Ingin sekali aku mencoretkan sesuatu yang literal, untukmu. Agar tidak perlu lagi kau meniti kaca-kaca angkuh yang tajam, melukakan kakimu tatkala berjalan hati-hati, cuma untuk tersampaikan ke lembah kusam yang bikin segenap kau pening. Cumalah seorang pencemburu buta, adalah aku, yang runsing. Tanah ini bising. Langit itu biasa. Kembali kita ke puing-puing, dan jalan-jalan berselirat yang tak kau fahami.
Oh ingin sekali, oh ingin sekali, oh barangkali...
Kiranya ku fikir aku bisa hidup semula
Setelah mati segala asa
Seterhabiskan seluruh rahasia terhampar di kaca-kaca yang melukakan, dan menyilaukan mata memantulkan matari terang-
Mungkin akan ku bikin minuman pelega,
Untuk kau berhenti menongkat lelah
Dan kita akan cerita-cerita dengan bual bicara yang sepenuh jujur dan ambal di belakang kita melakar seluruh ceritera yang selama ini aku anyam dalam benang mengeliru mata-mata gemintang seumpama engkau, dan dia.
Masih ku penting diri
Dan menyorot tragedi-
Gadis ini, masih belum puas hidup
Melantun kata dan frasa-frasa dalam mortar
Melumat jiwa menjadi makjun asmara
Mati, belum difikirnya
Ingatan orang, belum diserpihkan
Taubatnya, bahkan belum cukup terucapkan.
Bukan hari ini seorang aku menjadi literalis yang bangun.