Thursday, March 9, 2017

Sendiri

Menelangkupi realiti sunyi-
Aura-aura berani.

Di keseorangan aku menongkah dingin subuh untuk mencari secebis hari
Tersenyum manis penuh palsu menanti segelas kopi
Alangkah indah, indah, jika dikongsi?

Dalam tertawa hiburku seorang diri
Melihat si kecil menghayun tangan bondanya-
Terjepuk ingat doa ibuku
Mahukan aku berhenti mengelamun
Biar disapa yang sayang di setiap bangun

Ah
Kesendirian bukan pilih-pilih hati
Tak layak dibenci
Tak rentan dibendung

Selagi asaku masih menampung
Akan kutelusuri hari-hari, biar murung
Biar awan tetap bersiaga, mendung.

No comments:

Post a Comment