Friday, May 30, 2014

Burung malam

Burung malam
Terbang pulang
Bersama paruh berisi agenda esok hari, impian masa tua, dan cinta penuh rasa
Terapung-apung di sejuk malam
Melepaskan segala entah apa-apa
Ke kotak separa sedar dan separa mati
Si pengantuk
Terus terketuk
Untuk berjaga lagi
Di segenap gelita.

Apakah patut ku tabur dedak dan bikin kolam mandi burung di luar tingkap kamarku
Agar saja mereka berhenti bertamu?

Sunday, May 25, 2014

Celaka

Yang paling celaka itu lidahku
Lidah seperti pedang, kau kata?
Apakah kemunduran ini?
Lidahku seperti sniper
Tepat ke jantung
Mati semuanya.

Yang kedua celaka itu sifat tak endahku
Bila orang datang padaku
Aku buat tak endah saja
Bila orang pergi dariku
Kutanyakan, mengapa?
Ah, celaka.

Yang terakhir celaka itu aku
Di hening pagi
Tiada yang lain yang aku hingarkan di ruang fikir
Selain kecelakaan hati. Dan jiwa.

Sambil aku memutarkan lagu-lagu sedih di pemain burukku.
Konon-konon mereka boleh membasuh
Dosa sniper dan sifat hati keringku ini

Kenapa, kau begini
Mencelakakan diri sendiri?

Tuhan, aku takut
Mati dalam celaka.

Friday, May 23, 2014

Pelokek

Ah, kau, si pelokek
Minta sedikit katanya sengkek
Minta segelas kau beri setitik
Minta sehati kau beri secobek

Ah, kau, si pelokek
Bagaimana kan kufahami fitrahmu
Jika bukan terpaksa kupinta padamu
Jika bukan tercuma kamu yang tahu
Kau fikir
Masih di sinikah jelamanya aku?

Ah, kau, si pelokek
Sedang yang kau lokekkan bukan kau yang empunya
Selamanya
Dan selamanya aku tak mengerti
Betapa salahnya prinsip dirinya

Ah, kau.

Thursday, May 22, 2014

Hatiku semakin malam.

Dentum dentam di langit malam
Menggencarkan rasa suram
Di mana, kawan, di mana
Di mana, janjinya, di mana

Pantas pula masa berjalan ke waktu ini
Waktu aku seharusnya bersalam denganmu mengucapkan selamat jalan dan maju jaya
Seingat aku
Baru kelmarin kita bertemu dan bercanda
Baru kelmarin kita bersua dan bercerita

Dan waktu yang sepantasnya hadir ini
Seolah-olah tak pernah habis
Dengan aku yang menunggu, bersama secawan teh anganku, kubancuh untukmu
Dengan kau, yang tak muncul di depanku

Sedang hari semakin malam
Dentum makin dentam
Hati makin suram
Dan kita, seperti malam
Entah bila tibanya pagi
Pasti datang, tapi hati tak percaya lagi.

Aku tunggu kau di sini
Dengan hati yang semakin malam.

Monday, May 19, 2014

Cartoons, and other things.

I'm always fond of children shows and cartoons. Before this, I just genuinely and purely love them for the messages and all, but lately as I come to this age (hahaha what's this exclaiming that I'm exactly old or something? Okay sorry) I'm kinda surveying which cartoons and shows that are actually good and helps in educating young minds. For my future kids, see. Lol.

And I came across this cartoon named Dibo The Gift Dragon. It's really cute and the concept of the cartoon is so cool. All the creatures and plants in Cosy Land are made of wool/felt material, and you can see the stitches in everything. So Etsy-ish kinda cartoon. Pretty and artsy. And the main story is there's this dragon named Dibo who can grant his friends' wishes by a magic phrase 'Diding Boding Dibo Dibo Ding' and the gifts will come out of the dragon's tummy (which has a zipper on it.) And the song is quite catchy too. Lemme share the song witchu.


"Hello, hello, my name's Dibo
Here is something you should know
When you want just say this
Diding Boding Dibo Dibo Ding"

Catchy right? It also came with these dance moves. Lol.

But when I'm watching this, I'm kinda afraid of showing the cartoon to any toddler I know. I mean, we Muslims should always know that we have Allah The Almighty to rely on. And to ask for anything. Not some witty dragon with a catch phrase and a zippered belly.

And that concept should be taught first to these innocent minds. That they'll always have Allah. Even though when they have nothing nor anyone with them.

I wish some people could make a similar high quality cartoon like Dibo, to teach these young caliphs about this very core. Of course Allah can't be portrayed. But the educational message can be the major core concept. Actually not only for kids. But us adults too, who had might forgotten our purpose of being sent here on this Earth.

We had this explorace thingy with the muslimah sisters earlier, and there's one game which had you to pass a pingpong ball to your team mates using a plastic spoon. And after the game ended, we were asked- did you rely on Allah during the game, or did you rely on your skills and your team mates? Man. That hit me like a lightning. Especially when we just had discussed this particular ayat from surah Ali Imran: 190-191.

Indeed, in the creation of the heavens and the earth and the alternation of the night and the day are signs for those of understanding.

Who remember Allah while standing or sitting or [lying] on their sides and give thought to the creation of the heavens and the earth, [saying], "Our Lord, You did not create this aimlessly; exalted are You [above such a thing]; then protect us from the punishment of the Fire.

We should be reminded of Allah at all times. During whatever situation. Be it you're watching a cartoon or passing pingpong balls to your friends.

Cz He will always be there for us. :)

Sunday, May 18, 2014

Kalah

Kalahkan saja mindaku, kantuk
Biarkan ia terus mengetuk
Pada pintu yang terselak rusuk.

Aku tak mampu lagi
Kerana kupunya pelbagai cita
Untuk esok.

Maka biarkan ketukan bertamu sepi.

4-sesuatu
18-5-14

Senyap Yang Tenang

Sepatah dua katamu
Bahkan seribu tahun kebisuanmu pun-
Akan sentiasa bermakna
Di laman resah penuh belukar sesak ini.
Lapang terasa tanpa perlu bunyi-bunyi
Untuk mengumumkan keberadaan kamu.

0358
18-5-14

Kata, Berhenti Rayumu Padaku

Ianya sungguh aneh, bagaimana
Himpunan lagu dan bait-bait kata
Menyerang kotak minda tatkala seterpejamnya mata
Merayu-rayu untuk didendang sepenuh jiwa
Mengekang mimpi atau ruang gelap segenap infiniti untuk mengganti,
Menggerhanakan dunia ini.

Maka pergi saja dari lenaku
Dan biarkan aku hanyut
Ke seribu kebarangkalian.

Selamat malam, dunia yang tak berhenti lariannya.

3-sesuatu
Bilik
18-5-14

Friday, May 16, 2014

Selamat Hari Guru!

Ucapan Selamat Hari Guru Tahun 2014 ini ingin saya tujukan kepada semua guru yang pernah secara langsung atau tidak langsung mendidik saya mengenai apa jua perkara. Sama ada formal atau tidak formal.

Juga jutaan terima kasih atas segala pujian, nasihat, kata-kata motivasi, hinaan yang kritis, teguran jujur, jerkahan, perlian, kasih sayang, persahabatan, dan gurauan.

Semua guru, tidak kira siapa dan bagaimana dia bertingkah laku, adalah pengajar kita tentang kehidupan, dan membentuk kita menjadi manusia yang tahu sedikit sebanyak tentang cara-cara menghadapi dunia yang mencabar.

Seorang manusia boleh belajar sendiri daripada kitab, tapi boleh saja jadi salah faham tanpa penerangan daripada seorang guru. Guru melihat kita, dari zaman berkaca mata bulat dan bertudung senget, sehingga ke zaman kaca mata yang tak mengembangkan tudung dan bertudung gaya ikan sembilang. Dari pendek ke tinggi. Dari comel ke lawa. Dari tak tahu kepada tahu. Dari tak faham kepada "man I can do this."

Terima kasih,
Terima kasih,
Dan terima kasih.

Juga kepada guru pertamaku yang mengajarku bertatih, berjalan, membaca dan melukis warna, Ummi. Terima kasih. Ummi lah guru pertama nisa. Yang sanggup berpenat lelah dan bersusah-susah dari dulu hingga kini, terima kasih.

Jasamu kusanjung tinggi,
Kusambut setulus hati.

Selamat hari guru, para guruku.

Wednesday, May 14, 2014

Esok peperiksaan internal.

Berkawad ke muka pintu peperiksaan sambil menyandang senapang tabah-
Dengan airmuka penuh amarah dan resah sebagai rencah-
Aku tiba! Dan kau, pasti akan kalah!

Dengan peluru pena berjenama Garisan berduta hero hindustan terkemuka Shah Rukh Khan
Kertas soalan pastikan ku taklukkan
Dengan izin Tuhan
Bersama impian
Semoga saja yang kali kedua ini-
Kali penghabisan.

Selamat menjawab soalan,
Buat sang Keon dan rakan seperjuangan!

Apalah sangat panahan susah
Kalau esok kan lebih cerah.

Kumpul dulu tenaga hati
Di bidai gebar bersulamkan mimpi.

Selamat malam.

Saturday, May 10, 2014

Kekopi

Kopi tiga cawan
Membekas di hati kawan
Kantuk tak hilang,
Gusar ku pandang,
Kertas-kertas penuh tulisan
Seperti memomokkan masa depan.

Kopi tiga cawan
Resah disaljukan.

Semoga esok masih kau ada,
Tiga cawan kopi di tepi meja.

Thursday, May 8, 2014

Bunga Kuning di Dada Jalan

Bunga kuning di dada jalan
Akan menjadi saksi kita
Di remang petang ini.

Setiap kuntumnya merakam cerita
Tawa kita
Kecewa kita
Kesal kita kerana tertangguh bicara
Selama setahun sudah.

Dan di setiap kuningnya
Aku menghitung nasibku
Kerana kau
Masih menggelarkanku
Sahabatmu.

Siang

Di pagi-pagiku yang lewat
Diterangi sinar mentari di jendela
Mimpiku terjeda

Dalam pisat-pisat mata mencari angka di muka waktu
Antara percaya atau tidak
Lewat aku ditabrak kantuk

Seharusnya berhenti talian lewat ini
Kerana di sudut siring berbekas cawan kopi-
Kau katakan
Masa itu emas
Malahan kau lagi melayannya
Seperti anak ikan bilis
Terjepit di bawah himpunan pari.

Tuesday, May 6, 2014

Basah

Sudah lama tidak tertumpah di bumi
Mungkin tanah ini rindukan jatuhnya seorang aku
Mengenangkan aku yang dulu
Takkan semudah itu hapusnya dari ingatanku
Mencarik mentetas jahitan hatiku
Lantas aku tertarik pada mata kailmu

Tuhan
Masih adakah seorang aku di mataMu

Saturday, May 3, 2014

Jingga

Remang senja begini
Rona jingga menyapa
Dibalut gulung bersama si merah jambu
Menerpa putih kertas belajarku
Sambil membisik

"Sudahkan saja
Hari mahu habis
Malam masih punya masa"

Dan tiba-tiba tajam sembilu menusuk kepala
Lalu kututup saja lembar-lembar ilmu
Dan tersenyum menatap
Rona jingga di petang yang malap.