tapi
Tapi
Aku terasa lohong
Paduan rentak ranap kaki di belakang
Aku ingin pulang
Aku ingin kau senang

Bohong
Jika ku kata ini jelek
Padahal ini magis, aku tertarik
Tapi hati aku kian terlorek
Pada pandangan sayu kau
Takut aku dirobek
Dunia yang semakin sompek

Tarik
Aku ingin dibumi
Dalam kejiwaan aku sendiri
Dan kecintaan paduka puteri.

Sejenak Kata Bercumbu di Minut Init

Bersila di ruang ini
Muzik dan kata saling menemani
Tragik
Alang-alang cintaku seiring terpetik
Cantik
Berkita-kita dalam haba semesta
Terbalut kata-kata dalam siulan gitar listrik
Terpantis kesunyian
Menimpa asyik

Ku buangkan resah-resahku di angin semalam
Hujan pagi membasuh lagi
Segala gumam
Aku insan kata-kata
Biar kita bikin bicara
Pagi ini,
Kita cerita dalam birunya aksara.

Thursday, May 26, 2016

Too Good To Be True

We are, too good to be true.

I am happy
I am afraid
I am relentless
I am breathless

For the two of you
I throw my dreams and fantasies
I open my past and my dark sanctuaries
I'm flawed, but free
I'm broken, but thee,
I can't refuse the calling to flee

For the two of you, are nothing but strangers
But how strange it is, when strangers are closer to your dreams
For being us, gives me another day
Another year
Another game to play

I'm never down when you are near
This happiness crunched me down with fear
What will I become, when there's no more 'we'?
Will I accept that everything, got an expiry?

I don't want to overthink, but I don't know how
I am thankful to Him for what we have now
Even if we broke, or one of us gone,
I'll cherish us in my heart, forever till I'm none.





Keon being emotional.
Thank you.
I takkan cakap ni depan-depan.
Hachamtu.

Wednesday, May 25, 2016

Conflicting Morales

Nothing beats humanity and sanity-
Better than conflicting morales
I'm on a thin ground
Anytime might fall and drown
And you,
I wish I'd never upset you
But no
But no
But never

I wanna run to a quiet place
Where no one made demands
And I can indulge in the tropical pace
All warm set all year long

And I'm brought down here again
Till when you're gonna run
Till when you're gonna run
Till when you're gonna run
Just suck it in and be fine

A mask changes nothing
Yet it made everything better
And my inside's feeling bitter
From a scene I never wanna encounter

I wish this wasn't us
I wish we could be just

But the world is never fair
And I gotta learn what's out there

I don't wanna grow up, just yet.
Not today. Not ever
And be of the Peter Pan generation forever.



Life ain't sweet.
Me. And my confused wits.

Tentang Peminta di Tepi Koridor Yang Menggendong Anaknya

Engkau berteleku di tepi koridor usang
Memandang pejalan-pejalan dengan pandangan kosong
Entah ke mana, pantas langkahnya
Atau cuma mahu lari dari berdepanmu cuma

Engkau tetap setia, menghiasi koridor itu
Dengan cawan polisterena, di atas bangku biru
Anakmu telah lama lena, dibuai rentak-rentak kaki
Derap
Derap
Derap
Dalam mimpi tercapai semua harap

Ada ketika, di kebolongan kaki bangku yang kecil
Engkau tumpang mengira hasil
Apa cukup untuk sekeping pau kacang
Yang telah lama anakmu unjuk dan pandang
Sebelah hati terasa sayang
Mahu belanja, ah, masih siang
Nanti serasa mati mendekat
Barulah bisa kau bingkas berangkat

Engkau dan bangku birumu, sering dipandang sepi
Tapi kadang mengundang syukur
Di jiwa orang-orang yang punya nikmat,
Tapi di keseringan, kufur.

Pemandangmu, yang menangis hatinya
TBS
21 Mei 2016

Tuesday, May 24, 2016

Tentang Sahabat Yang Jatuh Cinta

Di sebuah petang
Seorang sahabat telah jatuh cinta pada sahabatnya.

Dia memandang mata sahabatnya
Penuh jiwa dan kata-kata sulit tak tertera
Dia mengiyakan saja setiap kata sahabatnya yang kritis, lagi egois
Dia merelakan saja menumpang dengar sahabatnya, kala sabar semakin tipis
Gencar jiwanya mendengar sahabatnya berkeluh kisah
Tentang dia, yang padanya tak pernah kisah
Bukankah ada aku di sisimu?
Teriak matanya syahdu
Kau bahkan tak perlu merayu
Untuk aku ada di sampingmu

Pandangan cintanya seketika tergesit
Oleh bunyi panggilan kaunter kredit
Wahai tuan pegawai wang
Boleh aku menyimpan pandang?
Yang terpaling asyik, terpaling tinggi
Untuk si dia ini
Yang buta tak terperi

Sahabatnya terus bercerita tanpa henti
Dan cintanya disambut cemburu, iri dan sepi.

Sunday, May 22, 2016

Syukur dalam Sibuk

Sering aku menggebang luas
Aku lelah, letih dan rimas
Dengan dunia yang tak punya hujung
Dengan kerja bersambung-sambung
Tak ada rehat, tak ada nafas
Entah ke mana ku humban ikhlas

Mengapa aku diuji begini
Kata diriku tanpa syukur
Hendak terjatuh baru tafakur
Hendak terngadah baru terkukur

Aku benci, benci itu dan ini
Aku panas, hati dan hari
Entah bila ketemu dingin
Mungkin di hatimu yang tak ingin

Ada tangan halimunan, datang menamparku dalam kamar
Katanya ini rahmat Tuhan! Sampai bila baru kau sedar?
Untunglah kau ada pengisi masa
Kudrat cukup untuk diasa
Jika kau diam termangu
Hidup sekadar menjadi penunggu
Tetap juga menyumpah hidup
Memang manusia tak tahu cukup

Cukup
Aku terima dengan gugup
Syukur aku tersiram ke atas kepala

Basuhlah habis semua angkara.

Rumah Titi, 210516

Sekian nafas mencari kata
Senandung tren menggabung simfoni
Aku, tiba di Rumah Titi
Nafas dihela tertemu kembali
Dalam resah, impi dan diksi
Agamnya rumah mengumpul hati
Mengangkat cinta puisi
Ke lapis-lapis tinggi
Terang Fazleena dan manis Wani Ardy
Melentur, mengelokkan tinta
Mencurah habis frasa di muka.

4.30pm 21-5-16 Rumah Titi

(dideklamasikan bersama kumpulan Diksi Pemula, sebagai salah satu bahagian dalam kumpulan sajak bertajuk Titian Ke Hutan Perasaan)

Keon Safaai
Post-Pondok Puisi

Thursday, May 19, 2016

Suatu Pinta

Apa khabar, aku. Di kelam sunyi aku dijemput melagu, pintas lima belas detik jarum panjang di muka, aku sendirian, tanpa dia. Tanpa siapa pun. Terkadang aku suka, begini. Kadang aku rasa hina, sendiri. Telah larut malam dirayukan pagi, selarut itulah jua aku, dalam kancah caca marba jiwa sendiri.

Aku, sang pencinta.
Aku selalu menggelarkan aku, sang pencinta yang tiada harapan. Bahkan tidak! Aku malas mengulas lagi. Aku sebenarnya, pencinta yang telah putus harapan. Aku mencinta, dengan jangkaan bakal remuk lagi. Aku seolah menanti tiba detik hancur itu. Seolah candu, yang diulang saban musim. Cinta mesti berselang tangis, dan air di alis. Seolah tiada lagi pengharapan buatku, selama kaki berdiri. Aku telah masak dengan segala alasan, aku terus tak terfikirkan bahagia. Aku terus pergi ke penghujung duka. Jadi apa erti cinta aku? Aku pencinta yang malas. Malas usaha. Malas bersusah, malas berkederat. Untuk apa, jika perasaan ini cuma jerat? Tahapnya hingga suka, bila pihak satu lagi menolak (dan dalam fikiranku, ah, sudah pasti ditolak! Haha!) aku menyerah kalah, langsung kembali ke titik kosong di ruang kecil yang telah lama aku rumahkan untuk hatiku yang sebal. Kebal, kononnya, kental. Begitu aku lazimi, hingga tiada sedar lagi akan maknawi.

Sehinggalah tiba suatu hari aku menemui frasa yang menyentak hatiku.

Tuhan itu berkelaku, dalam sangkaan hambaNya.

Sungguh, terpukau aku dengan kata.

Telah lama, sekian lama, aku menganduh doa cinta dengan kata, jika aku tak disuka kembali, pinta hatiku ditenangkan saja.

Aku tak pernah berjuang untukmu, cinta.

Aku tak pernah benar-benar meminta.

Meminta kamu, sedang aku berasa kecil, kurasakan seperti satu dosa untukku, si kerdil. Siapa aku untuk meminta cinta.

Tapi sebenarnya, aku cuma perlu pinta.

Dan malam ini, Tuhan, Kau yang Maha Suci dan Sempurna,

Aku pinta sempurnakan jiwaku dengan dia.

Aku tak mahu mengalah. Untuk kali ini cuma.

Aku mahu cinta dia.

Saturday, May 14, 2016

Belum Habis Bicara: Candat Sotong Tempoh Hari

Pada 7-8 Mei 2016, seorang aku telah pergi mencandat sotong bersama kumpulan GEMA Selangor Backpackerz.

Eh Keon kenapa kau tak move on lagi? Orang dah kerja, orang dah kahwin, orang dah khatam Qur'an, orang dah dah dah...

Suka hati aku lah nak move on bila!

I never joined these kind of trips before. Melibatkan strangers. Melibatkan outdoor. Bermalam kat bot semalaman, dengan orang yang baru dikenali beberapa jam. Atas ajakan kawan yang kau kenal kat Twitter dalam jangkamasa kurang lebih setahun je, lelaki pulak tu! Kena rasuk apa kau ni?

Mungkin aku terlalu kecewa dengan hidup. *cue lagu sedih* Atau mungkin cz simply, I'm bored with my current life. *lagu sedih bersambung* Mungkin...mungkin kau boleh hentikan drama cerekarama waktu maghrib sampai ramai terjebak jadi makmum masbuk ni sekarang!

Keputusan aku buat dalam masa satu hari. Idea telah tertanam selama seminggu dua. Tengok betapa lamanya Syed took time nak move on from trip Batu Maloi, membuatkan aku yakin aku akan rasa left out kalau tak pergi sebab kali ni Naja pun join. Kiasu-ness hit me hard. I decided on the spot pada suatu hari Ahad, setelah kecewa dengan jalan cerita AADC2, aku mesti bagitahu Syed esok aku nak pergi jugak trip mencandat ni, by hook or by crook.

Esoknya aku bagitahu. Esoknya aku bayar. Lusanya, aku freak out.

Bila seorang Keon freak out, dia ambil jalan mudah: Avoidance. Reaksi biasa seseorang yang menghidapi Anxiety Disorder. (Diagnose diri sendiri lepas demam teruk masa first two night duties kat India.) So to avoid this thang, I don't talk about it. I carried on with my current life, yang agak bercelaru jugak sebenarnya sebab kena gantikan kelas teacher lain for 3 weeks sedangkan jawatan aku cumalah seorang teacher's assistant. Tadika zaman modenisasi ni kau jangan buat main. Lesson plans, worksheets, creative input whatnot kalah budak architecture nak hantar project submission. Tengok aku sedang conciously avoid the mencandat topic kan. Lol.

So hari Rabu baru aku cerita dengan bondaku, Bonda bonda, anakandamu ini bakal ke Terengganu untuk mencandat sotong hujung minggu ini, mohon doa restunya ya buk.

Mau tak terkejut sotong nyokap gue.

"Dengan siapa? Naik apa? Bila nak cuti? Siapa nak hantar? Siapa nak ambil? Barang nak beli apa dia?"

"Sejak bila akak suka benda outdoor kena jumpa-jumpa orang baru ni?"

Haha. Ya, terimalah! Puan Yati dengan peluru berpandunya!

Aku berjaya meyakinkannya bahawa kawan yang join ada juga beberapa, kawan sekolah masa MRSM Gerik dulu pun ada (Syafiq Izzat n P-E), so tak usah risau. Plus, kita kan kena cabar diri buat benda yang kita tak suka?

"Jadinya, nanti sotong tu boleh bawa baliklah ya?"

Orang Malaysia dan keterujaan terhadap benda free tak dapat dipisahkan.

Bila pergi Mr. DIY, bondaku pula yang over nak beli itu ini hahaha barang yang dibeli kat Mr. DIY end up tak pakai pun, nasib baik tak beli ice container yang besar tu. Headlamp tak pakai sebab dahi aku yang luas ni berlengas peluh tengah-tengah laut, poncho tersorok kat dasar beg jangan harap jumpa masa terhuyung-hayang kat dalam bot. Pelaburan yang tidak bijak.



Ummi pilih bekas sotong yang tidak dibeli, hehe


7 MEI 2016

Pada pagi 7 Mei aku pun berangkatlah ke terminal bas Seksyen 13 Shah Alam pada jam 5 pagi dengan tunjuk ajar Waze (yang sebenarnya tak payah pun sebab ayah sebenarnya hafal jalan nak ke stadium Shah Alam tapi sebab ayah selalu sesat jalan aku tak yakin haha padan muka aku habis bateri) bersama ayah dan ummi. Mengantuk tak usah ceritalah, malam sebelumnya aku tidur jam 2 pagi gara-gara nervous. Singgah solat subuh kat RnR dan sampai di terminal yang ditentukan lebih kurang jam 6.30 pagi.

Yang ada menjual cumalah satu stall nasi lemak yang jual nasi lemak ayam, telur dan kerang dalam bekas polisterena yang tak meyakinkan langsung. Aku mintak air mineral je, tapi ayah beli jugak nasi lemak. Aku biarkan je ayah membeli sebab ayah jenis kalau tak makan, dia cranky dan cepat naik angin dan cepat bosan. Aku makan biskut bekal perjalanan aku dengan air mineral. Sekali nasi lemak yang parents aku beli, nasinya mentah. Kesian. Aku saspek lepas hantar aku mesti ummi merayu-rayu makan roti canai kat mamak. Sampai hati kau pemilik stall yang menipu orang tuaku.

Pukul 7 kami pun berkumpul kat terminal teksi kat situ. Orang-orang pertama yang aku jumpa ialah Wani, Khadijah, Kak Sarah, Yunuss, Syuhada. Lepas tu baru ramai seorang demi seorang datang. Ada yang bawak joran, pancing. Bekas ais besar macam yang ummi suruh aku beli semalam. Tak payah beriya, kata aku pada ummi, dah la first time mencandat, entah dapat entah tidak. Bawak plastik pun cukup. Bertukar senyuman awkward. People skill aku memang ke laut, habis semua praktis senyuman aku masa kerja dua minggu jadi salesgirl habisss satu sen pun tak guna. Dalam hati cakap What am hell am I doing here....I don't belong hereeee *pasang lagu Creep - Radiohead* Tapi bila pukul 8 bas dah datang, baru dapat feeling this is real gurrrrllll Ganu Ambo Maghi tibah cakap tranung celup.

Aku pun naik bas. Sebab girls semua dah berdua so aku duduk la sorang-sorang. Dengan harapan kat next stop (LRT Gombak) ada insan marhaen yang sudi duduk di sebelahku. Tapi tak ada! Mungkin sebab semua orang dah ada geng, mungkin ada yang nak keselesaan duduk sorang, mungkin sebab aku duduk belakang sangat (aku tak suka duduk depan dalam bas sebab nanti tengok jalan tak tengok pemandangan dan tak leh acah-acah hip tengok luar tingkap sambil karang puisi) Mungkin segala mungkin tapi aku duduk sorang-sorang. Takpe. Ni baru warm up. Jangan fikir negatif dulu (haha padahal dah membebel kisah hidup kat Twiddar sampai Syed risau.) Pengarah program, En. Yunuss bagitahu yang trip ni cuma ada 30 lebih orang saja jadi marilah kita bergerak ke Terengganu dimulakan dengan bacaan doa kali kedua dari Ustaz Fairus.

Dalam perjalanan aku pun macam sedih sebab takde kawan bercerita lepas tu orang kat belakang pun macam Ya Allah seronoknya gelak ketawa setiap lima saat pastu aku rasa down gila. Ummi texted tanya dah ada kawan baru tak, aku cakap takde, Kawan-kawan akak mana? Tengah gelak-gelak kat belakang pastu boleh pulak ummi bagi cadangan ditch je the group bila sampai Terengganu nanti and pergi rumah Ayu kawan aku kat KT, tapi hari tu Ayu pulak yang datang ke KL sebab nak join pre-HO course, memang taklah aku ikut cadangan tu. Plus the fees ain't cheap yaw! RM180 did burn a lil hole in my marhaen kindy teacher's pocket. So aku cakap kat umi jangan risau, nanti dah kenal-kenal okay kot pastu aku decided to sleep je throughout the journey walaupun takleh sleep sebenarnya sebab terjaga dengan suara-suara orang yang dah tazzabar nak mencandat. Haha. Karipap dan donut diedar dalam bas. Dalam kenkonon melankoli tu santap jugak 2 biji karipap. Sangat sedap karipapnya! Sampai sekarang teringat-ingat. Penuh daging dan kentang. Nyum.

Berhenti sekejap kat hentian Genting Sempah untuk orang-orang yang belum breakfast mengalas perut. Kat sini kitorang ambil gambar lepas turun bas. Lepas tu sebab Syed risau kat aku agaknya dia kenalkan dengan Kak Risya. Kak Risya ni ramah orangnya, aku teringat kawan baik aku masa A-Level yang sekarang berkhidmat kat Alor Setar, macam gaya-gaya kak Risya. Masa Syed kenalkan tu totally teringat scene dalam HIMYM "Haaaaaave you met Ted?" Lol. End up pergi toilet (TMI Keon) and minum dengan kak Risya kat situ. Aku cerita kat Kak Risya pasal Kuetiau Jando yang sedap kat situ tapi kalau nak order semua orang rasa awkward haha. Banyak juga sembang-sembang, thanks Kak Risya sebab akak saya tak jadi nak sedih-sedih. Hehe.


Kat Genting Sempah. Senyum awkwarrrddd

Perjalanan diteruskan dan sebab kitorang dah terlambat from schedule, tak jadi singgah kat Taman Tamadun Islam kat Kuala Terengganu, but instead we'll go straight to Marang. Haha see Allah dah aturkan aku memang tak boleh lari from this group of people. We then head to Marang, lalu kawasan-kawasan bernama menarik like Pengkalan Berangan dan Bukit Jejulong. Okay, mungkin aku je rasa nama-nama ni menarik, haha.

Kami akhirnya sampai di Marang, Terengganu! Benda pertama yang aku notice ialah arca sotong dan udang besar kat satu simpang traffic light, tak lama selepas kami melepasi tol. Nampak arca tu, naik feel nak mencandat walaupun honestly taktau rupa candat tu macamana masa tu haha. After that kitorang singgah makan kat satu warung berdekatan jeti. Warung tu satu-satunya kedai yang hidup kat satu kawasan yang nampak terbengkalai, honestly start terfikir benda-benda mistik tapi I brushed it off je. Turun dari bas berkenalan dengan Widad yang rupanya all these while duduk belakang aku hahaha pastu knowing this is the first time she joined this group as well, dah rasa relaxed sikit. Aku makan asam pedas ikan tenggiri dan sayur bayam, with a dash of budu to mark jejak kaki kat pantai timur ni hahaha. Aku order air teh o ais tapi dapat teh o limau ais, tapi aku malas nak gaduh dengan makcik kedai tu. Syuhada order sirap ais pun tunggu around 20 mins. Widad langsung cancelled her order. Bila bayar, aku tersasul-sasul sebut tadi ambil apa, ikan tenggiri aku sebut pari, sayur bayam aku sebut kangkung. Heck Keon tercalar reputasi kau, aku tahu je beza ikan sayur ni tapi taktahu la kenapa hari tu. Jadi bahan gelak Widad ngan Syu je. Sekali bayar, RM9! Terkejut sis aku ni makan rasa kat kedai melayu weh bukan kat Domino's ke apa. Tapi sebab makcik tu buat muka toya je and aku malas nak gaduh spoil mood apa semua aku bayar jela dengan berat hati. Terluka sis. Lain kali jangan harap datang lagi.

Next stop is Masjid Marang di mana kami membersihkan diri dan solat jamak qasar Zohor-Asar. Toilet dia okaylah air deras, bersih apa semua. Selesa. Lepastu kami berkumpul kat this one open area berhadapan dengan laut for ice breaking, taklimat mencandat and pembahagian kumpulan. MC masa tu ialah En. Naufal, presiden kelab Gema Selangor Backpackerz (GSB) dan taklimat disampaikan oleh Cikgu Fizi yang dah ada pengalaman 3-4 kali mencandat sebelum ni, namun tak dapat join this time sebab kekangan kerja. Dia perkenalkan candat and how the candat attracts sotong, by emitting light sbb candat ni glow in the dark. Kalau rasa takde sotong dekat, jemur jap (betul ke penggunaan jemur di sini haha) dekat dengan lampu then drop balik candat into the sea. Senang je nak mencandat ni rupanya (theoretically.) Tak payah pakai umpan or cacing ke apa macam memancing. Aku dahlah penggeli cacing. I totally endorse this activity for perempuan yang cepat geli everything except darah, like me. LOL.


Pose gaya bebas aku adalah aksi duduk antara dua sujud

Lepas pembahagian kumpulan, kitorang pun tunggu bot kat jeti. Aku dimasukkan dalam group Bot 2, ahli-ahlinya termasuklah pengarah program Yunuss, Cik Man (ayah Wani) yang sangat minat aktiviti memancing dan mencandat ni, Wani, Dijah, Nina, Widad, Ustaz Fairus, Latif, Izwar, Muiz, dan P-E. Okay jugalah. Ada tiga buah bot, satu bot kayu, dua bot fiberglass atau speedboat. Aku memang teringin nak naik bot kayu sebab subhanallah cantik dan nampak klasik bangat dong. Feeling dia mesti lain macam. Tekong dia pulak pakcik tua berkopiah putih berkain pelekat, nampak pro habis. Namun rezeki kami cuma untuk naik speedboat. Redha. Lepas bot dah siap disediakan kami pun naik dan ambil tempat. Bot kami ada partition di tengah-tengah, seolah-olah bilik kecil tempat kemudi bot yang lepas tu dialaskan dengan kanvas buat tempat letak barang/shoes off area/tempat solat, kemudian ruang kecil kat bahagian depan boleh muat 4 orang duduk yang tak berbumbung, kemudian bahagian belakang bot yang tempat duduknya macam speedboat biasa nak ke pulau-pulau macam tu. Kami akan dibawa ke perairan di belakang Pulau Kapas.

Kapal idaman...tapi tak dapat huhu


Semua orang excited dan pakai lifevest, aku pakai la headlamp beberapa minit lepastu tanggalkan sebab eh panas pulak dahi haha. Glowsticks diedarkan dan kami pakai sebagai gelang, Cik Man selit kat getah headlamp dia. Dalam perjalanan yang memakan masa lebih kurang sejam juga tu Cik Man dah keluarkan barang-barang memancing dari beg dan ceritakan fasal memancing. Aku dengar juga dalam faham tak faham, tapi seronok tgk Cik Man tunjuk skill ikat tali tangsi kat ibu jari kaki. Cekap tangan dia, pintal-pintal jadi. Kalau aku dah jadi ikatan buku sila kot haha, surgeon's knot pun kadang-kadang blur apatah lagi ikat tali joran haha. Lalu sebelah bot lain, diorang tak pakai lifevest pun, lepas balik baru tahu lifevest paling banyak kat bot kitorang saja. Diorang ada dalam 5 satu bot. Kitorang ada dalam 20 kot dah bleh buat list kegunaan lifevest atas bot:

1. Life vest, mengapungkan badan atas air, duh
2. Alas kepala masa sujud
3. Bantal
4. Tilam alas tidur
5. Bantal peluk

Dan berbagai lagi mengikut kreativiti anda. Haha!


Boat 2 girls represent!

Once bot berhenti, tekong melabuhkan sauh, candat dibahagi-bahagikan dan kitorang pun mula mencandat. Masa mula-mula biasalah eh macamni betul ke eh ok ke drop camtu je pastu senyap sekejap. Semua macam krik krik sampailah Dijah dapat the first sotong on the boat! Wahhh besar! Ada besar lengan jugalah...lepas tu semua orang bersemangat waja termasuklah aku haha...tak lama lepas tu aku rasa macam berat je candat ni. Aku tarik rasa kena tarik aku tarik rasa kena tarik. Bismillah...aku pun tarik dan nampak ada sotong kat hujung candat aku OMG! Tapi tak berani nak dekat-dekat sangat sebab takut kena squirt dengan dakwat sotong. Dakwat sotong ni pesan Cikgu Fizi, takkan hilang. Janggut sotong tu meliuk lentok ke atas ke bawah, sangat cantik and memorable to me. Tapi sotong aku tak sebesar sotong Dijah. Tapi a catch is a catch, aite, haha (sedapkan hati) Kitorang pun cakap la macamana ni dua orang pertama yang dapat sotong are girls, mana guys ni haha tercabar kot guys terus lepas tu tekun je mencandat. Aku pergi ke bahagian depan bot, saja nak kacau Nina and tengok macamana keadaannya. Lepastu Nina pergi solat sekejap, aku pun termenung je tengok cakerawala haha subhanallah bintang-bintang cantik sangat. Setiap inci langit nampak bintang, dalam hati ada satu perasaan tenang yang sukar digambarkan bila tengok bintang. Bila Nina balik, aku masuk ke dalam, niat nak solat. Duduk sekejap nak capai botol air....terus nak termuntah. Terus mintak tolong Nina ambilkan plastik and muntah on the spot. Nina pun sapukan minyak angin and aku terus lembik tak larat nak bangun...tertidur sambil duduk for 4 hours straight lepas tu,  terjaga-jaga dalam dua minit perasan orang dah berubah-ubah ambil port, tapi serius tak larat sangat nak bangun. Pukul 11.30pm rasa macam okay sikit, cepat-cepat wudhuk and solat. Lepas solat je pening balik....back to original spot and sambung tidur saaaaampai pukul 1.30 pagi.

8 MEI 2016

Pukul 1.30 pagi, yang berjaga cumalah Cik Man, P-E, Dijah kat bahagian belakang, and Nina kat depan. Aku duduk kat bahagian belakang sekali, dekat dengan Dijah dan Cik Man. Dalam teroleng-oleng tu aku tahan mabuk laut, pandang horizon jauh-jauh. Pandang langit, nampak shooting star, Ya Allah! Terima kasih! Bosan duduk saja, aku pun capai candat yang berdekatan. Dijah dengan P-E mencandat, sekejap duduk sekejap baring. Tapi istiqamah tu membuahkan hasil. Throughout the night Dijah dapat 4 ekor sotong. Aku sepanjang malam lepas bangun tu tak dapat, despite banyak sotong pukul 3 pagi. Waktu 3 pagi tu, baru aku kenal kuasa Allah yang sebenar-benarnya. Kena tease dengan sotong. Bagai menari-nari! Tapi ini semua rezeki, kata Cik Man. Kat laut kebergantungan kita pada Allah adalah secara total. Kalau Allah nak beri. Kalau Allah kata nanti dulu. Lagipun candat kami semuanya bersaiz besar, tak ada yang kecil. Sotong yang naik tu semuanya sotong jarum, candat ni pun lagi besar dari dia haha. Aku nampak dua ekor ular laut mendekati bot, tapi surprisingly aku tak takut. Tapi aku rasa mesmerized, sebab cantik! Subhanallah kat laut ni ular pun cantik. Ada jugak nampak ikan warna biru-kuning-hijau. Cantiknya cantiknya cantiknya! Happy terasa, hilang habis semua sedih dan resah.




Sampai pukul 4.30 pagi aku kembali mual. Capai plastik muntah, rupanya muntah hijau! Tak pernah seumur hidup yang setua ini muntah hijau, betul-betul jus gaster je yang keluar, takde apa dah. Lepas tu terus solat subuh, tidur sekejap, kemudian bila pakcik tekong dah angkat sauh dan start enjin bot, aku pun terjaga. Semua orang terjaga dan duduk elok pulak, yang mabuk semuanya tiba-tiba okay once the boat dah start bergerak. Rupanya baru aku tahu, penangan bot yang berhenti dan kena langgar-langgar ombak tu lagi dahsyat dari bot yang bergerak. Bagi aku lah. Ada orang macam Kak Risya, bot start bergerak je dah start pening. Dari situ aku rasa, inilah masanya untuk masing-masing kenal diri sendiri. Kalau next time aku join lagi, aku dah tahu, aku memang kena makan ubat mabuk. Or else...siaplah haha siapa suruh confident sangat takkan mabuk. Itulah, jangan takbur namanya.

Kami tiba di jeti dalam jam 6.45 pagi. Terus turun dari bot, masih rasa sedikit terhuyung-hayang badan nak adjust semula dengan darat. Mabuk darat, kata Syed. Kat tepi jeti tu ada buaian besar dan hammock. Aku, Wani dan Dijah bersidai kat situ sementara nak tunggu bas, ambil feel berbuai-buai sambil tengok laut. Indahnya perasaan masa tu. Bila semua dah berkumpul (kecuali bot 1 yang tak sampai-sampai lagi sebab layan sotong goreng tepung kat tengah laut, haha) kitorang pun bergerak ke Masjid Marang untuk mandi dan solat dhuha.


Otw pulang semula ke Jeti Marang. Sunrise <3 b="">

Aku, Dijah, Widad dan Nina sempat merantau kejap ke Pasar Marang jenguk-jenguk kawasan dan survey harga sotong. Tersangatlah murah...sotong jarum harganya RM10 sekilo. Sotong besar pulak RM23 sekilo...saja je survey-survey, tak beli pun. Lepas tu dengar cakap-cakap lepas ni RM180 tu kita bawak je kat Pasar Marang...terus dapat 18kg seorang hahaha! Lepas semua dah siap, kami bergerak ke restoran kat jeti Marang, makan nasi dagang. Gulai ikan tongkolnya sedap! Aku memang tak suka nasi dagang sebab ikan tongkol, selalunya dagingnya pejal dan keras sedikit. Tapi ikan tongkol yang aku makan kat jeti tu tak keras langsung, lembut dan fresh! Cik Man cakap sebab ni ikan fresh. Subhanallah...macamni makan hari-hari pun tak peee (pastu risiko kencing manis sebab makan pulut hari-hari, lol) Banyak sangat kucing comel-comel kat area jeti dan masjid, semuanya gemuk-gemuk bulu kembang-kembang nampak cukup makan. Geram tengok, rasa nak culik bawak balik KL haha. Alhamdulillah agaknya orang sekitar situ selalu sedekah ikan segar kat kucing-kucing. Semoga murah rezeki.

Kami pun akhirnya mengucapkan selamat tinggal kepada Marang dan bergerak ke Kuala Terengganu iaitu Pasar Payang. Kat area Pasar Payang ada satu bangunan bazaar yang nampaknya tak ramai pengunjung sangat compared to the real Pasar Payang. Harga semua nampak marked up. Aku jalan-jalan kat pasar Payang dengan Wani dan Dijah, sempat pulak makan durian Musang King dan minum air kelapa kat situ. Susunan barang kat Pasar Payang banyak yang tinggi-tinggi, nak tengok penjual macam nak mengangkat sembah dekat tuan puteri sebab kena mendongak haha. Unik. Lepas dah penat jalan-jalan, lepak ramai-ramai kat gazebo dekat dengan pasar di mana Wani banyak cerita fasal kerjanya kat Rumah Pelindungan Arafiah. Nampak sisi serius Wani kat situ, at the same time kagum dengan kekuatan mentalnya nak berdepan dengan anak-anak bermasalah. Tak semua orang kuat macam Wani. Ceritanya berbagai ragam dan tak hairanlah Wani ikut trip ni, katanya nak release the stress. Semoga tercapai maksud Wani.






Next stop was Kg. Losong, tempat yang terkenal dengan keropok ikan tamban dan keropok lekor. Aku baru tahu yang Losong tu nama tempat, bukannya nama alternatif keropok lekor hahaha kau ingat ni genre alternatif ke Keon. Lepas tu kami pergi ke Masjid Kristal untuk solat, as the last stop kat bumi Terengganu. Kami pun ucapkan selamat tinggal dan thanks for the memories, Ganu ;)



Bye, Terengganu!


We then head back to KL dan sampai di stesen LRT Gombak around 11pm. Aku turun kat LRT Gombak sebab Syed hantar aku balik ke Bangi. Sebelum balik ambil last picture dengan sotong hasil tangkapan bot lain  hahaha lepas tu kami pun berpecah.

Sotongggg jyeah!


Sempat singgah makan dekat dengan kondo rumah Syafiq Izzat, Syafiq dan P-E mintak makcik kedai tu masakkan sotong goreng tepung dengan sotong masak paprik. Alhamdulillah.

Sotong dicandat, pantas disantap haha muka berlemuih habis XD


Sekian akhirnya siap jugak mencoretkan semua ni kat blog sendiri (kiasu alert!!! OMG) sebab lepas ni tak tahu lagi dapat join ke tak benda mecamni or any activities by GSB, since aku ni bukanlah fit or outdoorsy sangat. But I genuinely like the people on the trip (love you guys!) dan sampai sekarang kalau teringat jutaan bintang kat tengah laut tu boleh terus channel perasaan damai tu walaupun duduk kat tengah-tengah a class of five year olds yang menjerit-jerit keriangan. My happy place.

Till then,

Assalamualaykum.

Keon Safaai 

(Disclaimer: Most gambar adalah milik orang lain. Thanks korang!)

Tuesday, May 10, 2016

Kambuskan Ini, Di Muka Skrin Aku

Aku takkan pernah mahu tujukan lagu padamu
Kerana tiada yang merangkul penuh indah rasa ini
Lebih manis aku saja membaris-baris
Stanza kata puitis
Biar engkau jadi gerimis
Setiaku, yang entah sampai bila
Setakat ini belum pernah reda
Pandangan sayangku padamu, terterpa
Di kepagi-pagian aku membelek bual bicara kita
Mencari tanda
Mengukur masa
Fikir kita yang selalu sama
Menggelisahkan aku
Apa kau juga begitu
Jadilah bara bertiup-tiup
Jangan bingkas jadi api, menelusup
Aku belum mahu kehilangan engkau
Nanti hatiku payau
Nanar
Mengeja namamu dalam kamar.

Monday, May 9, 2016

Keon dan Buku

"Kak, letak dulu buku tu. Solat dulu."

Ummi menjenguk aku dari pintu. Lekas-lekas aku telangkupkan Kindle dan melompat turun dari katil.

Aku dan buku. Satu kisah cinta.

Aku memang sukakan buku. Ummi sukakan buku semasa mengandungkan aku. Masa waktu-waktu terakhirnya nak bersalinkan aku pun masih mengulit buku, sampai ditanya nurse padanya, "Masih belajar ke?"
Ummi senyum. "Tak, memang suka baca buku."

Aku mula-mula sekali diperkenalkan dengan buku baby yang ada huruf bergambar itu. Umur setahun setengah, aku hafal and betulkan kalau ummi sengaja baca salah. Dalam empat-lima tahun, aku dah boleh membaca. Aku baca semua benda. Belakang botol syampu, papan tanda, surat khabar, buku gerakan gerilla atok- you name it. Tempat favourite aku masa kecil ialah library dan kedai buku. Kena tinggal berjam-jam pun okay. Kalau aku hilang kat mall sila cari di kedai buku. Pasti berjumpa. Dah hafal directions to kedai buku kat our frequent mall kat mana. Paling dahsyat masa masih minum dari botol susu, aku akan sediakan tempat tidur sendiri- mesti ada bantal, botol susu, dan sebuah buku kegemaran aku, sila panggung depan tv demand nak tengok Bambi. Amagad why Keon. Ummi gelak-gelak sendiri, tapi katanya dia lagi rela anak suka baca buku daripada kuat main games.

Aku juga menyalahkan kecintaanku kepada buku, jadi penyebab aku pakai cermin mata. Ummi selalu suruh tidur awal masa kecik-kecik dulu. Aku taknak- sebab belum habis baca buku. Cara ummi marah, ditutup habis semua lampu. Aku baring depan sliding door ruang tamu, mata terkenyit-kenyit baca buku pakai lampu jalan kat luar. Gigih tak gigih. Awal darjah tiga, amik kau power dah 300. Yay me. Power yang tak boleh tak pakai cermin mata. Mesti pakai all the time. Jadilah episod spek hilang sebab aku cuai, patah atau sengaja patahkan (ya, pernah. Pastu kantoi dengan pakcik kedai spek. Memang menempah rotan once balik rumah.)

Aku sentiasa ada kad library di sekolah dan luar sekolah. Tapi aku tak pernah menang anugerah Nilam pun. Aku suka baca buku, tapi malas rekod haha. Waktu rehat selalu main chess dengan Aaron Lim kat library, lepas tu baca buku/siapkan homework. Ayah memang suruh aku pergi library untuk buku, sebab katanya masa dia kecik2 mana ada duit nak beli buku, library kan banyak buku. Tapi buku kat library dengan buku kat kedai buku tak sama😢 Aku belajar sukakan bau buku lama. Jadi bila darjah 4 aku baca Sejarah Melayu, darjah 5-6 ketagih Classics. Walaupun sekarang dah ingat-ingat lupa, tapi kawan sekolah rendah aku tak lupa aku budak pendiam yang suka mereput kat library baca buku tak pandang kiri kanan setiap hari pinjam 3 buku bawak balik rumah. Ada beberapa kali kena ganti duit sebab adik aku conteng/koyak/hilangkan, tapi aku tak serik-serik. Semacam ada satu dahaga yang tak hilang bila baca buku. Lagi satu, bila baca buku aku dapat idea, dan kemudian boleh menulis. Ah, I miss my younger self.

Bila aku suka membaca, banyak info yang aku dapat. Aku budak kecik annoying yang suka fire orang dengan facts untuk pertahankan diri sendiri for selfish reasons. Macam haritu ummi cerita, aku pernah bising kat semua orang yang makan jajan tak baik untuk kesihatan, nanti gigi reput, dapat kencing manis dan darah tinggi. Tapi kalau aku makan takpe. Kalau orang mintak jajan aku, padanlah muka kena dengar syarahan kesihatan dari budak darjah tiga. Dengar balik aku pun rasa nak lepuk diri sendiri kenapa kau menjengkelkan ha budak. Tau la pandai. Pandai-pandai pulak guna for self benefit. Haha.

Sampai ke hari ini aku masih sukakan buku. Suka sangat-sangat sampai boleh melompat macam jumpa cinta hati. Eh memang cinta hati pun. Haha. Dan kalau dah mula baca buku susah nak bergerak. Itu yang ummi kadang-kadang jerit dari luar bilik, kak kau kalau baca buku macam ayah tengok bola! Apa pun tak boleh! Kadang-kadang aku terfikir juga buku ni macam a distraction for me. Kalau ada orang addicted dengan K-drama, J-dorama, dan benda-benda lain yang aku takde patience untuknya itu, aku addicted dengan buku. Takpayah makan pun takpe. Jangan kacau masa klimaks buku. Nescaya akan disumpah olehku lol.

Aku cuba berubah jadi lebih baik, sebab apa pun yang kita suka kat dunia ni kena berpada-pada. Aku taknak baca buku dan ignore ummi. Aku taknak baca buku dan tak nampak dunia. Tapi instead, aku harap dengan baca buku aku lebih faham dengan dunia. :)

Okay sudah-sudahlah. Ini akibatnya masih hyper sebab semalam mencandat hari ini all biological clock went berserk. Esok kerja English teacher. Tak lama lagi ada assessment dan report cards day. Kelas sangat budak tadika ada assessment. Aku mana tahu, dulu aku tak masuk tadika. Hihi.

Sampai jumpa,

Assalamualaykum.

Ceritera Candat Sotong, 7-8 Mei 2016

Aku mulai hariku, cermat
Aku rangkul jiwaku, ketat
Jahat
Rasa kurang, rasa tiada
Rasa entah apa-apa
Ini aku, dalam perjumpaan manusiawi
Canggung membawa diri
Kata dilantun terasa butir peluru ke hati

Tiba di Shah Alam, aku mengorak
Aku senyum, cuba menebak
Apa tari perlu digerak
Apa tanya perlu ditembak
Galak
Semua tinggi-tinggi jiwa, mahu cari pelangi di laut lepas

Jalannya panjang, waktunya lama
Gelisah aku makin tersira
Aku siapa, engkau siapa
Masih meneka-neka
Semuanya kedengaran riang
Diam-diam aku seorang
Makan berdua dengan Kak Risya
Nyah sebentar janggal tersisa
Menunggu bila tiba, lewat
Lekaslah sampai, Batu Bersurat!

Tidur tak lena dibuai-buai
Tawa berhabis, dilagu-lagu
Sentap hati rasa cemburu
Akalku menyentuh, nanti dulu
Nanti dulu!
Biar laut membasuh galaumu.

Ternampakkan arca sotong dan udang
Hati terus rasa dijulang
Benarkah Marang,
Benarkah kita?
Sudah sampai di labuh bahtera?
Biru-biru derau samudera
Aku tak lagi hirau mantera
Lekaslah lekas, aku rindumu
Pantaslah pantas, harung kelamku!

Singgah makan di kedai makcik
Terasa aneh ubun dipercik
Kedainya kecil, bangunannya tinggal
Makcik terkejut, ramainya datang
Terus pesanan terpusing hilang
Berkali-kali air tak sampai
Bertamu marah, hati tak sampai
Tenggiri dikata pari
Bayam ditelah kangkung
Apa parah akal sendiri
Lantas gusar sedikit canggung?
Bahan ketawa kau sehari-hari
Nasib kerisi kau tak gelar mambong.

Terus solat di Masjid Marang
Berkenal-kenal memecah senang
Lepas ini bot kita menyatu
Seribu rencam di laut dalam
Biar habis resah belikat
Malam ini kita mencandat!

Satu bot meriah sekali
Mula bergerak hatiku iri
Pada yang kayu, begitu klasik
Pasti alunnya terasa asyik
Bertabah saja dengan si plastik
Diranduk ombak mual dipetik
Ah! Merlik
Sotong dicari, jiwa ditarik

Mula dengan cerita Cik Man
Membuka panggung, ilmu ditebar
Tentang joran, candat dan layar
Tangsi di ikat di ibu jari
Mahirnya amat, terlopong kami
Garamnya banyak, ilmunya tinggi
Terima kasih daun keladi

Sampai ke malam sotong dicandat
Bertukar-tukar arah dan tempat
Elok dapat sotong seekor
Pergi ke depan, mahu memasyhur
Tiba habis isi perut ditabur
Haha!
Pengsan langsung ke tengah malam
Padan muka, hati kau takbur.

Satu pagi diri terjaga
Rasa diri tersapa bayu
Tangkas candat di tangga ku angkat
Dicampak tenang ke laut biru
Dua sajak mengukir lagu
Sotong menari, menguja zapin
Hati terasa peritnya makin
Laju sungguh buah tarinya
Dimakan tidak candat kita

Berbual berbasa dengan Cik Man
Katanya bukan salahnya musim
Sotongnya ada, candat tak makan
Lain kali bawa yang kecil-kecil
Dilihat sotong, besar dariku
Aku yang makankah, dia makan aku?
Tersirat padanya, aku masih mual
Katanya pula, fibreglass punya hal
Lain kali pilihlah kayu
Nescaya terang, mabuk tak mahu

Bertahan aku hingga ke pagi
Menghilang mabuk di dada langit
Bintang berkelip menawan seri
Sesekali terlihat kemilau berlari
Jika begini, hatiku girang
Biar hasil tidak bertandang
Dikelambui semesta, aku tenang
Di lain hari, pasti ku kenang

Sampai ke subuh, kembali kalah
Muntah hijau, aku menyerah
Seusai fajar bergeraklah kami
Pulang semula ke bibir jeti
Mengibar lambai ke Kapasnya sisir
Laungku padanya,
Jumpa lagi!

Kembali pula ke Masjid Marang
Membuang habis pasir bersarang
Candat kedua di pasar basah
Melihat sotong terasa mewah
Sepuluh riyal sekilo, nah
Pagi-pagi adik come, abang wi murah jah!

Sarapan ditemani bayu menggulung
Nasi dagang rasanya berbeza
Ikan tongkol selalu ku hitung
Hari ini kuhabisi semua
Putar cerita masih bertakung
Candat sana, ekornya berapa
Bagaimana ragam si tekong
Apa dikisah hasil tak seberapa?

Dilanjut pula ke Pasar Payang
Ditingkat-tingkat susunnya bayang
Membeli serupa menjulang sembah
Ampunkan patik, berapa riyal sebuah?
Sempat pula mencicip durian
Sekali berbicara, satu bas pengsan

Langsung dibawa ke Masjid Kristal
Panasnya hari rasa ditunjal
Oleh letih, mabuk semalam, dan ombak berpintal
Selamat tinggal bumi Terengganu
Memorimu kutampal, mahal

Apa dikenang tak kenal hati
Bila di hujung, tak mahu henti
Biar sahabat kekal selama
Mencandat teman, cerita diperi
Jadi ingatan zaman-berzaman
Berbahu kita menongkah lautan

Kenang-kenang ini, biar kusimpan
Sampai berkilau lagi, segala taulan.



Keon Safaai,
Masih teroleng-oleng di ombak hidup.

Kata-kata Yang Tercandat, Dakwatnya Tertumpah di Jemariku

Aku ikut aktiviti mencandat sotong 7-8 Mei lepas. Yakni semalam.

Ini bukan entri tentang aktiviti mencandat.
Ini entri untuk aku kumpulkan kata-kata yang terluah (atau termuntah, wink) sepanjang jalannya.
Sebab aku taip di Twitter, aku rasa tak adil untuk beri satu entri bagi bait nan sebaris dua. Jadi aku taip saja semula di sini, ya.

Sorry Syed this isn't up to your expectation, surely. Haha. Here goes~



I

Jalanku ke Marang
Dibalut resah-kesah sekarang
Disambut Kapas terbentang
Antara girang
Gundah, dan julang


II

Datang segera lautan,
Hanyutkan semua kehampaan.
Aku ingin sendiri denganmu,
Dalam alunan bayu, cuma kita yang tahu.


III

Come, come ilham.
Let free kata terpendam.
Aku mahu diam
Dan melagukan alam.


IV

Debur membelah laut
Bikin hatiku ribut
Segala harap, dan entah apa lagi yang tersangkut
Kau lontar ke peranggu
Biar lurut
Biar hapus hasut


V

Aku memanggilmu, sukmaku
Di lepas mata
Di kail jiwa
Melata jauh ke angkasa, bersama bintang
Kau tidak juga datang
Membiarkan aku teroleng-oleng
Mabuk di laut pasang
Engkau, kekal bayang
Tak ternampakkan tampang

Kelam sukmaku bisu melayang.


VI

Tergoncang jiwa diranduk dakwat candat,
mengiramakan kisah kita
Biar langit gemerlap membumbungi
Segala tawa, isi perut tertulis di dada laut
Tetap setia terikal di mata
Biar semalam baru bersua.



Keon Safaai

5.28AM 7 Mei 2016  
2.44PM 7 Mei 2016  
4.00PM 7 Mei 2016 
1.50AM 8 Mei 2016 
1:54AM 8 Mei 2016
1.36PM 9 Mei 2016 

Post-Candat.

Janggal Mulai

Aku bukan dari negeri ini
Aku bukan dari kumpulan ini
Aku malahan, milik diriku sendiri

Jalan ini jauh
Pusing ini lenguh
Aku sudah mahu gocoh
Tapi tak ingin bikin kecoh

Biar aku belajar dari kekosongan ini
Biar aku rasa ingin mati
Aku bukan di negeri sendiri
Tapi aku temukan hati
Dan belajar tentang sepi

Ah, sepi
Siapa engkau untuk membunuhku?

7 Mei 2016
Bas AZ Liner
Marang, Terengganu

Hujung Minggu Golongan Pelik

Hujung minggu kita, hujung minggu aku.

Sudah seminggu kita rencanakan ini.
Perjumpaan ini.

Okay Keon, stop being so pretentious shall we? I gagged at your words. Urgh.

Alright, so it starts on a lazy afternoon...not.

It starts on an early morning by Keon's standards.

(Everything is early by Keon's standards. Note to self: do change this.)

So my Labour Day weekend started off with me (practically my laptop, but you can't blame the brainless technology) accidentally deleted my nearly completed translated file. I do some subtitles translating works, as a freelancer. It's not as fun as it sounded tho. All my hardwork...gone...in a blip.

Ended up with me notoriously spending the next 8 hours on my laptop translating the whole episode all over again. Yay me. Luckily no supervisors scolded me or even lift a finger, or so it seems.

The day after, which was Sunday, was planned for a KL hangout. Me, Syed and Naja planned this the weekend before, The plan was Dataran Merdeka-Indian lunch-AADC2.

I bought the tickets twice. Blame Naja for letting me and Syed took the reins. That unfit-in-our-schedule tickets were given off to my lil sisters and brother for them to enjoy themselves. While us three bought a quite front seat. I dunno whether it's me who's so short but I do think I kinda sprained my neck a bit after the movie. Note to self: E is very depan okay *side eyeing Naja* LOL

I should tell about the Dataran Merdeka first, shouldn't I.

We found out that there's no bike rentals available for us noobs. We ended up eating at the row of stalls. I ordered wedges, Syed some fries, and Naja ordered burger (was it? Something heavier la I don't really remember) which totally beats our original purpose nak work out kot. But borrowing Naja's words, the plan was to /lepak/ around Dataran Merdeka. I never knew how to interpret the work lepak, ever, so I'm gonna take it that it meant makan and share stories about life. So tua, the feels. Lol.

After eating we went museum hopping. As if it's a thing. It is quite trippy, but being with these two, nothing is, actually. When you have writer (*cough* blogger *cough*) friends, /everything/ is interesting. Like not-well-known musical instruments, or funny sounding words. And museums, no matter how mundane they can be, are interesting to us. The first place we went to was Muzium Muzik. Quite small, but got lots of info nevertheless, and interesting words for my poem hahahaha no I haven't use them /yet/ lol. The most interesting feature was this touchscreen where we can make an orchestra of funny sounding mashup of instruments (or musical types like gamelan whatnot.) We played around with it and move on. The music played in the gallery were P Ramlee's songs. I was totally euphoric when Jangan Tinggal Daku was in the air.

After that we went to the KL Art Gallery, where the security was very lacking, to say the least, I think it's because there's nothing sangat to preserve pun inside. The entry fee was RM5 (I think) but I didn't know that at first and I went straight into the gallery for 3 mins till I realised that Naja and Syed wasn't behind me. I went out to ajak them inside, then they made signs that you can't enter! Keon geddautta there before somebody drags you out! Lollll I walk my strut out of there once and for all, maintaining my innocent expression hahahaha.

Muzium Tekstil was next. I think this museum is the most under-researched museums of  all the museums I've ever went to. Or maybe they put it at a tourist's expectation, like gurl kalau kau nak more info just go to Arkib Negara already. I am happy to see all those types of textile tho. And there's this section where they show all the jewellery of Malay's and its leluhur's ancestry. We spent sometime watching the documentary about how a goldsmith doing his intricate works on making a gold bracelet. See? Only people like us will be interested and not bored to death. One display table showed various belt buckles from the old days and from various states in Malaysia. But the info counter labelled all of them as "Pending" (belt buckle in Malay, god I never knew this word) and Buckle. Like what? No identification from which state whatsoever. Well there was some description beside each item, but I was hoping that it was showed at some extent on the info counter since it's easier to the eyes. Na-dah! We then moved on to the headdress section. There's one gallery dedicated to Bremen Wong Millinery's works, who made contemporary head gears, worn by runway models and the 2015 Malaysian Miss Universe. Awesome works, I totally personally fancy this one work of his, named Red Typhoon.

Moving on from the museum, it's finally lunch time, thank God. This is my MOST anticipated part of the day because, let's face it, 1) Food and even better, 2) Indian Food. God knows I would pay however much they charge me for a plate of pure Indian briyani, I miss it so very badly. I didn't put very high expectation to it, cz we're in Malaysia, come on. But Betel Leaf surely taken me aback. I am very impressed with Naja's choice, and put mental note to trust his choices after this, haha, cz, the restaurant was AMAZING. The feels, the atmosphere, even the smell (the slight smell of incense in the air, not the bad kind of it.) Tho I know Naja wouldn't know what I'm so excited about, but anyone who have ever went to India would know what I mean. Down to the cutleries, waiter's accent, everything was on point Indian to me. Yayers! We ordered (ahem, I ordered, hehew) egg briyani, masala papad, chicken pepper fry, gobi manchurian and drinks. I ordered mango juice and expected to get the kind that we usually get in Indian juice stalls (alphonso mango pureed juice) but nahhh, it's just juice from the juicebox. Like Maaza or Slice. Still noms. But the food was fine, I nearly forgot I wasn't at Hideout (our frequent in Davanagere.) The guys didn't finish their food, tho. I rasa gemuk la hogging sorang-sorang liddis, guys. Lol. I never used to share my briyani unless the portion is very big or I don't feel like eating much. But it was worth it despite the price being quite pricey. In India I could get the same or more portion at a quarter of the price. How I miss Indian food so much.

There's a group of Indian family behind our table. Out of the blue the grandma's nose suddenly spurted blood. A whole lot of it, like a whole bowl of blood, splattered all over her plate and placemat. I wish I could record the whole thing in slow-mo, because as soon as that happened, her family members all jerked back, sending their plates, banana leaves, glasses and cutleries flying off the table. Okay I made it sounded funny, sorry! but that's how it went. Their second reaction was calling the grandma's name, asking her if she's okay. I thought it was some sort of busted aneurysm or some stroke because the grandma kept her head down for sometime, I thought she might had neck stiffness. But then she lifted her head and her family members helped her went out from the restaurant. By the amount of blood, I think she must be on some sort of anticoagulant. Aspirin maybe? Everything kinda run over my rusty brain, I was very slow to show reaction. Syed on seeing the pool of blood, asked me, "was that blood?" and when I nod, totally lost his appetite in split second and pushed his plate away. I'm sorry Syed! I didn't know you can't look at blood, or else I would've told you it was some curry the family had. The waiters nonchalantly wiped off the whole mess and things went back to normal. I finished my meal and topped it off with some gulab jamun. It was too sweet for my taste, tho, but for the sake of nostalgia I finished it off too. I miss Niveditha's mom's gulab jamun. That one is perfection.

We then went to Suria KLCC for our Ada Apa Dengan Cinta 2. These guys left me at KLCC and went to the KLCC mosque for prayers and to shower (I know right? Metrosexuals I'm friends with) then rejoined me at Kinokuniya. Cz we already planned to go to the PBAKL the next day, I didn't buy any books. We then proceed to watch AADC2 which I already knew wouldn't be as good as the first from reviews, but Rangga is an eyecandy, so. I hate his doggy expressions to win Cinta back, though. I mean you don't have to, mister! You're awesome and ditch that 14-year old broken relationship and let Cinta eat her heart out! But no, this is a movie, and it must go the way the director wants it to be.*cough* I also hate that they didn't really emphasized on the strong friendship, I mean fans love the dynamics of the strong Karmen, pretty Maura and playful, ditzy Milly, and Alya. I hate how they killed off Alya in a car crash. All that depression and drama in the first movie, and you killed her off a car crash? Seriously? Maybe they (the producers) don't want the dark theme clouding Cinta and Rangga's boring hard to get relationship drama. It was okay, happy ending, but I still hate how commercialized it feels and  it was nothing to compare to the original AADC. Not to mention the lack of poetry. Such bummer.

We ended the day with plans to go to karaoke but no rooms available, so we head back home.

The next day, the guys picked me up at the Serdang KTM Station and off we went to MAEPS for the book fest. The place was packed and I managed to pick up 7 titles, saw Nadia Khan (she's very cute in person! I like her personality but I'm not really a fan of her writings so it's awkward to come up and say hi), Lutfi Ishak(omg Dondang Pembukaan totally opened my eyes and nearly made me feel like giving up on poetry altogether), Aloy Paradoks, and other authors. Sweaty but joyful, we then went to UPM mosque for prayers, ate Texas Chicken (my first time! Finalleh!) at The Mines and split off.

I must say the weekend left me happy for the whole week for realization that I have like-minded friends who can see things (or if not, they could totally understand) the way I do about life and this world. We live in a mundane place. Not much space to improve but at least when you have people whom you can relate to, everything doesn't feel so gloomy.

And I am excited throughout the week for the Mencandat Sotong trip. Something that will totally test me, cz I hate meeting new people, but I'll try my best!

Till then!

Assalamualaykum.

Tuesday, May 3, 2016

Diam Tenteram

Dalam langkah-langkah kita
Diam mencumbui udara
Aku takut, takut sekali
Kalau-kalau bintang di mataku ini
Terpampang habis di mata engkau

Sudah bagaimana jika begini
Aku bimbang mati
Dibunuh rasa ditapuk-tapuk sendiri

Meski diam itu konkrit
Aku selesa seiring denganmu
Biar masa itu beku
Tak berdetik, cuma dihuni aku dan engkau

Ku toleh lagi
Engkau langsung hilang ditelusup angin.

Monday, May 2, 2016

Rencam Angan

Telepuk bertemu kain kasa
Dakwat emas disulam suasa
Dipakai manis dari seberang
Hati terlihat semakin girang
Terjelepuk aku dari angan siang
Kau ada di sisiku,
Matamu cemerlang
Terhapus habis selumbar karang
Tak ada yang bikin aku garang
Tak ada lagi, habis hilang.