Mata zahir dan mata jiwa
Kenapa kadang tidak sehala?
Mata zahirmu paling benderang
Besar terbuntang segala pandang
Nampak saja sampai ke zarah
Hirau apa undang amarah?
Mata jiwamu kelam gelita
Segala kisah terlantun sedepa
Tersirat semua engkau tak rasa
Lilin terpadam bungkam dunia
Lorong lurus perlu cahaya
Kedua mata sehala seiring
Tapi senget ke kiri neraca
Terus terperosok ke pinggir lereng
Peduli, peduli
Kilat dan cuci
Mata jiwamu biar berseri.
No comments:
Post a Comment