Begitu kuat aku berpaut pada kata-kata. Mencakar, hampir. Berhenti mundar-mandir, takkan sampai sekelumitpun pada dia.
Begitu jauh, dia.
Datang bikin kamarku kurang sunyi. Cerita keluh-kisah biasa, sehari-hari. Apa perlu bersemuka untuk memastikan semua mungkin, pasti, pasti, tiada yang benar-benar pasti. Berjumpa setahun sekali memecahkan dinding fana yang terasing. Aku, dan dia, bicara seolah tiada alam berkeliling. Buih, terapung putih.
Dalam hati sudah tentu sayangkan dia, sayangkan dia.
Titik dunia kita tak seiya.
Dan kita berjalan menjauh; utara, selatan, masing-masing rentan.
Jika kau bilang alam tak adil, apakah alam ini yang tak adil, atau kita yang tersalah menuju kandil? Jendela ini rapuh. Kita tidak memberus lukisan masa depan, warna-warna tak terilham bancuh.
Suatu hari seorang aku dan seorang dia bertemu. Dan harap-harap di hati rindu, titik pangkah akan bersua di latitud nanti.