Thursday, December 19, 2019

37 Days

These last 37 days towards The Day, our wedding day.

I nearly merajuk with him yesterday. We were planning for our honeymoon trip, and were torn between Penang and Sabah. At first I’d just obliged to the Penang idea, but when we tried calculating for the Sabah trip, the costs are almost the same- and Penang isn’t looking like it’s cutting a lot of slack for our pockets.
Once I got him reeled in into the Sabah trip idea, I dove right in- planning itineraries, which hotel to book, what activities to do, where to get food, etc. I got so damn excited to see the place where I practically grew up, until H suddenly chipped in, “tapi what if kita pegi Penang, ada private pool kat Lexis?”

I got so mad I practically just stayed silent to avoid shouting at him. I tried to calm myself down thinking hard that it’s okay, I’ve been there, and this is a 2 persons’ decision, and we can always go there whenever. Just maybe not now when money’s a bit tight with all the planning.

I didn’t realised I miss Kota Kinabalu that much till that very moment.

Driving home after dinner, after a longggggggg silence spell, H just said something that nearly made me cry.
“Sayang, you memang nak sangat pergi Sabah ye? You rindu kan tempat you membesar dulu? Lepas ni you rasa macam susah eh kita nak pegi?”

I grunted in reply.

“Okaylah kita pergi Sabah ye. Janganlah macamni dengan I.”

I cried so hard on the way back. Because I never really expected him to understand me- like he’s been reading my thoughts the whole time.
If anything, it made me fell for him harder.
I never asked to be understood. People telling me I’m weird the whole time. But having someone like H, is totally a blessing.

And there I ranted here, cz I felt Twitter is too public nowadays.

Another 37 days to barge in like a total Bridezilla. It’s kinda irony that we watched Godzilla on our first date. Lol

Saturday, November 16, 2019

Puisiku

Dalam keresahanku meladeni buku-buku puisi
Mencari kata paling indah untuk hari bahagia kita-

Aku tersedar, dalam sekalian aksara
Kau puisiku terpaling baldu,
tiada taranya sekalian lagu.

Sunday, November 3, 2019

Tiga Puluh Ketidaksendirian

Saban tahun aku menanti tanggal 28 Oktober.
Menyambut suka dan duka sepanjang berlabuh nafasku ke dunia.

Sudah sekian banyak tahun aku menyambut ulang tahun dengan status bujang.
Kali ini,
statusnya tunangan orang.

Terasa ganjil di keluk fikir.
Terasa gelisah entah apa di hujung hati.

Hafiz baik sekali denganku pada tanggal 28 lalu. Dibelikannya sebuah kek keju SDS dengan tulisan "Happy Birthday Sayang" tertera dalam manis buttercream, dan menanti aku dengan penuh setia di luar klinik selama 5 jam aku bertugas locum. Tempoh hari dia belikan pula aku satu soft toy arnab Jellycat yang lama aku idamkan (tapi in denial, takkanlah hadiah usia 30 tahun beli boneka seperti keanak-anakan. Tapi tapi tapi!) Aku akui aku masih dalam tempoh adjustment membiasakan konsep 'kita' daripada 'aku' selama ini.

Kemudian hari pun berlalu,
aku dan Hafiz perlu terus menyambung persiapan ke gerbang perkahwinan.

Ulang tahun ke-30 ku tidak sunyi dengan seribu persoalan masa hadapan.

Aku sulam segala tanya dengan doa-doa pengharapan, dan aku tahu, bidai kehidupan cuma akan tersingkap seiring waktu.

Selamat Ulang Tahun ke-tiga puluh Khairunnisa, semoga derapmu senantiasa bahagia.

Wednesday, September 25, 2019

Stanza Untuk H

Kita, sudah bergenggam hati, sejauh ini.
Pernah kau bilang padaku, kau tak fahami susun baitku,
Metaforaku,
Rima turun naikku.

Aku cuba melelasi segala hutan kias
Mempamer cinta tanpa pentas berhias
Jujur, kau teristimewa, tanpa sebarang bias.

Sayang,
Jalan masih panjang
Kita tetap punya kita.

Tuesday, August 6, 2019

Senggat Baldu Melaju

Tiap detik, derap disusup baldu
Sepemeluk lembut terbias kencana
Sisip-sisip nuansa suria di balik jemarimu,
Silaukan pandang hariku
Bertempiar pergi lelah dan bungkam khilaf
Di tampang jemalamu.

Belum waktukah lagi untuk kita menempa janji
Setia, bahagia dan selama-lama?
Ini baharu satu purnama,
Bagaimana pula sekalian fana?

Mana mungkin kuingin pergi dari lilit masa kita.
Tiap senggat bercantum jua-
Segala beza dan balah, terasing
Seiring, tak bikin sekelumit pusing.

Arjuna,
Kau seluruh segala tinggi
Menyinar peri ke akhir nafasku
Menyirna sepiku bersepai hapus.



Buat cinta, di satu purnama kita.
1 Ogos 2019

Thursday, July 11, 2019

Untuk Sukma.

Kutemukan bulan di pinggir matamu
Terang bersinar, dalam bundar
Sayu tenggelam, sunyi bungkam
Dipeluk syahdu menikam

Limpah cahaya, malamku siang
Derap waktu di awang-awang
Kala hilang, kunanti pulang
Dendam rindu ditatang-tatang

Kusambut seluruhnya keluk landai
Kuhindar ragu kadang membadai
Sorot masa cinta melampai, kutaruh senyum

Tiada sangka kau akan mampir berkunjung.

Sayang, sewangi frangipani
Kasihku menguntum harum.

Friday, June 14, 2019

Romadhon-Syawal 1440H

Assalamualaykum, kita bertemu lagi dalam rancangan bebelan Keon sempena Puasa Raya tahun ini.

I think this year, time runs too fast. Ada orang kata, semakin dekat dengan kiamat, semakin cepat waktu berlalu. Masih juga belum insaf dalam berbagai perkara.

Aku melalui Ramadhan dan Aidilfitri tahun ini dengan pelbagai rencah. Pada aku, terlalu banyak perkara yang mengusutkan fikiran. Not many people realized it, people at work just started to recognize me, atok and nenek still adjusting to my presence, aku masih sendiri-sendiri menyimpan stress yang kadang-kadang tak tertanggung. Aisyah jauh. Kalau dulu, dia dulu yang akan menegur kalau riak wajah aku kelihatan 'lain' atau aku terlalu try hard untuk kelihatan gembira. Sekarang, nak tegur pun kadang-kadang.

Banyak kali guna perkataan kadang-kadang.

Maybe this is just adjustment disorder.

I'm still trying to put my feet on good grounds.
At times, aku rasa mungkin berpindah keluar dari rumah nenek adalah lebih baik, tapi...entahlah.

Senantiasa, ingat saja Tuhan takkan meletakkan aku di luar batas kemampuan.

Hidup adalah sementara. Jodoh adalah takdir, dan mati adalah pasti.

Semoga impian aku bertemu Husnul Khatimah akan jua terkabul.
Taubat selalu belum cukup.

Masih banyak sisi-sisi kasar seorang aku. Belum habis dikertaspasirkan.


Thursday, May 16, 2019

Cuba

Sepi tengah ramai
Cemerlang di pinggir desa
Lenturan hati sejuk beku
Terus mencair tak terkumpulkan

Entah kemana jiwa-jiwa akrab
Sering di picing mata
Tak mendekat setitispun di kalbu.

Saturday, May 11, 2019

New Chapter in Life: Pontian

I honestly don't know how to phrase all these.

Ever since I started working in Pontian, I think I've changed a bit. In the aspects that, I have to take care of my grandparents' house now that I live with them, and have to accept their quirks. My grandfather who earns by making tapai ubi and selling them at stalls and bazaar Ramadhan also, unfortunately have to adapt to my own quirks. He's so used to live only with his wife that he do things his way - the messy way. LOL. I lost count of how many times I reminded him to put the Nestum 3-in-1 sachets and Maggi packets in the dustbin, only to find them slotted under the rice cooker, the kettle, and even under his kopiah once. *facepalm* Also to remind him how to use the *newly bought* washing machine (the previous one is a semi auto one, which is at its deathline) to wash my grandma's bed linens - they have to be washed daily to prevent nauseating odour - only finding myself doing it every morning before going to work, cz I want to make sure that everything's in order. I think this slight obsessive trait i possessed will surely kill me sooner or later - not.

I used to only take care of my own affairs. Taking care of someone else- a demented one at that (my grandmother)- sure posed a challenge to me. But I'm willing to take up the challenge cz if I didn't do it, who else? My mom can only afford to come visit once every 3 months roughly, and my nearby aunt just won't care at all. Everytime I ever followed my mom back to Benut, the house is in an unspeakable state. I'm already in a rough patch with one of my uncles who questioned my sincerity when I spoke up about him coming to my grandparents house, saying he wanted to tidy up my grandfather's room only to make the house messier cz he did it halfway. Oh, so he's so sincere, visiting my grandparents once in a blue moon while living in Johor? I just don't know, man.

Anyway...I need to find some sort of energy booster to make time for the house chores, cooking once in a while and studying for MRCPsych. I ask from Allah to guide my journey, and in this holy month, making this slightly easier for me if not for my aching back, for the lightness in my heart.

The smile I get from my grandmother beats all the worries and sorrows in the world.

Salam Ramadhan,
Keon

Saturday, April 27, 2019

Ujian

Baru selesai siri drama Nur 2 semalam.
Ramai yang menyamakan watak Ustaz Hamadi dengan syaitan.
Syaitan bertopengkan manusia.
Syaitan membisikkan perkara jahat dalam hati-hati manusia.
Menjadi ujian pada semua bani Adam.

Ujian.
Entah kenapa malam ini, begitu terkesan sebuah memori berpusing-pusing di benakku.
Aku pernah ditolak dengan berbagai alasan.
Tapi si fulan ini tak semena-mena mengatakan, mungkin aku adalah ujian baginya dalam membina masjid dengan bakal  tunangnya. Bukan salah waktu, atau ketelanjuran kata. Tapi ujian. Aku hadir semula bila dia sudah mahu membuka langkah melupakan aku yang pernah disanjungnya satu masa dulu. Ujian.

Saat itu, aku terasa disamakan seperti syaitan.

Tuhan, maafkan aku kerana tak sengaja menguji yang lainnya. Aku sama sekali tidak akan tahu tulisan Luh Mahfuzmu. Hina sungguh diri ini rasanya.

Maaf sekali lagi, sahabat, tak sengaja berada di garis masamu.

Saturday, April 20, 2019

Nenek

Aku yang bayi, dicuri di keheningan malam
Kerana sebuah dada rindukan hangat pipi cucunda.
Diingati di setiap doa
Ditanyakan di setiap panggilan
Dirujuk bila dihospitalkan

Nenda,
Setiap senyum ikhlasmu di tali usikanku
Meruntun jiwaku pilu, dan lesu
Izinkan aku menemani barang setahun dua
Agar ringan segala sesak di dada.

Nenda,
Mungkin telah luput dari ingatanmu
Kesukaanku jagung tongkol
Di riuh pasar lambak pagi Sabtu.
Senyummu tetap jua bertaut
Bila kutanyakan, jaga gula tak hari ini?

Jaga, jawabmu kelat.

Tapi dirimu yang perlu dijaga kini.

Wednesday, April 3, 2019

Seusai Dua Tahun, Kurang Lebih

Sepasang birai semakin teduh
Mendung dan labuh
Di perkarangan rumah sakit yang mengajarkannya hidup
Mempatrikan segala sanggup
Gugup kelam dikatup
Pelajaran dua tahun tersusup teguh.

Memulakan hari asing adalah limpah baharu
Melagakan impi, dan kelangsungan kira-kira
Apa kiranya kan tertemu
Belah-celah hati yang biasa memujuk

Selangkah pergi, lantunkan rindu
Selangkah hadir, timbulkan rusuk padu
Hati lebih kental, seharusnya asa
Jalan makin terjal, dijejaknya semua

Murnikan pelita di pemula hari
Hujung kan seri, kabur sekalian iri.


Friday, March 22, 2019

Catatan Kecil-

Bismillah.

Rasanya sudah terlalu lama aku tak mencoretkan apa-apa anekdot hidup di ruang sebelah sini. Separa berusul dari niat menjadikan blog ini, natijahnya berisi puisi-puisi; separa lagi kerana...aku sudah lama tak memiliki laptop. Terasa juling mata mahu menaip selain dari puisi-puisi pendek di telefon bimbit marhaen milikku. Alhamdulillah ada rezeki kali ini, aku berjaya mendapatkan sebuah laptop baharu. Hadiah untuk diri sendiri, setelah berjaya menghabiskan tempoh housemanship. Aku selalu hadiahkan diri sendiri sesuatu setelah mencapai satu-satu matlamat/ujian hidup, haha. Maklumlah orang solo. Siapa lagi nak hargai diri ini, kan. *pengsan terharu

Dalam masa kurang lebih dua minggu, aku akan berangkat ke Johor, untuk memulakan babak hidup baharu dengan jawatan Medical Officer. Walaupun belum bermula, sudah terasa berat tanggungjawabnya. Tugas seorang MO jauh berbeza dengan hidup waktu HO. Kadang kala kau perlu buat keputusan-keputusan berat di saat-saat genting hidup pesakit. Aku terasa sangat tak bersedia, tapi aku mengerti dalam perubahan fasa, manusia takkan pernah rasa cukup bersedia. Selamanya kerisauan entah apa akan kekal berlegar dalam cerebrum, sampailah masa membasuh semua resah. Haha. Gittew sangat. Nota: aku akan banyak ketawa bila aku resah, takut, dan keliru.

Mungkin cita-cita aku untuk menyambung pelajaran, menduduki paper MRCPsych tahun hadapan sedikit sebanyak membuang rasa gelisah. Sekurang-kurangnya fikiran aku terisi dengan atur-aturan bagaimana membahagi masa untuk belajar dan hidup. Mungkin saja buku dan jurnal akan menjadi sahabat baikku di Johor nanti, kalau pun tak ada yang sudi berkawan denganku kelak. Aku faham, di fasa ini, bukan semua orang bersedia menjadi kawan. Sekitar umur yang banyak tanggungjawab, komitmen dan masa depan yang perlu diuruskan.

Esok, aku akan ke Kuala Lumpur (ewah macam jauh sangat dari Bangi) untuk acara Solidarity with Palestine anjuran GEMA Selangor. Ini pertama kali aku mengikuti aktiviti seperti ini, sebelum ini cuma mengikuti di sosmed atas sebab kekangan masa. Aku harap ia akan menjadi pengalaman bermakna dalam hidup aku, kerana aku sudah lama mengikuti perkembangan saudara Islam yang tertindas di Palestin, tapi selain sumbangan yang tak seberapa, rasanya aku tak pernah terlibat secara sosial untuk berdiri bersama mereka.

Baiklah. Sampai sini saja. Aku masih teruja untuk meneroka fungsi-fungsi lain laptop ini. Haha! Maaf, sis excited.

Runut: Catatan Kecil - Adera

Keon
22/3/2019 Bukit Mahkota

Thursday, March 21, 2019

Selamat Pagi

Tersusup gemerincing hari
Di sunyi kepagianku
Menggoncang kantuk
Bertamu bang berketuk
Garis masa depan diam, dadanya memendam impimu dan mendakap malam, tidur, tidur
Aku bangun mendepa tangan
Sedia memeluk laba dan kemungkinan.

Friday, March 15, 2019

Bye

Kupintal angin semilir
Menjadi dandanan petang
Langit semakin merah
Menanda kalendar tiapnya pangkah, pangkah
Kilauan emas di pinggir Batu Caves
Teroboskan mimpi manis
Titik akhir kian hampir
Laung selatan mendekat mampir

Selamat tinggal, diamanku 24 purnama (kurang lebih.)

Tuesday, March 5, 2019

Anugerah

Tepuk tangan adalah sorak sorai hati
Semangat bersama dan cinta jaya
Girang dan tinggi menutup sisa-sisa noda iri yang berteleku di jantung sesetengah.

Seteru hilang dalam derap-derap telapak
Engsel lutut melurus
Yang berhadapan, lega dan haru
Platinum membaharu, kilau teraju.

Monday, March 4, 2019

Tari Akhir

BERHENNNNNTI!

Inang-inang yang kutakuti pasti datang
Membawa gemalai, dan rusuk berkelibut.

Fasa

Sebuah tidak pasti telah membunuhku sebelumku mati.

Sebelum aku orak langkah-
Nanti, nanti dulu
Sebelum aku hilang pangkah-
Tarik, hembus nafas satu-satu
Belum terluang masa untuk kususun kata berlipat di sudut meja, ah
Belum tersirat samudera kusut bergema laung dalam dada

Yang melihat, engkau
Engkau dan engkau jua
Perjalanan fasa selalu tidak seiya dengan tempo hati
Jiwaku balada
Nafasku klaustrofobia
Meringkik lelah hampanya entah
Melarik parah di selaput resah

Engkau bilang aku cuma panik,
Panik cuma aku
Malaikat lalu mungkin kaget,
Suntikan rahmat terjatuh, ah
Tak layak aku sulamkan plastik
Segera ia terkoyak rabik
Impian kita jauh tersisa
Dunia merengsa
Selesa
Mana?
Ini bukan syurga

Materi-materi terus mengolok
Ketawa ia tersohor
Kelabu mata termahsyur, apa
Suria kau katakan kabur
This is just a phase, kawan
Kau tenang cuba-cuba lawan
Tak perlu baling pinggan cawan
Tak baloi angkara dengan pelukan

Peluk aku sepanjang malam, jangan kau tinggal
Aku tak percaya masa depan, suatu kelak itu penanggal
Usus terbarai semuanya
Separuh hati hilang asanya
Jika kau hulur tangan sekarang
Tetapkan aku, halangku terbang

Jatuh.
Lawan.
Jatuh. Lawan. Jatuh, lawan. Jatuh, lawan!

Sebuah baharu menanti di tinggian awan.
Bajuku belacu, hina di pinggiran
Tak ada yang memacu, hela dipamitkan

Pergi saja. Baru kau tahu, semua.


Runut: Tinggalkan - Giant Prayudha ft. Tulang Kata & Sharon Richard

Friday, March 1, 2019

Kasmaran

Tinting-tinting parah
Nafas berlumur sesah
Nanti dulu
Biar kukunci percaya di atas batu
Bukan di ambal ini, nanti habis
Kristal berkecai kau bilang magis

Lihat padaku, tak perlu bermuka-muka
Rencam dunia di hujung mata
Terlalu, rusuh terlalu
Berlalu, harap berlalu

Gesa-gesa tak bikin jalan pintas, terlicik tertingkas.

Renung kalimat kalbu.
Atur langkah, baldu.

Saturday, February 23, 2019

Eceran

Sukakan air, sedang air tidak pernah menyukaku kembali.

Pasir adalah /pembias/ /neutral/ /tak pendendam/
Diinjak menepi, dikaut bergenggam.
/Penyuci/ /tak narsis/ /tak tenggelam./

Amatlah aneh menyiapkan anak ke kali-kali, dibiar apung tak terpeduli.
Anak membangun mencinta air,
Tapi air mengkhianatinya sendiri.

Jalan Pulang

Puaskah berlari mengusung lelah
Tinta, wajah kemas dan susunan lidah
Hati tak mahu, aku berani
Berani, berani, berani
Takut mati

Lanjutkah akal ke langit sudah 
Setelah tiap cacing air meliuk ke kakimu
Debur, debur, biar laju
Laju air terjun membunuh resahku

Sehayat ini menggunung takutku
Biar ku mati menghitung langkah
Semesta alam meraup benci, menunjang bencana
Semasyhur kencana kuciap pelangi
Mati bukan ketakutanku lagi

Pelepas ditabrak
Pelipis menidak
Hidup biar seribu tahun lagi
Tarikan nafas serasa henti, henti, henti
Melaut nuansa mengocak peri.

Saturday, February 9, 2019

Solek

Menghurung perasaan
Satu lipatan demi satu
Bucu dan keluk diladeni telus
Benarkah kau fahami, rasamu sendiri
Gincu merah, bahagia
Alis coklat, senang disapa
Pelepuk mata yang hitam menyorok nista
Helah adunan warna di layang pipi
Aduh, begitu materi dan pateri
Melukis contengan hati

Gelisah tuntun dipamer di rak paling tinggi
Salah tebakan
Ditawanya sendiri.

Thursday, February 7, 2019

Kedu

Terkadang aku terpempan dengan betapa indahnya caraMu Tuhan, mempamer kesempatan dan wajah sebenar manusia padaku.

Syukur terima kasih. Tak terhingga untukMu. Kurasa seperti hidup semula setelah kabut di perjalanan.

Alhamdulillah, thumma alhamdulillah.

Sunday, January 13, 2019

Bicara Pergi

Begitu kuat aku berpaut pada kata-kata. Mencakar, hampir. Berhenti mundar-mandir, takkan sampai sekelumitpun pada dia.

Begitu jauh, dia.

Datang bikin kamarku kurang sunyi. Cerita keluh-kisah biasa, sehari-hari. Apa perlu bersemuka untuk memastikan semua mungkin, pasti, pasti, tiada yang benar-benar pasti. Berjumpa setahun sekali memecahkan dinding fana yang terasing. Aku, dan dia, bicara seolah tiada alam berkeliling. Buih, terapung putih.

Dalam hati sudah tentu sayangkan dia, sayangkan dia.

Titik dunia kita tak seiya.

Dan kita berjalan menjauh; utara, selatan, masing-masing rentan.

Jika kau bilang alam tak adil, apakah alam ini yang tak adil, atau kita yang tersalah menuju kandil? Jendela ini rapuh. Kita tidak memberus lukisan masa depan, warna-warna tak terilham bancuh.

Suatu hari seorang aku dan seorang dia bertemu. Dan harap-harap di hati rindu, titik pangkah akan bersua di latitud nanti.

Pasca Oncall

Terjaga di denting empat kali, panas
Kerling ke luar bukti
Hari masih berbaki

Kusisip mimpi di poket jaga
Kantuk transaksi masa
Bikin apa, jarum jam berpusing tanya

Buku-buku di bibir meja
Kain baju di tepi tangga
Dapur menggoda
Lapar jeda dikatup lena waktu siang

Semalam kerumun susup ke lantai ingat
Akal diperah di dada malam
Pagi esok lewat amat, tidak, mesti malam ini juga
Bergaduh aduh, penat, mata berkedip ligat
Kuladeni hingga pagi
Hingga pagi
Hingga pagi menunjang lakuku sendiri

Selamat siang, matari!
Mari kuhabisi untuk sendiri.

Bukit Mahkota
13 Januari 2019

Sunday, January 6, 2019

Koyak

Kelam-kelibut, bertabur runut
Menahan pandangan kabut
Kala teringat kamu
Kusut

Saturday, January 5, 2019

Sadiq

Beritahu aku, bagaimana menghidang jujur
Benar itu perit
Segala aduh digamit
Menggigit tenggorokanmu, lumat habis
Tinggal sarung kempis.

Aku belum mahu berenggang denganmu
Meski kematianku dihurung lelucon
Kerana sebuah hati telah mati lebih dulu.

Beritahu aku,
Sebelum pura-pura mengetuk pintu
Topeng senyum kusarung
Menapuk sepi yang menjerit.

- Sadiq (arabic): truthful

Tuesday, January 1, 2019

Larut, 2019

Kerana memisahkan minat dan kerjaya bukanlah definisi seorang aku.

Hai, 2019. Apa khabar? Aku masih bertatih dan tersasul dalam misal kata ditanyakan umurku (dan berharap topik itu berlalu begitu saja.) Entah kenapa manusia selalu meletakkan harapan pada sekian-sekian tempoh masa, sedangkan seharusnya difahami setiap individu adalah unik dengan sifatnya tersendiri yang tak mungkin dapat diolah dengan acuan dan template2 yang begitu keras dan plastik.

Acara yang aku tunggu-tunggu di awal tahun ini adalah Bengkel Sains Menulis Puisi anjuran Rumah Pena. Aku sudahpun menyelesaikan yurannya dan alasan-alasan counterback jika ditanyakan mengapa aku mahu pergi. Dan benar sekali telahanku, ada yang bertanya kenapa aku mahu pergi. Adakah aku tidak lagi berminat menjadi tabib dan mahu menghabiskan sepenuh masa aku dengan dakwat dan kertas-kertas kumal?

Bagiku adalah sangat tidak adil untuk menidakkan minat seseorang. Menulis adalah coping system, jalan keluarku ketika aku temui jalan buntu. Bermula dari esei2 yang diminta ayah setiap kali kami berjalan-jalan, kepada diari-diari waktu sekolah rendah, ke buku-buku contenganku, blog dan masih lagi berblog sehingga kini. Aku menemui tenang dalam bau-bauan buku2 lama dan lontaran tinta pen-pen mata bulat. Aku suka mengamati tulisan tangan manusia, bagiku tiap lengkuk tulisan mewakili rasa dan peribadi penulis itu jua. Orang-orang buku selalu bersembunyi dalam diam lamunannya meladeni cerita. Begitu mistik dan menarik.

Jadi apa salahnya aku mengasah mata penaku?

Untuk secebis keberadaan. Untuk hela nafas yang lebih berkilau.

Kunantikan hujung minggu dengan sedepa angan dan kata-kata!