Berkelana di buaian
Pergi, kembali
Pergi, dan kembali
Kembara di buaian tidak mengejutkan, tetap mengujakan
Ditiup bayu dingin
Besar kecil besar kecil pandangan
Terderai ketawa termeterai
Meski di takuk sama
Masih tersua gembira raya.
Berkelana di buaian
Pergi, kembali
Pergi, dan kembali
Kembara di buaian tidak mengejutkan, tetap mengujakan
Ditiup bayu dingin
Besar kecil besar kecil pandangan
Terderai ketawa termeterai
Meski di takuk sama
Masih tersua gembira raya.
Tangis yang tidak kedengaran adalah gema raung runtun
Menuruni gelap dasarnya hati
Menjauh, menjauh
Aura sunyi bikin orang menjauh
Ada mata-mata tajam tersenyum simpul sekali
Menghirup secangkir kopi, bibirnya berdetis bisa
Memanglah patut, hilang berpaut
Kah!
Hilang tak bersuara
Kolam kesedihan berdesis sendiri
Bertambah lagi titis tangis hati
Pulau sebuahnya perempuan berdiri
Menadah tangan
Rahmatnya Tuhan
Terasakan tak bersampaian, tapi cuma dia yang terlupa mengucapkan syukran.
Beza adalah sebuah kapsul yang seringkali ditilik nilai
Dihantar-hantar ke sana sini melerai jiwa mematah masa
Masa berkalung pelaminan cinta diranap punahnya
Menodakan titik-titik melankoli
Ditunggangi manusiawi tak berjiwa tinggi
Beza marah, tidak peduli
Katanya tidak adil ku disakiti
Pandanglah aku sepenuh cinta
Murni hati melihat indahnya
Tiada padamu, unjuknya
Tiada padamu jua, unjuknya
Takkah kau gembira
Akan nikmatnya kenal?
Beza berlapang dada
Tetap disalah-salah hati yang berdarah
Dalam amarah, ia menyerah
Ada bait-bait syurga hati suci
Memanggilnya, mengajakkan menari.
Katupkan matamu dan biarkan gelap
Hamparkan amanmu dan temukan harap
Sepi
Sepi
Sepi
Cicip udara serasa masin
Angin, dunia lain
Hidangmu rangkap, belum bersantap
Tenang kan hinggap
Selaut rasa teramat biasa
Selam ke dalamnya
Luka berwajah baharu, tersenyum sipu
Buka mata
Nadimu laju.
Mari aku karangkan seraut sajak buatmu.
Telahanku pada malam gelap, adalah titis-titis jiwa
Kosong dan kelam, tepu tak ternampakkan
Ada suara di hujung jalan, menggerakkan langkah yang sekiannya lemah
Maju
Maju
Maju ke arahku
Raut wajahmu belum kutahu
Suaramu lunak asyik membisik, mahu ku tebak
Siapa gerangan di hujung talian
Singkapkan tabir duka malam dengan halilintar pertama
Menyelinap ke matamu di permulaan subuh
Magis sekali, sentak berkali
Di kejauhan, kudengarkan tabuh
Bertala-tala, menyala-nyala
Apakah ini titik pemula?
Mari, sambutkan sajakku ini
Dengan katamu pula, yang mengalun seri.
Mari?
Sepasang mata yang kuyu.
Kadang-kala membeliak pabila hairan, tidak puas hati, atau membentak.
Begitu lembut ketika terpana, dalam angan atau tertawa sejenak.
Sepasang matamu adalah sebuah kolam perang yang dalam, merlik dan indah, kilau dan gemalai.
Aku seringkali karam di dalamnya.
Lebih lagi kala kita yang sama-sama tidak suka memandang wajah yang lain kala bicara, terlihat terus mata ke mata.
Sudah lama aku tidak ternampakkan sepasangnya kolam-kolam itu,
Sehinggalah hari ini, aku tak sengaja tertatap foto kamu.
Senyum kerana kamera menujumu.
Mata lembut, kolam baldu.
Menuntunku meruntun,
Aku ingin bangun dan melihat mata itu setiap pagi.
Tapi takkan pernah bisa lagi.
Meraut pensel karbon di pinggir kebun mata
Menconteng kelabu masa; masa yang hitam
Ada garis kandel tertitip di jendela
Mengapa paksa
Ada sebuah titip di kepagian yang angau
Katanya bigau;
Ditinggal semalaman dikatupi debu
Nafasnya laju
Luru kemari, luruh sehari
Tinta di tenda, layar di langit
Alam begitu sempit,
Kaget
Tinting-tinting awan bersayap lagaknya
Keriut bertanda, sayapkan angkuhnya
Bertamu dulu di pondok kita
Nyalakan pelita
Di hatimu.
Hei, hei
Engkau mesti teliti.
Hei, hei
Bukan begitu, tapi begini.
Hei, hei
Langkahmu bisu
Senyummu sumbing
Tingkahmu marah
Caramu salah
Hei, hei
Jadilah aku, jadilah aku
Jeda sepicing, pandang ke mari
Wajahmu sumbang
Tingkahmu marah
Jangan kau celah
Hei, hei.
Pergi pagi; kerja.
Pulang malam; rumah.
Pergi, pergi lagi.
Pulang, pulang lagi.
Sesekali menyinggah.
Sepanjang jalan fikiran selalu menekan,
Jiwa selalu berkecamuk.
Hidup yang dicambuk sibuk,
Terasa terlalu mengetuk.
Jaga, kantuk.
Apa makna yang menusuk?
Pergi, pergi lagi.
Pulang, pulang lagi.
Sejuta lagu bermain di pemain.
Selakar memoir berpusing di puing-puing kenang.
Hati,
Siapa yang kau pandang?
Pergi, pergi lagi.