Tuan yang matanya cemerlang,
Berhenti meragut di padang hijau hatiku.
Kita tidak mungkin
Meski kau memangkin
Aku gelisahnya tak bertemu sudah
Bahkan semakin-makin
Hentikan, henti
Hendak ku cucuk saja bintang di matamu
Ku ratahkan jadi yong tau fu
Mengisi kelaparan jiwaku yang kau bakar selalu
Panas amarah ini bila kita tak jadi ketemu
Aku semakin ngilai dan ngilu
Basuhan puasa sedikit melegakan
Tapi kau tetap tak terlupakan
Sudahlah
Habisilah
Kisah kita takkan pernah sudah
Kerana sudah hampir patah
Tanganku merah, bertepuk sebelah.
No comments:
Post a Comment