Thursday, July 27, 2017

Pelarian

Aku memerdekakan engkau dari persahabatan yang kian tempang-
Kata engkau
Sedang aku terasa malang
Dirudum sangka yang entah-entah
Kata akhir kita adalah sebuah bisu yang terempang-
Merungkai tangis yang selalu mengejutkan aku di tengah malam
Bingkai-bingkai yang rapuh
Yang ku warnakan gangsa, perlahan
Mengapa harus rentan

Sejiwa jarang tertemukan
Sekata malap-malap di persiaran
Orang bilang kita aneh sekali
Gembira aku diselimuti
Direntap habis aku tak bangkit mandiri

Magis berbalas tiada
Di kejauhan ada satu jeda
Diam, pedih
Sampai bila

Senyum aku lihat kau bahagia
Terasa ingin senyummu menguntum sama.

Wednesday, July 5, 2017

Emas Melilit

Tidak betah selalu
Berada di luar garisan
Putus syukur
Tirai terhancur

Mana pergi tali temali
Yang mengalunkan luka
Ruang ini sepi sekali
Tiada langit cemburu pakai

Melatah di pintu durja, jangan
Sering dilaungkan yang bukan-bukan
Bukan salahmu terlihat selalu
Hati membatu tuduh melulu

Dalam kayangan tersemayam tinggi
Aksara ini
Melilit kepala puisi
Dengan permata paling kilaunya
Meracun sukma membuta angsana

Sungkur
Belum ditemu kita noktah teraju.

Saturday, July 1, 2017

Hei, Engkau

Membeza-beza asbab dan santun
Bukanlah kita

Belumlah tertera semula
Jahitan tulang belut di hati

Apakah akan terlalu lagi
Atau selamanya sepi

Kawan
Ingat-ingatku padamu
Selamanya tinggi

Janganlah engkau bersalah sangka padaku

Takkan aku meminta lebih
Dari jiwa yang perih
Selain setitis redhamu.

Secebis Hormat Di Muka Pintu

Ungkit dan pamit
Silih berganti
Kehabisan bicara ditelan
Pahit

Tiadakah simpatimu sekelumit

Cuma secebis pinta
Untuk disanggulkan cinta
Di pemula hidup selama-lama

Baharu,
Yang tertinggal kan kelu.

Maaf,
Ini bukan persinggahanku.