Sunday, April 22, 2018

-

Jam 6.45 petang adalah waktu untuk menilik perjalanan hidup, dan tangisinya.

Dan apalah selain ini yang mampu kulakukan untuk diri. Aku tiada kekuatan selain kata-kataku. Dan hati yang telah remuk lagi hancur ini cuba lagi perlahan-lahan mengatur kembali, masih dalam proses suai kenalnya dengan makna realiti.

Dia, tidak sepernahnya untukmu.

Dan aku, masih mengharapkan yang tak mungkin.

Setiap benang dari kewarasan aku jeratkan untuk menampung kejatuhan jiwa dan memapah segala asa yang ada, aku, tidaklah sekuatnya mana. Tidak ada kuasa, tidak ada daya. Telah aku menipu diri sendiri dan jatuh sayangku pada manusia, ah, mengapa mudah sekali begitu.

Mengapa.

Kelekatu yang cuma hayatnya semalaman mentertawakan aku yang rentan dalam kebohongan yang aku sendiri ciptakan.

Rindu, tiada makna rindu.

Melempar kata di ruang sini,

Biarkan aku sendiri dahulu.

Friday, April 20, 2018

Hapus

Dalam waktu ini
Aku ingin mengoyakkan jiwa
Sekuat-kuatnya
Sekeras-kerasnya
Hingga tercarik hancur semua
Biar ku tak kenal makna rasa

Biar aku mati dikambus asa.

Thursday, April 19, 2018

Entah Bila

Langit mendung di angkasa

Bertakbir dada menyanyikan ritma
Tiap titis yang belum turun
Aku teruja

Terlalu lama panas di sebelah sini
Anggun menyanyi, melenakan sepi
Kembali bersimpuh mainan apa
Mentari terbit,
Mega ketawa

Langkah yang teratur di atas lumpur
Hilang menelusup di dalam selut
Segala impi yang kian lebur
Berhela nafas, berlaga pulas
Jangan tumpas

Kita yang di hujung jalan
Berpeluk lutut, menanti hujan.

Sunday, April 15, 2018

Kesedaran

Hei, kalau jatuh cinta-

Apa pun dilakunya bikin kau asyik terpana.

Sunday, April 8, 2018

II

Dalam setiap curi pandang ekor mata
Dalam setiap senyum sembunyi-sembunyi
Dalam kemerahan muka mendengarkan kamu menyanyi
Dalam setiap loncat hati bila kamu tertawa
Setiap terima kasih yang tak terucap
Dan setiap apungan kaki bila berjalan seiring denganmu-


Rindu.