Sunday, September 30, 2018

Pulang Sejiwa

Telekungku wangi sekali subuh ini.

Telekung travel berkain seakan nylon berwarna hijau tua itu, pemberian sahabatku kala dia berjalan2 ke Kota Bandung, selain dari t-shirt souvenir suatu masa dulu. Aku meninggalkannya di rumah, kerana aku punya lagi satu set telekung di bilik hostelku. Aku tak ingat kali terakhir aku mencucinya, tapi sudah dua minggu aku tak pulang ke rumah. Jelas sekali umi sudah mencucinya untukku dan seolah membiarkan ia menanti kepulanganku. Pagi tadi, umi mengajakku ke surau bersama adik dan ayah. Disuakan telekung hijau itu ke wajahku setelah aku terjaga, tapi aku yang cuma terlelap jam 3 pagi tak yakin aku mampu menampung diri berdiri di celahan jemaah. Umi letakkan telekung itu di sebelah aku dan pergi.

Kenapa dua minggu tak pulang ke rumah?

Aku menghukum diri sendiri. Aku masih belum menyiapkan assessment di dalam departmen ini, yang membolehkan aku keluar dan berpindah ke jabatan yang baru. Dua minggu terasa sepi sekali. Setelah dua minggu pun, tiada apa yang selesai, dan sedikit cakar lidah di Whatsapp dengan umi mentawarkan hatiku untuk pulang. Aku betul-betul jatuh ke kancah depresi. Kelmarin, aku pergi pada sahabatku yang bekerja di unit psikiatri, dan menangis padanya tentang hidup aku. Dia sabar mendengar. Sebetulnya, baru aku perasan sudah agak lama aku tak menangis. Terasa lega sungguh setelah itu.

Semalam, aku menonton teater Tanggang Derhaka dengan Kak Sarah dan Deeb. Tiba-tiba terasa rindu rumah sungguh. Walaupun kesinambungan plot amatlah lambat, (banyak penonton mengeluh tentangnya), tapi mesej itu menusuk aku. Aku tak mahu jadi derhaka, aku harap aku bukan, dan sesekali tidak akan.

Orang bilang Tuhan menerbitkan berkat dari redhanya ibu, kenapa tidak? Aku sepatutnya lebih tahu. Bersengkang mata ibu menahan sakit, biasanya berminggu2 sebelum melahirkan. Saat kelahiran, berhempas pulas pula dia, koyak ototnya, hilang darahnya untukmu. Kemudian disusukan pula, disayang-sayangnya pula dirimu. Ah, sebak pula mahu menaip. Umi tinggalkan kerjanya untuk aku, katanya tak sanggup meninggalkan anak sendiri dijaga tak sempurna walau sedetik oleh orang lain. Semakin besar semakin kuat melawan pula. Punya macam-macam idea. Boleh berdebat pula dengannya. Aku anak umi, selalu aku katakan padanya. Kalau ada yang tak puas hati, aku tidak diam seperti ayah. Aku suarakan. Mungkin kadang umi terluka, tapi dia tetap dahulukan aku. Tetap menerima aku dengan wajah senyum. Katanya akak muda lagi. Darah panas. Nanti akak tahu.

Aduhai, berkatku di kakimu, umi. Hidup berantakan seperti kini, mungkin saja aku perlu ampunan darimu.

Dan anak ini masih belum puas bermain di genangan mata uminya.

Monday, September 24, 2018

Rusuh

Letus-letus cemas
Awan pemula culas
Kau bilang mendung, salah siapa
Tak tetap lambung, derap di mana

Telapak kakinya langsung lepas ke alam nyata
Jarinya sendeng
Suaranya sumbing
Jenteranya teleng

Penghabisan, penghabisan!
Bila kan tertemukan?

Saturday, September 15, 2018

Surprises

At some days like today, I am in a very low mood I dont even feel like getting out of bed. It's my off day, I'm supposed to be home, but I have this reunion with my ex Selayang colleagues cum besties at 7pm. I woke up late and ended up deciding to only go home after meeting my friends, so I have hours to spare (for anything!) and I always have this feeling that my mom doesn't really miss me at all cz she got all my other siblings to think of. Haha. I'm still the childish annoying attention seeking first born who secretly hold a grudge towards my younger siblings for stealing my parents attention at times. I love my siblings nevertheless but they sometimes gets to me, too in a way all of us will never truly understand.

I cleaned up my room a bit and watched some Netflix and ate biscuits and listed out the things i have to achieve in 10 days and ended up getting stressed up cz I'm cooped up in here of my own choice. Then suddenly when I tried to find reasons to live, I remembered this one nice guy who, out of nowhere suddenly became so close to me at one point (even if we only met once) who sent me presents and this Adelaide picture book.

Nice humans really does exists.

I hope you're doing well, Han. I'm so sorry of my erratic mood these days and sometimes I missed you but sometimes I just ignored you. You be good over there, buddy. I just got too many things on my mind lately.

I wanna enter the Psychiatric department as a houseman, not a patient.

Cheers,
Khairun

Saturday, September 8, 2018

Plot twist

Si setia yang memecahkan hatiku dengan kesetiaannya.
Senyummu menyayat rasa
Menimbus asaku yang sedari lama mati
Ditelan kisah setianya.
Orang bilang setia itu sifat mulia
Tapi setianya telah membunuhku
Kerana sekali-kali bukan untukku jua.

Hapuslah, perasaan
Bergenang dalam ombak-ombak malu
Kerana seringku mengenang kamu
Meremukku langsung terlalu.