Jalan-jalan yang terkosongkan,
Haluan yang tak bertujuan,
Dendam yang teredakan,
Cinta yang tak disampaikan,
Dan hubungan separuh jalan-
Semoga kita kembali fitri.
Hari-hari akhir Ramadan yang jarang ditangisi
Dimabukkan kantuk yang menyelimuti
Terjaga digoncang borborigmi
Ah, puasa sudah berakhir, hari ini
Rumah bukan tujuan tenang, tapi pelarian
Menumpangkan asa dan ego yang terambing-umbang
Sosial melintang pukang
Kawan dibilang-bilang-
Tiada yang menang
Menempik jiwa di kalbu yang pernah basah, suatu tika
Rindu sedar dan harap di hujung celaka
Perlukah parah sebelum ada
Segala laba terpinggir para-para syukur,
Dihurung alpa yang dungu
Ke mana arah tuju kereta api ini
Ke Seremban kah,
Atau ke bangkit mu
Taman Wahyu-Bangi
Remadan 14.
Ia pernah menjadi kemegahan
Disebut-sebut, lambang mewah
Ada cita-cita
Ada maruah
Di kiri kanannya anak-anak kecil melungu
Jari telunjuknya mengikut pesawat ke angkasa biru
Mahu terbang!
Mahu jadi konglomerat yang ke udara selalu
Bunyi bisingnya mengujakan
Hampir tiap yang menatap
Tak sengaja senyumnya tersingkap
Benar
Negaraku punya lapangan terbang
Tidak di bawah tempurung kami bersarang
Kini semua sawang-sawang yang bergantungan menempelak lapangan sepi
Dahulu,
Engkau begitu dan begini
Kini cuma menjadi memori
Bingit-bingitan di pinggir lebuhraya,
Suatu kenang yang terheret modenisasi.
Lapangan, aku pernah berdiri di persadamu
Lapangmu sekarang malahan kosong seperti hatiku.