Wednesday, June 21, 2017

Kembali Fitri

Kepada,

Rumah yang ditinggalkan,
Jalan-jalan yang terkosongkan,
Haluan yang tak bertujuan,
Dendam yang teredakan,
Cinta yang tak disampaikan,
Dan hubungan separuh jalan-

Selamat Hari Raya.
Semoga kita kembali fitri.


Bukit Mahkota,
Hari-hari akhir Ramadan yang jarang ditangisi 

Thursday, June 8, 2017

Kereta Api Tidur

Dimabukkan kantuk yang menyelimuti
Terjaga digoncang borborigmi
Ah, puasa sudah berakhir, hari ini

Rumah bukan tujuan tenang, tapi pelarian
Menumpangkan asa dan ego yang terambing-umbang
Sosial melintang pukang
Kawan dibilang-bilang-
Tiada yang menang

Menempik jiwa di kalbu yang pernah basah, suatu tika
Rindu sedar dan harap di hujung celaka
Perlukah parah sebelum ada
Segala laba terpinggir para-para syukur,
Dihurung alpa yang dungu

Ke mana arah tuju kereta api ini
Ke Seremban kah,
Atau ke bangkit mu

Taman Wahyu-Bangi
Remadan 14.

Monday, June 5, 2017

Lapangan Terbang di Pinggir Jalan

Ia pernah menjadi kemegahan
Disebut-sebut, lambang mewah
Ada cita-cita
Ada maruah

Di kiri kanannya anak-anak kecil melungu
Jari telunjuknya mengikut pesawat ke angkasa biru
Mahu terbang!
Mahu jadi konglomerat yang ke udara selalu

Bunyi bisingnya mengujakan
Hampir tiap yang menatap
Tak sengaja senyumnya tersingkap
Benar
Negaraku punya lapangan terbang
Tidak di bawah tempurung kami bersarang

Kini semua sawang-sawang yang bergantungan menempelak lapangan sepi
Dahulu,
Engkau begitu dan begini
Kini cuma menjadi memori
Bingit-bingitan di pinggir lebuhraya,
Suatu kenang yang terheret modenisasi.

Lapangan, aku pernah berdiri di persadamu
Lapangmu sekarang malahan kosong seperti hatiku.