Ada titian yang mengolok kembang bunga di kepagian hari
Katanya untuk apa, menyembah limpah mentari
Dimamah-tinggal, panas malamnya
Tak kekal jua, binasa malarnya
Titian terlupa ia yang kekal, diinjak-injak selalu
Demi mengagumi warna-warni bebunga
Bunga diam, kerana yang indah selalunya diam
Dan yang mengolok itu keras, sepertinya titian
Yang tidak tahu lebih baiknya tidak diinjak
Daripada kekalnya mengeluh di kehidupan seluruh
Olokannya menjadi satu paradigma tak berbalas
Terapung-apung di ruang hirau
Menampung nilai yang berkilau.
No comments:
Post a Comment