Saturday, February 23, 2019

Eceran

Sukakan air, sedang air tidak pernah menyukaku kembali.

Pasir adalah /pembias/ /neutral/ /tak pendendam/
Diinjak menepi, dikaut bergenggam.
/Penyuci/ /tak narsis/ /tak tenggelam./

Amatlah aneh menyiapkan anak ke kali-kali, dibiar apung tak terpeduli.
Anak membangun mencinta air,
Tapi air mengkhianatinya sendiri.

Jalan Pulang

Puaskah berlari mengusung lelah
Tinta, wajah kemas dan susunan lidah
Hati tak mahu, aku berani
Berani, berani, berani
Takut mati

Lanjutkah akal ke langit sudah 
Setelah tiap cacing air meliuk ke kakimu
Debur, debur, biar laju
Laju air terjun membunuh resahku

Sehayat ini menggunung takutku
Biar ku mati menghitung langkah
Semesta alam meraup benci, menunjang bencana
Semasyhur kencana kuciap pelangi
Mati bukan ketakutanku lagi

Pelepas ditabrak
Pelipis menidak
Hidup biar seribu tahun lagi
Tarikan nafas serasa henti, henti, henti
Melaut nuansa mengocak peri.

Saturday, February 9, 2019

Solek

Menghurung perasaan
Satu lipatan demi satu
Bucu dan keluk diladeni telus
Benarkah kau fahami, rasamu sendiri
Gincu merah, bahagia
Alis coklat, senang disapa
Pelepuk mata yang hitam menyorok nista
Helah adunan warna di layang pipi
Aduh, begitu materi dan pateri
Melukis contengan hati

Gelisah tuntun dipamer di rak paling tinggi
Salah tebakan
Ditawanya sendiri.

Thursday, February 7, 2019

Kedu

Terkadang aku terpempan dengan betapa indahnya caraMu Tuhan, mempamer kesempatan dan wajah sebenar manusia padaku.

Syukur terima kasih. Tak terhingga untukMu. Kurasa seperti hidup semula setelah kabut di perjalanan.

Alhamdulillah, thumma alhamdulillah.