Wednesday, August 24, 2016

A Tuesday With Zaidi

The title was coined by my friend Syed, a knock-off from Mitch Albom's work Tuesdays With Morrie. Not as inspiring, tho. Not even a slight debris of it. Lol.

I'm in Selayang Hospital now. The doctors' quarters, to be exact.

Life is super dull if you ask me. Orientation isn't gonna be over till next Tuesday.

Nevertheless, I did things I never did before. Like yesterday, I got on a taxi to get the declaration for my father's name at the city council, alone. I never took the taxi alone. But heck, I was thinking that I'm effin 27 now, petty matters are beneath me. I could run if I got harassed (worst case scenario, but after a short walk this evening I'm glad nothing ever happened to me, cz my stamina is like super bad nowadays.) I made new friends, and started conversations. I believe that if I ever want to survive this, heck, swipe all the introvertness aside and start over on a new leaf.

I wanted cendol so bad. I wanted cendol and I can't drive.

I texted Zaidi.
(I've only had meet him once. During the GEMA mencandat sotong event. And maybe we did crossed paths when he used to study in Bangalore. But that's it! He's actually a total stranger. But yeah, Keon wanted cendol so...haha)

Zaidi told me that there's this cendol place which sometimes is open, sometimes closed behind the hospital compound. It wasn't that far, he said. He lied. Lol to my standards it's far, okay.

I was totally catching my breath walking to the so called stall. Which happened to be, fml, not there today. Selayang is a hilly area, everywhere is going uphill. Heck my stamina is so down! Or maybe it's because I've aged? I envy those who still could hike to mountaintops and whatnot.

After some Indian style road crossing, we went off to buy sugarcane drink (mine. Upside of this, it's been a long time since I had sugarcane drink yay!) Zaidi bought coconut shake. And we went back to the hostel. Haha.

Shortly after, Zaidi told me he's going out to have dinner with his friend. Me, without any hesitations invited myself along. I thought we were going to a nearby place. I was in my sweater and look totally like a homeless person. While in the car they decided to go to Midvalley omg haha, to this Killer Gourmet Burger restaurant. The food's all good, if not for my suppressed appetite (still craving for cendol, not some chicken burger, lol.) Our conversations hovered around medical stuff, it's fun to listen to the staffs' antics and the drama drama drama haha trust me the hospital is like bursting with drama. These people make me feel that housemanship isn't as bad as people usually pictured it, tho the two of them are both true blue Jonahs haha. We went back after eating and that's it. That's a doctor's life all in all.

So yeah, I'm still gonna ask Zaidi to for my cendol treat cz he accidentally cheated me into some evening exercise lol.

The end, hope your day and mine will get better as time goes by!

Before this is getting cheezier,
Assalamualaykum and peace out. :)

Monday, August 22, 2016

Biarkan

Antara tidur dan jaga
Adalah sebuah penyatuan jiwa
Aku dan bayanganmu
Menyusup ke dalam lena
Aku tak peduli
Ini bukan realiti
Biarkan,
Biarkan aku bermimpi.

Tuesday, August 16, 2016

Baharu

Kala ini, kehidupanmu baru saja bermula.

Ya.

Buka matamu. Kedip-kedipkan. Lihat, dengar, hidu alam sekelilingmu.

Segala masa lalu seperti suatu ingatan asing yang melontar alunan ke perdu memori. Bergema, terkenang jangan sekali.

Hari ini kau menjadi Baharu. Langit biru, KLCC memacu, bunyi-bunyi alam dan enjin berlagu-lagu. Ke atas lagi. Ke hadapan lagi.

Mengingati kenangan pahit adalah dosa yang kering di tampuk kebersamaan. Cemburu? Biarkan. Hari ini kau angkuh! Kau, kukuh! Berlalu saja pergi kamu, berlalu bagai air.

Kau takkan bisa mampir, apa lagi mengikir.

Pergi.

Aku ke hadapan, kau ke kiri.

Aku tak mahu.

Aku Baharu.

Sunday, August 14, 2016

Matahari

Aku berlari, meluru kepada matahari yang memanas
Ia tidak pernah memanggil namamu
Namun kau tetap menujunya
Mendambakan hangatnya
Tanpa kau sedar dirimu terbakar sama

Dia dikenali, pembakar diri
Entah bodoh atau berani
Tiada yang peduli
Yang menoleh, sepi

Kutiplah abu sendiri, kutiplah
Dan basahkan dengan embun pagi paling dingin
Darinya kau binakan tugu
Dirimu yang tak putus-putus membina hati
Setiap kalinya, menetaskan diri barumu yang lebih lagi
Lebih lagi tidak percaya

Pada matahari, direnungnya
Lantaran apa
Kegilaanku padamu tak menipis
Meski musim makin mengikis
Usia, dan kudrat yang terhabis

Entah.

Mungkin mengharap di setiap kelahiran semula
Menjadi lebih dewasa
Dan lentur hatinya dengan drama dan rama

Ah, aku terlalu mudah jatuh cinta.
Tapi engkau tetap Matahariku.

Thursday, August 11, 2016

Bagaimana Untuk Menjadi Dirimu

Dentingan jam sebelas kali, aku menantikanmu di pangkin hadapan rumah kita. Sambil meneguk kopi pembuka mataku, aku malahan telah menelah fikirmu. Kala mata dan bahumu menghenjut memujukmu pulang, api-api di dadamu menyergah, nanti dulu, nanti dulu.

Dia belum tidur lagi.

Seolah-olah ku terlihat bebintang yang sedang kau renung, sekarang. Ekor-ekor meteor yang serumitnya matamu mengekor. Tertulis sebuah akur, menyelinap segenap pangkur.

Sebelum aku berlalu masuk ke kamar tidur, suatu helaian berendakan air mata kutitipkan di meja sisi. Sisi engkau.

Nanti akan kau jumpa baca sambil matamu terkejip-kejip;

"Aku, ingin sekali menjadi engkau;
Betah meninggali hati
Yang sehidupannya menyelimuti kepancangan kamu.

Mungkin dengan menjadi engkau;
Segala iri akan terbang pergi,
Dan aku menjadi lebih berani
Meninggali pula rumah ini
Yang diselubungi debu semalam dan daki ingatan tak bercuci.

Entah bila pula kita akan meracik gari-gari rasa sendiri dan tak mahu bangkit dari biasa-biasa menuju alam yang penuh percik api-api dan duri memagut kaki yang tak berhati-hati.

Ah, kelakarnya, meletakkan hati di hujung kaki.

Selamat ulang tahun jumpa, cinta.
Meski cintanya telah memipih entah ke mana."

Sunday, August 7, 2016

Tingkat Tinggi Labah-Labah

Labah-labah yang mengintai keras dari kerapuhan kamarnya di sudut pinjam
Kamar hatinya merangkul erat kemungkinan untuk mati hari esok
Dan keangkuhan untuk mengatakan ajalnya bukan hari ini

Angin sepoi-sepoi merungkaikan tempat labah-labah beradu
Ia terjaga dari mimpinya yang baldu
Keras sungguh tanah ini, mengapa
Oh
Aku bukan lagi di siling tinggi

Labah-labah memanjat kembali
Satu kakinya bengkok dirobek graviti
Sebentar tadi, sebentar lagi
Yang kecil tetap tak mati hati.

Saturday, August 6, 2016

Aku Tidak Mahu Ditelan Masa

Aku tak mahu ditelan masa
Aku tak mahu terlupakan mereka
Kau, kau, dan dia
Biar setia
Meski aku yang mungkin kadang terlupa

Belit-belit masa menyesakkan jiwa
Dahan-dahannya ampuh, menyembunyikan nyawa
Musuh dalam selimut berona ikhlas
Mansuh kepentinganku tak pinta dibalas

Inginku ingatkan padamu, betapa
Tingginya engkau di hidupku,
Walau setelah ini aku diam membisu
Aku, tak melupa
Kau tetap di sayup-sayup mata yang hampir terpejam, menerpa.

Dendamku pada masa seharusnya membening
Cuma kerana ku tak tahu rahsia masa depan
Aku diam, dan rentan
Masa akan menyenangimu, sedangkan.

Si tamak haloba seperti aku
Selalu gelojoh dan tak sabar menunggu
Sekelumit percaya, yang malu-malu.

Thursday, August 4, 2016

Tatih

Ketika sayap malam berlabuh, tika itulah engkau meruntuh. Segala rasa, asa, masa yang tertangguh, kau biarkan luruh. Perit, perit yang sesungguh-sungguh. Sakit, sakit yang melaung rusuh.

Jadi aku siapa, di persimpangan malam ini?

Bulan mengintai, sunyi. Ada melodi tersekat-sekat menguntai, seperti piring hitam yang tergarit-garit. Ah, muzika. Kau peleka. Kau seperti mereka! Yang menghunjam bahagia ke wajah aku melalui lensa, tersenyum-senyum memandang kaca perakam, bicara tawa yang kau konon sembunyi, lihat sekarang! Aku bahagia! Kau?

Kau......ada?

Aku.....ada. Aku ada di sini. Kadangkala senyum mereka terjangkit ke mari, sebelum sempat aku menangkap diriku, ah! Mengapa kau gembira sama? Kenapa kau seperti mahu berdansa? Lihat sekeliling kau, lihat......! Yang ada puing pusing segala runsing yang tidak pernah selesai. Yang menanti adalah pengharapan jiwa-jiwa yang menyangka, kau makhluk terkental. Kebal, tak termakan hina. Ampuh, tak terusik guruh.

Mereka, tiada tahu, apa di dalam sepakaiannya aku.

Di dalam sini banyak poket rahasia yang sengaja aku tak memberi baca. Sengaja. Biar aku kelihatan indah apa kiranya. Molek serba ada-ada. Apa guna memberi faham, jika tujuan cuma menghibur, aku, bukan biduan, aku, bukan seniman. Aku, tak mahu kau terlihatkan semua dan kemudian menempelak aku berkata pula,

Ah, kau ini penuh beralasan.

Memang dunia tidak berpihak di sayap kananku, sekarang. Sekarang biarkan picing matamu semakin sempit bertatang.

Tatihku, menuju bintang, melalui jalan-jalan asing bercahayakan bulan yang suram.

Aku akan tiba. Biar aku percaya. Meski aku seorang saja yang percaya.

Bintang, jangan berlalu dulu.

Tongkahku tidaklah laju, tetapi mampu.

Terincih Perih

Rincih hatiku, hingga kau jemu
Terlalu rapuh, usah bertamu
Semahuku, semahuku
Jeritan tenggelam dalam sagat dan palu
Malu
Berhadapan seinci pun kezarahanmu
Sembunyi habis dalam lokar berkunci padu.

Tuesday, August 2, 2016

Dua Minggu

Sesaknya kamar fikiranmu
Sempitnya balam matamu
Yang ada, dokumen-dokumen menekan
Yang tinggal, asa-asa ketinggalan
Cepat
Cepat
Cepat
Kita mulakan, jangan tersisih di pinggir mundir

Menengadah ke langit, kepalamu
Mengangguki jalan-renti kereta, melayan rasa
Awan
Bagaimana engkau selalu putih?
Awan menempelak dengan menampar silau mentari,
Lupakah engkau pada kelabuku?

Kisah dan resah
Senantiasa ada yang tak cukup
Cukup
Habisi dan katup
Mata ini sudah mahu tutup

Lari-lari-lari-lari-lari
Terjaga engkau, masih digari
Segala gelisah seberat besi

Terjun dalam angan-angan
Semoga engkau kekal siuman.

Monday, August 1, 2016

Love, Is A Lie.

Mata cemerlang
Angkuh kadang-kadang
Kucing di kaki kau sayang-sayang
Direnung lama, kau melari pandang
Bertingkah kata, kau senang
Senantiasa mahunya menang
Rokok dicucuh, kau lantas pergi
Sorakan bola, kau lena bermimpi
Tersalah eja, engkau tak betah
Terlambat tiba, mengundang marah

Ah, engkau
Semakin ku cari salah
Semakin indahmu bertambah
Apa kuasa rabunku melambung
Mengenal engkau, suatu rasa rindu gamit menyongsong

Tinggal swara halus membisik
Pejamkan mata
Langkahkan kaki, pergi. Lekas lari!

Dalam setiap derap seluruh perca hati tercarik.
Dia tak mungkin, memandangmu balik.